Mengenal Tan Malaka, Bapak Republik Indonesia
- 02 Jun 2024 17:41 WIB
- Singaraja
KBRN, Singaraja: Tanggal 2 Juni setiap tahunnya, di Indonesia, diperingati sebagai Hari Lahir Tan Malaka. Peringatan penting ini, disesuaikan dengan tanggal kelahirannya.
Lantas siapakah sosok Tan Malaka tersebut? Berikut informasi selengkapnya yang dirangkum dari beberapa sumber.
Ibrahim Datuk Tan Malaka, seorang tokoh Nasional Indonesia yang tak banyak dikenali masyarakat. Pahlawan Nasional satu ini, adalah orang pertama yang menulis tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dilansir dari Jurnal Petra Christian University dengan judul Merepresentasikan Secara Visual, pria kelahiran Sumatera Barat itu ternyata juga memiliki jasa yang luar biasa dalam melawan kolonialisme di Indonesia. Oleh sebab itu, pada tahun 1963, melalui Keputusan Presiden No. 53 Tahun 1963, pemerintah secara resmi mengangkat sosok Tan Malaka sebagai pahlawan kemerdekaan, untuk mengenang dan menghargai perjuangan Tan Malaka.
Tan Malaka lahir pada 2 Juni 1987 di Nagari Pandam Ganang, Gunuang Omeh, Sumatera Barat. Sejak kecil, pemilik nama Sutan Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka ini gemar dengan olahraga pencak silat serta mempelajari ilmu agama.
Tan Malaka menghabiskan masa remajanya di Kweekschool, yakni sekolah guru negara di Fort de Knock. Pada tahun 1913, pria bergelar datuk ini melanjutkan pendidikannya di Rijkskweekschool atau sekolah pendidikan guru pemerintah di Belanda.
Selama kuliah, Tan Malaka semakin memahami arti revolusi. Dia pun semakin tertarik untuk mempelajari paham Sosialisme dan Komunisme. Dia juga mulai membaca buku karya Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin.
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Tan Malaka kembali ke Tanah Air dan mengajar anak-anak kuli di perkebunan teh Sanembah, Sumatera Utara. Selama mengajar, Dia semakin menyadari segala penderitaan yang dialami oleh kaum pribumi di Sumatra.
Hingga akhirnya, Tan Malaka menulis karya “Tanah Orang Miskin” di Het Vrije Woord edisi Maret 1920 yang mengisahkan perbedaan kaum kapitalis dan pekerja. Tan Malaka juga bergabung dengan Indische Social Democratische Vereegniging (ISDV) yang menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI).
Tan Malaka juga sempat menuliskan buku bertajuk Naar de Republiek Indonesia yang berisi konsep bangsa Indonesia dan perjuangan kemerdekaan Hindia Belanda dari kolonialisme. Karena itulah, ia disebut sebagai Bapak Republik Indonesia.
Semasa hidupnya, Tan Malaka sering menjadi buronan Belanda. Karena itulah, keberadaannya sangat misterius. Dirinya juga dikenal sering menyamar untuk menyembunyikan identitas.
Pada Febuari 1949, Tan Malaka dan pengikutnya ditangkap di Kediri, Jawa Timur. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa dirinya dieksekusi dengan cara ditembak.
Selama puluhan tahun makamnya tidak diketahui. Hingga akhirnya, seorang peneliti Belanda, Herry Poeze menemukannya di kaki Gunung Wilis, Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....