Hari Anak Nasional 2026, Kampanye 1.000 Hati Suarakan Hak Anak
- 23 Jul 2026 12:51 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Jakarta – Yayasan Rumah Lam Horas bersama Lam Horas Film menggelar kampanye bertajuk "1000 Hati untuk Anak-anak yang Terdampak Pemenjaraan Orang Tua" di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta beberapa waktu lalu dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026. Sebanyak 1.000 flyer berbentuk hati habis dibagikan kepada masyarakat dalam waktu kurang dari dua jam.
Kampanye yang berlangsung di kawasan FX Sudirman hingga Gelora Bung Karno (GBK) itu melibatkan sembilan relawan. Selain membagikan flyer, para relawan juga mengajak masyarakat berdialog mengenai kondisi anak-anak yang terdampak pemenjaraan orang tua serta pentingnya menghapus stigma terhadap mereka.
Ketua Yayasan Rumah Lam Horas sekaligus Sutradara film Invisible Hopes, Lamtiar Simorangkir, mengatakan masih banyak masyarakat yang belum mengetahui adanya anak-anak yang lahir dan dibesarkan di dalam lembaga pemasyarakatan karena ibunya sedang menjalani masa pidana. Selain itu, terdapat pula anak-anak yang harus menjalani masa tumbuh kembang tanpa kehadiran ayah atau ibu yang sedang menjalani hukuman.
| Baca juga: Tema Hari Anak Nasional 2026 |
"Seorang anak tidak pernah memilih di mana ia dilahirkan ataupun siapa orang tuanya. Namun, setiap anak berhak tumbuh dengan kasih sayang, perlindungan, dan harapan. Kampanye ini mengajak masyarakat melihat mereka sebagai anak-anak yang membutuhkan dukungan, bukan sebagai bagian dari kesalahan orang tuanya," ujar Lamtiar.
Menurutnya, anak-anak tersebut tetap memiliki hak untuk memperoleh kasih sayang, perlindungan, pendidikan, kesempatan bermain, serta tumbuh dan berkembang secara optimal sebagaimana anak-anak lainnya. Namun, mereka kerap menghadapi stigma sosial, keterbatasan bertemu orang tua, hingga tekanan emosional yang dapat memengaruhi perkembangan mereka.
Kampanye "1000 Hati" merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Yayasan Rumah Lam Horas dan Lam Horas Film dalam mendorong pemenuhan hak-hak anak yang terdampak pemenjaraan. Upaya tersebut berawal dari produksi film Invisible Hopes yang dirilis pada 2021 dan mengangkat kisah anak-anak yang lahir serta dibesarkan di dalam lembaga pemasyarakatan bersama narapidana perempuan hamil. Film tersebut meraih Piala Citra Festival Film Indonesia 2021 dan menjadi awal berbagai kegiatan edukasi publik, impact campaign, serta advokasi yang terus dilakukan hingga kini.
| Baca juga: Peringatan 23 Juli: Hari Anak Nasional |
Dalam kampanye ini, flyer berbentuk hati dipilih sebagai simbol kasih sayang dan kepedulian terhadap anak-anak yang kerap luput dari perhatian. Setiap flyer memuat informasi singkat mengenai kondisi mereka beserta pesan reflektif untuk membangun empati masyarakat.

Selama kegiatan berlangsung, banyak pengunjung CFD mengaku baru mengetahui bahwa terdapat anak-anak yang lahir dan mengawali kehidupannya di dalam lembaga pemasyarakatan. Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya pengunjung yang bersedia berdialog dengan relawan dan menyampaikan dukungan terhadap pemenuhan hak-hak anak yang terdampak pemenjaraan orang tua.
Salah seorang pengunjung CFD mengaku tersentuh setelah mengetahui kondisi anak-anak tersebut.
"Saya sebagai seorang ibu dan juga nenek merasa anak-anak butuh sekali ada yang melindungi, memberikan rasa aman, serta menumbuhkan rasa percaya diri agar mereka bisa tumbuh dan berkembang dengan baik," ujarnya.
Pengunjung lainnya mengaku baru mengetahui adanya anak yang lahir di dalam lembaga pemasyarakatan.
"Ada anak yang lahir di penjara? Saya baru tahu. Semoga semakin banyak masyarakat yang peduli dan anak-anak itu tetap mendapatkan hak-haknya," katanya.
Melalui momentum Hari Anak Nasional 2026, Yayasan Rumah Lam Horas mengajak masyarakat, pemerintah, lembaga pemasyarakatan, akademisi, media, organisasi masyarakat sipil, serta berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama memastikan setiap anak tetap memperoleh haknya tanpa dibebani konsekuensi dari perbuatan orang tuanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....