Indonesia Siap Jadi Pusat Teknologi Kebencanaan Global 2026

  • 30 Apr 2026 10:55 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Jakarta – Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi penyedia teknologi kebencanaan di tingkat global. Hal ini seiring dengan posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan rawan bencana, yang justru dapat menjadi kekuatan strategis nasional.

Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menegaskan perlunya perubahan paradigma dari sekadar konsumen teknologi menjadi pencipta teknologi, khususnya di bidang kebencanaan.

Hal tersebut disampaikan dalam seminar nasional Road to ADEXCO 2026 bertema Implementasi Kemandirian Inovasi Teknologi dan Industrialisasi Kebencanaan yang digelar di Jakarta, Rabu (29/4).

“Kita hidup di atas cincin api, berada di jalur gempa, serta menghadapi banjir, longsor, kekeringan, dan perubahan iklim secara simultan,” ujar Febrian.

Ia menilai, kondisi tersebut tidak seharusnya membuat Indonesia bersikap reaktif. Selama ini, pola yang terjadi adalah menghitung kerugian setelah bencana, lalu membeli teknologi saat dibutuhkan.

“Ini bukan strategi, ini adalah siklus ketergantungan,” katanya.

Febrian menekankan, jika pola tersebut terus berlanjut, Indonesia akan tetap berada dalam posisi rentan, mahal, dan bergantung pada pihak lain. Oleh karena itu, ia mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk membangun kemandirian inovasi dan industrialisasi kebencanaan.

Menurutnya, Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi pusat pengembangan teknologi kebencanaan global.

“Kita punya kompleksitas risiko, laboratorium alam terbesar, serta kebutuhan riil yang mendesak. Dalam inovasi, kebutuhan mendesak adalah bahan bakar utama lahirnya teknologi,” ujarnya.

Ia optimistis, dengan pengelolaan yang tepat, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara tangguh bencana, tetapi juga pusat produksi dan ekspor teknologi kebencanaan dunia.

Dalam konteks perencanaan pembangunan nasional, Febrian menegaskan bahwa kebencanaan bukan sekadar isu sektoral, melainkan bagian dari transformasi menuju Indonesia Emas 2045.

“Kebencanaan harus menjadi inti pembangunan, terintegrasi dari pusat hingga daerah. Inovasi harus menjadi mesin industri, dan negara harus hadir membangun ekosistem,” ucapnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Raditya Jati, menyampaikan bahwa industrialisasi dan hilirisasi merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Ia berharap Indonesia yang rawan bencana dapat bertransformasi menjadi pusat inovasi teknologi kebencanaan.

“Kita harus mampu memiliki kemandirian inovasi teknologi kebencanaan agar masyarakat lebih siap menghadapi ancaman bencana,” ujarnya.

Direktur Operasional ADEXCO, Andrian Cader, menambahkan bahwa seminar ini mempertemukan pemerintah, industri, dan inovator, baik dari dalam maupun luar negeri.

Menurutnya, inovasi teknologi harus didukung ekosistem terintegrasi, mulai dari riset hingga industri.

“Riset harus menjawab kebutuhan industri, dan industri harus terlibat sejak awal proses inovasi,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya memastikan inovasi tidak berhenti pada tahap prototipe, melainkan dapat diproduksi massal dan dimanfaatkan secara nyata, dengan dukungan pembiayaan dan investasi.

Sebagai informasi, ADEXCO (Asia Disaster Management and Civil Protection Expo and Conference) merupakan platform internasional yang diselenggarakan di Indonesia sebagai wadah kolaborasi global di bidang kebencanaan.

Puncak kegiatan ADEXCO 2026 akan digelar dalam bentuk pameran dan konferensi pada 9–12 September 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....