Mengenal RA Kartini di Hari Peringatannya

  • 21 Apr 2026 14:59 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja- Tanggal 21 April setiap tahun di Indonesia diperingati sebagai Hari Kartini. Peringatan in bertujuan untuk menghormati perjuangan Raden Ajeng (RA) Kartini dalam mewujudkan kesetaraan gender khususnya dalam bidang pendidikan dan secara umum di semua bidang.

Merujuk laman resmi Kemendikbud, Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat (R.A. Kartini), lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879. Ayahnya adalah Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai Bupati Jepara.

Silsilah keluarga Kartini dari garis keturunan ayahnya, merupakan keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono VI bahkan jika ditelusuri ke atas merupakan keturunan dari Kerajaan Majapahit. Namun sang Ibu, M.A. Ngasirah, bukan berasal dari keturunan bangsawan melainkan hanya rakyat biasa, anak seorang kiai atau guru agama di Telukawur, Jepara.

R.A Kartini mendapat pendidikan karena mewarisi darah bangsawan dari ayahnya. Dia disekolahkan di ELS (Europese Lagere School) hingga usia 12 tahun sambil mempelajari berbagai hal termasuk bahasa Belanda.

Kala itu ada kebiasaan yang turun-temurun dilakukan. Anak perempuan yang sudah berusia 12 tahun harus tinggal di rumah untuk dipingit.

Dalam keadaan dipingit, keinginan belajar R.A Kartini tak serta-merta surut. Kemampuan bahasa Belanda yang dimilikinya dimanfaatkan untuk membaca buku dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda, salah satu yang sering dijadikan kawan bercerita yakni Rosa Abendanon.

Dari komunikasinya dengan Abendanon muncul ketertarikan untuk berpikir maju seperti perempuan Eropa. Dia ingin memajukan perempuan pribumi yang saat itu banyak dibatasi oleh adat istiadat kuno.

Pengetahuan Kartini terkait ilmu pengetahuan dan kebudayaan juga cukup luas. Pada tanggal 12 November 1903, Kartini dinikahkan dengan Bupati Rembang bernama KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang sudah pernah mempunyai 3 istri.

Setelah menikah, sang suami mendukung penuh mimpi-mimpi Kartini, salah satunya untuk membangun sebuah sekolah khusus wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang. Pada tanggal 13 September 1904, Kartini melahirkan seorang putra bernama Soesalit Djojoadhiningrat.

Hanya berselang empat hari usai melahirkan, Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904. RA Kartini meninggal dunia pada usia 25 tahun dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Setelah kematiannya, surat-surat Kartini dikumpulkan dan diterbitkan dalam sebuah buku berjudul 'Door Duisternis tot Licht' atau Habis Gelap Terbitlah Terang oleh salah satu temanya di Belanda, Mr JH Abendanon, yang saat itu menjabat Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku ini diterbitkan pada 1911 dengan bahasa Belanda sehingga tak banyak warga pribumi yang bisa membacanya.

Kemudian pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan versi terjemahan buku Habis Gelap Terbitlah Terang: Buat Pikiran dengan bahasa Melayu. Dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia No 108 Tahun 1964, pada tanggal 2 Mei 1964, Presiden Ir. Sukarno menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Sukarno juga menetapkan hari lahir Kartini, 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini hingga saat ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....