Mengenal Sosok RA Kartini di Hari Peringatannya
- 21 Apr 2025 07:52 WIB
- Singaraja
KBRN, Singaraja: Setiap tahun pada tanggal 21 April di Indonesia diperingati sebagai Hari Kartini. Peringatan ini bermakna perjuangan dalam memperjuangkan emansipasi wanita.
Selain itu juga untuk mengenang sosok R A Kartini. Berikut adalah profil singkat RA Kartini yang dilansir dari buku RA Kartini karya Tashadi.
Kartini adalah anak kelima dari sebelas bersaudara yang lahir dari pasangan Sosroningrat dan Ngasirah. Sejak kecil, dia dikenal sebagai anak yang aktif, ceria, serta tak bisa diam.
Hal itulah yang membuat keluarganya sering memanggilnya 'Trinil' yakni seekor burung kecil lincah. Julukan itu menggambarkan semangat maupun gerak cepat yang menjadi ciri khas Kartini sejak dini.
Pada tahun 1885, Kartini sempat menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) yakni sekolah dasar khusus bagi anak-anak dari kalangan pejabat pribumi. Tetapi sayang, dia harus berhenti sekolah karena ayahnya meminta Kartini mengikuti tradisi sebagai perempuan bangsawan.
Walaupun menjalani masa pingitan, namun semangat Kartini untuk belajar tak pernah surut. Dia mengisi hari-harinya dengan membaca buku-buku pengetahuan serta mulai tertarik pada pemikiran tentang kemajuan perempuan Eropa.
Pemikiran itu lantas membentuk tekad kuat dalam dirinya untuk memperjuangkan pendidikan serta hak perempuan di Indonesia. Kartini juga mengajak perempuan-perempuan di sekitarnya untuk belajar menulis dan memperluas wawasan.
Dia pun mempunyai cita-cita mendirikan sekolah khusus perempuan supaya mereka dapat memperoleh pendidikan layak. Saat menikah dengan Bupati Rembang, Jayadiningrat, sang suami mendukung penuh perjuangan maupun gagasan-gagasan Kartini.
Kartini gemar menulis sejak remaja, utamanya melalui surat-surat yang dikirimkan untuk para sahabatnya. Surat-surat itu menjadi wadah bagi Kartini menyampaikan ide serta cita-citanya tentang perempuan dan masa depan.
Surat-surat itu lantas dikumpulkan oleh seorang pejabat Hindia Belanda bernama J.H. Abendanon. Selanjutnya pada tahun 1911, kumpulan surat tersebut diterbitkan dengan judul Door Duisternis tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang.
Kartini wafat empat hari setelah melahirkan anak pertamanya yakni pada tanggal 17 September 1904. Dia dikenang sebagai tokoh pelopor emansipasi perempuan yang pemikirannya tetap relevan sampai hari ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....