Intip Rahasia Nastar Lembut dan Lumer di Mulut

  • 22 Sep 2026 12:11 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Siapa yang tidak mengenal nastar? Kue kering berbentuk bulat kecil berwarna kuning keemasan dengan isian selai nanas ini hampir tidak pernah absen menghiasi meja tamu masyarakat Indonesia saat perayaan hari besar, khususnya Hari Raya Idul Fitri.

Kehadirannya seolah menjadi simbol kehangatan dan kebersamaan keluarga. Namun, di balik kelezatan rasanya yang manis dan gurih, nastar menyimpan sejarah panjang akulturasi budaya yang menarik untuk dikulik.

Meski kini sangat identik dengan tradisi orisinil Indonesia, nastar sebenarnya merupakan kue warisan dari masa kolonial Belanda. Secara etimologis, nama nastar berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Belanda, yaitu ananas yang berarti nanas dan taartjes yang berarti kue tart kecil.

Resep awal nastar terinspirasi dari kue pai atau tart Eropa yang biasanya diisi dengan buah-buahan subtropis seperti apel, stroberi, atau blueberry. Ketika orang-orang Belanda menetap di Nusantara, mereka kesulitan menemukan buah-buahan tersebut dalam kondisi segar.

Sebagai solusinya, mereka memanfaatkan buah nanas, buah tropis lokal yang melimpah dan memiliki perpaduan rasa asam-manis yang serupa. Kue pai besar tersebut kemudian dimodifikasi menjadi bulatan-bulatan kecil agar lebih praktis disajikan dan disantap dalam sekali gigit.

Pada masa penjajahan, nastar termasuk kuliner mewah yang hanya bisa dinikmati oleh kaum bangsawan dan kaum priayi pada momen-momen hantaran spesial. Seiring berjalannya waktu, resep ini menyebar ke masyarakat luas dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya lokal.

Bagi masyarakat Indonesia, menyajikan nastar saat Lebaran merupakan bentuk penghormatan dan keramahan dalam menyambut silaturahmi sanak saudara. Menariknya, nastar tidak hanya populer saat Idul Fitri.

Dalam tradisi masyarakat Tionghoa saat merayakan Tahun Baru Imlek, nastar disebut sebagai Ong Lai yang berarti buah pir emas. Warna kuningnya yang berkilau serta rasanya yang manis melambangkan kemakmuran, rezeki yang manis, dan keberuntungan yang melimpah di tahun yang baru.

Membuat nastar yang sempurna memerlukan ketelatenan tersendiri. Nastar yang sukses biasanya memiliki tekstur kulit yang renyah namun langsung lumer saat digigit, dipadukan dengan selai nanas yang legit dan tidak terlalu basah. Berikut adalah beberapa komponen utama dalam pembuatan nastar yang berkualitas:

1. Adonan Kulit yang Pas

Kombinasi mentega (butter) berkualitas tinggi dan margarin menjadi kunci utama aroma harum dan kelembutan nastar. Pengocokan mentega dan gula halus tidak boleh terlalu lama agar adonan tidak melebar atau retak saat dipanggang.

2. Selai Nanas yang Legit

Nanas yang digunakan sebaiknya adalah nanas yang sudah tua karena memiliki kadar gula alami yang tinggi. Proses memasak selai harus dilakukan dengan api kecil hingga teksturnya mengental, kesat, dan berwarna kecokelatan agar kue tidak mudah berjamur.

3. Olesan Kuning Telur yang Mengkilap

Untuk mendapatkan tampilan atas yang kuning berkilau (glowing) permukaan nastar diolesi dengan campuran kuning telur dan sedikit minyak sayur atau susu cair setelah kue setengah matang.

Nastar lebih dari sekadar camilan manis di hari raya. Ia adalah bukti nyata bagaimana sebuah resep dari belahan dunia lain dapat beradaptasi dengan kekayaan alam tropis, berasimilasi dengan tradisi lokal, hingga akhirnya bertransformasi menjadi salah satu ikon kuliner paling dicintai di Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....