Menjelajah Rasa dari Ekosistem Mangrove Desa Budeng

  • 26 Jan 2026 09:36 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Jembrana - Jika berkunjung ke Bali Barat, sempatkanlah menepi sejenak ke Desa Budeng, Jembrana, Bali. Terkenal dengan kawasan Hutan Mangrove yang asri, desa ini kini mulai dilirik sebagai destinasi kuliner bagi mereka yang mencari cita rasa lokal yang jujur dan segar.

Karena lokasinya yang didominasi oleh ekosistem payau, menu andalan di Desa Budeng adalah Kerang dan Kepiting Bakau. Berbeda dengan kepiting laut biasa, kepiting di sini memiliki tekstur daging yang lebih padat dan rasa manis alami yang kuat.

Hidangan kepiting bumbu kare di Desa Budeng, Jembrana, Bali (Foto: RRI/Ratih)

Kepiting biasanya dimasak dengan bumbu Basa Genep (bumbu lengkap khas Bali). Selain kepiting, udang hasil tambak maupun hasil tangkapan lokal juga menjadi menu favorit, sering disajikan dengan bumbu pedas manis atau dengan bumbu kare.

Selain olahan Kepiting Bakau dan Udang, Kerang Nyatnyat, tak kalah populer, dimasak dengan bumbu Base Genep (bumbu lengkap khas Bali) hingga airnya menyusut (nyatnyat).Tekstur kerang yang kenyal namun lembut, dengan bumbu yang meresap hingga ke dalam cangkang merupakan perpaduan antara pedas, gurih, dan aroma kencur yang segar.

Pemandangan Hutan Mangrove di Desa Budeng, Jembrana, Bali (Foto: RRI/Ratih)

Sayur Alor atau Alur yakni salah satu tanaman yang hanya bisa ditemui di pesisir pantai, diolah menjadi urap dengan cita rasa gurih, pedas, dan segar, tekstur daun renyah, dengan campuran kelapa parut bakar, dan aroma kencur yang kuat, menjadi incaran penikmat kuliner karena sulit dicari dan dibudidaya. Kini, urap Alor menjadi hidangan yang dicari orang-orang yang berkunjung ke desa, bersama dengan hidangan lain seperti kepiting, udang, kerang dan ikan yang dihasilkan dari ekosistem Mangrove di Budeng.

Selain kuliner, pemandangan mangrove atau hutan bakaunya yang asri, menjadi daya tarik tersendiri. Hutan Mangrove di Desa Budeng, Jembrana, Bali, merupakan kawasan konservasi yang dikeloladan dikembangkan oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Merta. Area ini difokuskan pada ekowisata (Warung Mangrove), hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti teh jeruju, dan silvofishery atau Wanamina (budidaya kepiting bakau) untuk menjaga kelestarian mangrove. (RRI/Ratih)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....