Bulu Unta, Material Alami untuk Selimut yang Hangat dan Nyaman

  • 04 Agt 2026 10:02 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Bulu unta merupakan serat alami yang berasal dari unta Bactrian (Camelus bactrianus), spesies unta berpunuk dua yang hidup di wilayah beriklim dingin seperti Mongolia, Tiongkok, dan kawasan Asia Tengah.

Bulu unta terdiri atas dua lapisan. Lapisan luar berupa rambut kasar (coarse hair) yang kuat dan umumnya dimanfaatkan sebagai bahan karpet atau produk industri. Sementara itu, lapisan dalam atau down (undercoat) memiliki serat yang lebih halus, lembut, ringan, dan memiliki kemampuan isolasi panas yang baik. Lapisan inilah yang menjadi bahan utama pembuatan selimut dan produk tekstil premium.

Bulu unta umumnya dikumpulkan saat musim pergantian bulu (molting), ketika bulu rontok secara alami. Metode ini dinilai lebih ramah lingkungan dan memperhatikan kesejahteraan hewan dibandingkan proses pencukuran secara intensif.

Selimut berbahan bulu unta dikenal memiliki sejumlah keunggulan. Struktur seratnya yang berongga mampu memerangkap udara sehingga memberikan kehangatan yang baik dengan bobot yang relatif ringan. Karakteristik ini membuat selimut tetap nyaman digunakan tanpa terasa berat.

Selain itu, serat bulu unta memiliki kemampuan menyerap dan melepaskan kelembapan dengan baik sehingga membantu menjaga kenyamanan saat digunakan. Sifat tersebut membuat selimut terasa hangat ketika cuaca dingin sekaligus tetap nyaman di lingkungan bersuhu sedang.

Dibandingkan wol domba, serat halus bulu unta umumnya terasa lebih lembut di kulit. Kandungan lanolinnya juga jauh lebih rendah dibandingkan wol domba sehingga dapat menjadi pilihan bagi sebagian orang yang sensitif terhadap lanolin. Namun, orang yang memiliki alergi terhadap serat hewan tetap perlu berhati-hati sebelum menggunakannya.

Bulu unta juga dikenal memiliki daya tahan yang baik. Dengan perawatan yang tepat, selimut berbahan bulu unta dapat digunakan selama bertahun-tahun tanpa mudah kehilangan bentuk maupun kemampuan isolasinya.

Meski demikian, selimut bulu unta memiliki beberapa kekurangan. Harganya umumnya lebih tinggi dibandingkan selimut berbahan wol biasa maupun serat sintetis. Perawatannya juga memerlukan perhatian khusus, seperti mengikuti petunjuk pencucian dari produsen dan menghindari suhu tinggi yang dapat merusak serat. Penyimpanan yang kurang tepat juga berisiko mengundang ngengat.

Jika dibandingkan dengan wol domba, bulu unta cenderung lebih ringan, lebih lembut, dan memiliki kemampuan mengatur kelembapan yang baik. Sementara dibandingkan selimut berbahan bulu angsa (down), bulu unta dinilai lebih tahan lama, meski bulu angsa umumnya memberikan sensasi yang lebih mengembang dan empuk.

Di pasaran, selimut bulu unta tersedia dalam bentuk quilt dengan isian bulu maupun kain tenun. Bagi konsumen yang menginginkan kualitas terbaik, disarankan memilih produk dengan bahan 100 persen camel down dari produsen tepercaya serta memastikan informasi komposisi bahan pada label produk.

Perlu diketahui, sejumlah manfaat kesehatan yang sering dikaitkan dengan bulu unta, seperti melancarkan sirkulasi darah atau meredakan nyeri sendi, hingga kini masih didasarkan pada penggunaan tradisional dan belum didukung bukti ilmiah yang kuat melalui penelitian klinis. Karena itu, selimut bulu unta sebaiknya dipilih berdasarkan kenyamanan, kualitas material, dan daya tahannya, bukan sebagai alat terapi medis.

(RRI/Dewa Arta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....