Dokter Ingatkan Hepatitis B dan C Dapat Berujung Sirosis hingga Kanker Hati
- 31 Jul 2026 20:37 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Hepatitis B dan C tanpa penanganan dapat berkembang menjadi penyakit hati kronis, sirosis, dan kanker hati.
- Perjalanan penyakit hepatitis berlangsung secara perlahan sehingga banyak penderita tidak menyadari telah terinfeksi.
- Dialog Indonesia Sehat digelar oleh Pro 1 RRI Singaraja dengan pembicara Dr. Spesialis Penyakit Dalam dr. Made Widiastika untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hepatitis.
RRI.CO.ID, Singaraja - Hepatitis B dan hepatitis C yang tidak mendapatkan penanganan secara tepat berpotensi berkembang menjadi penyakit hati kronis, sirosis, bahkan kanker hati. Karena sering tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, penyakit ini kerap disebut sebagai silent killer atau pembunuh senyap. Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Made Widiastika, Sp.PD., FINASIM dalam Dialog Indonesia Sehat bertajuk "Hepatitis: Let's Break It Down" yang disiarkan Pro 1 RRI Singaraja, Jumat, 31 Juli 2026, dari Studio Pro 1 RRI Singaraja.
Dalam dialog tersebut, dr. Made menjelaskan bahwa hepatitis merupakan peradangan pada organ hati yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik virus maupun non-virus. Namun, hepatitis akibat virus, khususnya hepatitis B dan C, masih menjadi perhatian dunia karena berpotensi menimbulkan komplikasi serius apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Menurutnya, perjalanan penyakit hepatitis B dan C berlangsung secara perlahan. Pada fase awal atau fase akut, sebagian penderita hanya mengalami gejala ringan seperti demam, mual, nyeri pada perut kanan atas, hilang nafsu makan, hingga mata dan kulit menguning. Bahkan tidak sedikit penderita yang sama sekali tidak merasakan gejala sehingga infeksi berlangsung selama bertahun-tahun tanpa disadari.
"Jika hepatitis B maupun C tidak ditangani dengan baik, penyakit dapat berkembang menjadi sirosis hati bahkan kanker hati. Itulah mengapa hepatitis sering disebut sebagai silent killer, karena banyak pasien tidak mengetahui dirinya terinfeksi sampai terjadi kerusakan hati yang berat," jelas dr. Made.
Ia menerangkan, sebagian besar infeksi akut memang dapat sembuh dengan bantuan sistem kekebalan tubuh. Namun, pada sebagian penderita, virus tetap bertahan di dalam tubuh dan berkembang menjadi infeksi kronis. Kondisi tersebut dapat berlangsung selama lima hingga sepuluh tahun, bahkan lebih lama, sebelum akhirnya menimbulkan sirosis atau kanker hati.
Selain menekankan pentingnya pengobatan bagi penderita hepatitis, dr. Made juga mengingatkan bahwa upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi angka kasus hepatitis di Indonesia. Pencegahan dapat dilakukan melalui vaksinasi hepatitis B, menghindari penggunaan jarum suntik secara bergantian, menerapkan hubungan seksual yang aman, menjaga kebersihan saat menangani luka, serta menerapkan pola hidup sehat.
"Imunisasi hepatitis B memiliki efektivitas yang sangat tinggi dalam mencegah infeksi kronis. Selain itu, masyarakat perlu menghindari perilaku berisiko, menjaga kesehatan hati, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala agar penyakit dapat dideteksi lebih awal," katanya.
Lebih lanjut, ia mengimbau masyarakat yang memiliki faktor risiko, seperti tenaga kesehatan, ibu hamil, penerima transfusi darah sebelum tahun 1992, maupun mereka yang pernah menggunakan jarum suntik tidak steril, untuk segera melakukan skrining melalui pemeriksaan laboratorium, seperti HBsAg dan Anti-HCV. Menurutnya, deteksi dini akan memberikan peluang lebih besar untuk mencegah komplikasi dan meningkatkan keberhasilan pengobatan.
Di akhir dialog, dr. Made mengajak masyarakat agar tidak takut melakukan pemeriksaan apabila merasa berisiko atau mengalami keluhan yang mengarah pada hepatitis. Ia menegaskan bahwa akses pemeriksaan dan pengobatan hepatitis saat ini semakin mudah, bahkan telah ditanggung oleh BPJS Kesehatan untuk indikasi tertentu. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan angka kejadian hepatitis beserta komplikasinya dapat terus ditekan melalui deteksi dini, pencegahan, dan pengobatan yang tepat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....