Main Character Syndrome atau Impostor Syndrome? Kenali Perbedaannya
- 31 Jul 2026 20:25 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Cara seseorang memandang dirinya sendiri dapat memengaruhi pola pikir, hubungan sosial, hingga kesehatan mental. Dalam program Pos Jaga (Pengen Ngobrol Sambil Jaga Malam) Pro 2 RRI Singaraja, Kamis 30 Juli 2026, narasumber Putu Raditya Siwa Abhirama Putra, S.Psi atau akrab disapa Radit, mengajak pendengar mengenali dua fenomena psikologis yang kerap dialami anak muda, yakni Main Character Syndrome dan Impostor Syndrome.
Menurut Putu Raditya Siwa Abhirama Putra, kedua kondisi tersebut berada di sisi yang berbeda. Seseorang dengan Main Character Syndrome cenderung merasa dirinya menjadi pusat dari berbagai situasi, sedangkan Impostor Syndrome justru membuat seseorang sulit mengakui kemampuan yang dimilikinya.
"Main Character Syndrome adalah kecenderungan seseorang melihat dirinya sebagai tokoh utama dalam setiap situasi dan merasa banyak hal berpusat pada dirinya. Sementara Impostor Syndrome adalah kondisi ketika seseorang meragukan kemampuan atau pencapaiannya sendiri meskipun sebenarnya memiliki kompetensi yang baik," jelas Radit
Ia menjelaskan bahwa Main Character Syndrome tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan psikologis. Dalam batas tertentu, memiliki rasa percaya diri merupakan hal yang positif. Namun, apabila seseorang mulai merasa semua perhatian harus tertuju kepadanya dan mengabaikan perasaan maupun kebutuhan orang lain, kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas hubungan sosial.
Di sisi lain, Impostor Syndrome sering dialami oleh individu yang sebenarnya memiliki prestasi dan kemampuan baik, tetapi tetap merasa dirinya tidak cukup layak. Akibatnya, mereka mudah merasa cemas, takut gagal, bahkan menganggap keberhasilan yang diraih hanyalah faktor keberuntungan, bukan hasil kerja keras sendiri.
Melalui obrolan tersebut, Putu Raditya mengingatkan pentingnya memiliki pandangan yang seimbang terhadap diri sendiri. Kepercayaan diri perlu dibangun tanpa merasa lebih unggul dari orang lain, sementara kerendahan hati juga tidak boleh berubah menjadi keraguan berlebihan terhadap kemampuan diri.
Program ini menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Mengenali potensi, menerima kekurangan, serta menghargai pencapaian diri secara realistis merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental dan membangun hubungan sosial yang lebih sehat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....