Bukan Sekadar Ruam, Cacar Api Bisa Picu Nyeri Saraf hingga Gangguan Mata
- 28 Jul 2026 13:09 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Cacar api (herpes zoster) adalah penyakit yang disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster dan dapat menimbulkan komplikasi serius meskipun sering dianggap sebagai penyakit kulit biasa.
- Komplikasi paling dikhawatirkan dari cacar api adalah postherpetic neuralgia (nyeri saraf jangka panjang) yang dapat bertahan bahkan setelah ruam kulit menghilang.
- Nyeri akibat postherpetic neuralgia dapat berlangsung dalam waktu lama hingga bertahun-tahun pada sebagian penderita, memerlukan penanganan tepat untuk pencegahan.
RRI.CO.ID, Singaraja – Cacar api atau herpes zoster sering kali dianggap sebagai penyakit kulit biasa karena gejalanya dapat berupa ruam dan lepuhan pada permukaan kulit. Namun, penyakit yang disebabkan oleh reaktivasi virus varicella-zoster ini dapat menimbulkan komplikasi serius, terutama jika tidak ditangani dengan tepat.
Salah satu komplikasi yang paling dikhawatirkan adalah nyeri saraf jangka panjang atau postherpetic neuralgia. Kondisi tersebut dapat membuat rasa nyeri tetap bertahan meskipun ruam pada kulit sudah menghilang. Pada sebagian penderita, nyeri dapat berlangsung dalam waktu lama, bahkan hingga bertahun-tahun.
Cacar api juga dapat menyerang area di sekitar mata. Apabila infeksi mengenai saraf dan jaringan yang berhubungan dengan mata, kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan penglihatan dan komplikasi mata yang serius, bahkan berpotensi menyebabkan kebutaan.
Risiko cacar api juga tidak hanya berkaitan dengan usia. Sejumlah kondisi kesehatan dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalaminya. Materi edukasi kesehatan menyebutkan bahwa orang berusia 50 tahun ke atas memiliki risiko sekitar 65 persen lebih tinggi. Sementara itu, penyakit kardiovaskular dikaitkan dengan peningkatan risiko sekitar 34 persen dan penyakit ginjal sekitar 29 persen.
Faktor lain yang turut menjadi perhatian adalah stres. Dalam materi yang sama, stres dikaitkan dengan peningkatan risiko cacar api sekitar 47 persen.
Diabetes juga menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai. Orang dengan diabetes disebut memiliki risiko sekitar 1,38 kali lebih tinggi mengalami cacar api. Selain meningkatkan risiko terkena penyakit tersebut, penyandang diabetes juga lebih rentan mengalami nyeri saraf berkepanjangan setelah terkena cacar api.
Kemungkinan mendapatkan perawatan di rumah sakit akibat cacar api juga dilaporkan meningkat sekitar 63 persen pada penyandang diabetes. Hal ini menunjukkan pentingnya perhatian lebih terhadap pencegahan dan penanganan cacar api pada kelompok tersebut.
Masyarakat juga perlu mengetahui bahwa pernah mengalami cacar api bukan berarti seseorang menjadi kebal sepenuhnya. Cacar api dapat kembali terjadi karena virus varicella-zoster yang pernah berada di dalam tubuh dapat mengalami reaktivasi kembali.
Dengan demikian, anggapan bahwa seseorang tidak perlu lagi memikirkan cacar api setelah pernah mengalaminya merupakan pemahaman yang keliru. Pencegahan tetap penting, terutama bagi kelompok dengan risiko lebih tinggi.
Secara keseluruhan, sekitar satu dari tiga orang disebut berpotensi mengalami cacar api dalam hidupnya berdasarkan data Amerika Serikat. Namun, data tersebut tidak serta-merta menggambarkan angka kejadian di seluruh negara atau populasi dunia.
Masyarakat yang memiliki faktor risiko, termasuk diabetes, usia 50 tahun ke atas, penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, maupun kondisi lain yang dapat meningkatkan risiko, dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai langkah pencegahan yang tepat.
Selain menjaga kesehatan secara umum, vaksinasi juga dapat menjadi salah satu pilihan pencegahan yang dapat didiskusikan bersama tenaga kesehatan. Dengan mengenali faktor risiko dan komplikasinya sejak awal, cacar api diharapkan tidak lagi dianggap hanya sebagai masalah ruam kulit, tetapi sebagai kondisi kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....