Dukungan Keluarga Dinilai Kunci Cegah Baby Blues dan Bangun Keluarga Sehat
- 08 Jul 2026 09:05 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Dukungan keluarga, terutama suami, merupakan faktor utama dalam menjaga kesehatan mental ibu selama kehamilan hingga setelah melahirkan untuk mencegah baby blues dan depresi pascapersalinan.
- Bentuk dukungan emosional efektif dapat berupa membantu merawat bayi, memberikan kesempatan ibu beristirahat, dan menciptakan komunikasi baik dalam keluarga untuk mempercepat pemulihan ibu.
- Edukasi kepada remaja tentang kesiapan fisik, mental, dan ekonomi sebelum pernikahan sangat penting, disertai pemanfaatan layanan konseling dan pendampingan pranikah yang disediakan pemerintah untuk mencegah pernikahan usia dini.
RRI.CO.ID, Singaraja – Dukungan keluarga, khususnya dari suami dan orang-orang terdekat, menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga kesehatan mental ibu selama masa kehamilan hingga setelah melahirkan. Dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Anak Agung Putri Melastini menjelaskan bahwa banyak ibu mengalami perubahan emosional akibat fluktuasi hormon selama kehamilan maupun setelah persalinan. Kondisi tersebut merupakan hal yang wajar, namun apabila tidak mendapat dukungan yang memadai dapat berkembang menjadi baby blues bahkan depresi pascapersalinan.
Putri mengatakan, kelelahan fisik, tekanan psikologis, serta kurangnya perhatian dari lingkungan sekitar menjadi beberapa faktor yang dapat memperburuk kondisi ibu. Oleh sebab itu, keluarga diharapkan tidak hanya berfokus menyambut kelahiran bayi, tetapi juga memberikan perhatian kepada ibu yang baru menjalani proses persalinan.
"Apresiasi kepada ibu yang baru melahirkan sangat penting. Jangan hanya menyambut bayinya, tetapi pastikan ibunya juga merasa diperhatikan, didengar, dan didukung," ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa dukungan emosional mampu membantu mempercepat pemulihan ibu sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan mental. Bentuk dukungan tersebut dapat berupa membantu merawat bayi, memberi kesempatan ibu beristirahat, hingga menciptakan komunikasi yang baik dalam keluarga.
Selain itu, Putri juga menekankan pentingnya kemampuan perempuan dalam mengenali diri sendiri, mengelola emosi, serta berani mencari bantuan ketika menghadapi persoalan psikologis. Menurutnya, ibu yang mampu memahami kondisi dirinya akan lebih mudah menghadapi berbagai tantangan kehidupan berkeluarga.
Mengenai fenomena pernikahan usia dini yang masih terjadi di sejumlah daerah meskipun telah terdapat ketentuan batas minimal usia perkawinan. Putri menilai edukasi kepada remaja menjadi langkah penting agar setiap pasangan memiliki kesiapan fisik, mental, dan ekonomi sebelum membangun rumah tangga.
Ia menambahkan, berbagai layanan konseling, edukasi kesehatan reproduksi, hingga pendampingan pranikah yang telah disediakan pemerintah perlu dimanfaatkan masyarakat sebagai bekal memasuki kehidupan berkeluarga.
Masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa kesehatan ibu bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi memerlukan dukungan seluruh anggota keluarga. Dengan ibu yang sehat, bahagia, dan berdaya, kualitas pengasuhan anak pun akan semakin baik sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat dan berdaya saing.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....