Dinkes Buleleng Imbau Warga Jangan Panik namun Tetap Waspada Ancaman Virus Hanta

  • 11 Mei 2026 20:24 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng meminta masyarakat tetap tenang menyikapi isu penyebaran virus hanta yang belakangan menjadi perhatian dunia. Meski hingga kini belum ditemukan kasus di Buleleng, kewaspadaan dinilai penting untuk mencegah potensi penularan penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat tersebut.

Imbauan itu disampaikan menyusul meningkatnya perhatian terhadap virus hanta, termasuk setelah munculnya laporan wabah di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina dan menyebabkan tiga orang meninggal dunia. Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan RI telah memastikan dua kasus suspek terbaru di Jakarta dan Yogyakarta dinyatakan negatif, serta pasien telah sembuh.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Sucipto, menegaskan masyarakat tidak perlu panik menghadapi situasi tersebut. Namun demikian, warga diminta tidak mengabaikan ancaman penyakit yang dapat muncul apabila kebersihan lingkungan tidak dijaga dengan baik.

“Terkait merebaknya virus hanta di sejumlah tempat, kami mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit dengan menjaga kebersihan lingkungan, pengendalian tikus, serta menerapkan pola hidup sehat,” ujarnya, Senin 11 Mei 2026.

Menurut dr. Sucipto, virus hanta umumnya ditularkan melalui tikus, baik dari debu kotoran, urin, air liur, gigitan, maupun benda yang telah terkontaminasi. Karena itu, langkah pencegahan dini menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko penularan di lingkungan masyarakat.

Ia menjelaskan, virus hanta merupakan virus dari hewan pengerat yang dapat memicu penyakit serius pada manusia. Di antaranya adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dengan tingkat kematian mencapai 35 hingga 40 persen, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan tingkat kematian antara 5 hingga 15 persen.

“Gejala awal penyakit ini umumnya mirip flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, mual, muntah, hingga batuk. Masyarakat yang mengalami gejala tersebut dan memiliki riwayat kontak dengan tikus atau lingkungan kotor diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” ucap dr. Sucipto.

Selain mengenali gejala, masyarakat juga diminta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar. Menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta membuang sampah secara rutin menjadi langkah sederhana yang dinilai efektif menekan risiko penyebaran.

“Kebersihan lingkungan, pengendalian tikus, dan kewaspadaan masyarakat menjadi perlindungan utama dalam mencegah penyebaran virus hanta,” katanya.

Dinas Kesehatan juga mengingatkan warga agar menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus. Kotoran tersebut tidak dianjurkan dibersihkan dalam kondisi kering, melainkan harus disemprot disinfektan atau air terlebih dahulu untuk mengurangi risiko partikel terhirup.

“Belum ada obat antivirus spesifik maupun vaksin yang tersedia luas untuk virus hanta. Penanganan saat ini lebih bersifat suportif. Semakin cepat ditangani, maka peluang keselamatan pasien akan semakin besar,” tandas dr. Sucipto.

Dinas Kesehatan Buleleng berharap masyarakat tetap tenang, namun tidak lengah. Kewaspadaan sejak dini melalui kebersihan lingkungan dan pola hidup sehat dinilai menjadi langkah paling efektif untuk mencegah ancaman penyakit tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....