Liburan Keliling Indonesia Masih Jadi Kemewahan bagi Banyak Warga

  • 31 Agt 2026 13:14 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Keterbatasan pendapatan, minimnya waktu cuti, dan biaya transportasi mahal menjadi faktor utama yang menghalangi masyarakat Indonesia untuk menjelajahi destinasi wisata domestik.
  • Fenomena perbedaan akses wisata antara masyarakat lokal dan wisatawan asing menjadi perbincangan ramai di media sosial, khususnya terkait lamanya kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.
  • Promosi pariwisata Indonesia terus berkembang, namun belum sepenuhnya mampu mengatasi hambatan ekonomi yang dihadapi sebagian besar masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata.

RRI.CO.ID, Singaraja - Keinginan untuk menjelajahi keindahan Indonesia masih menjadi impian yang belum mudah diwujudkan bagi sebagian masyarakat. Di tengah promosi pariwisata yang terus berkembang, keterbatasan pendapatan, minimnya waktu cuti, hingga mahalnya biaya transportasi menjadi sejumlah faktor yang membuat liburan terasa sebagai sebuah kemewahan.

Fenomena tersebut ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah warganet menyoroti pemandangan wisatawan asing yang dapat menghabiskan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, untuk tinggal dan berkeliling di sejumlah destinasi Indonesia seperti Bali hingga Labuan Bajo.

Ironisnya, banyak masyarakat Indonesia justru belum memiliki kesempatan untuk mengunjungi berbagai destinasi wisata di negaranya sendiri.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah perbedaan kesempatan waktu istirahat antara pekerja di Indonesia dan sejumlah negara lain, khususnya di kawasan Eropa.

Data World Population Review tahun 2025 menunjukkan sejumlah negara Eropa memiliki jumlah hari libur berbayar yang relatif tinggi jika menggabungkan cuti tahunan dan hari libur nasional. Kondisi tersebut dinilai turut mendukung keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan atau work-life balance.

Sementara di Indonesia, pekerja pada umumnya memiliki hak cuti tahunan sekurang-kurangnya 12 hari kerja setelah memenuhi masa kerja tertentu sesuai ketentuan perundang-undangan.

Perbedaan waktu istirahat tersebut kemudian menjadi salah satu alasan mengapa sebagian pekerja memiliki ruang yang lebih besar untuk melakukan perjalanan, beristirahat, maupun mengembangkan minat di luar pekerjaan.

Namun, persoalan bagi masyarakat Indonesia tidak hanya berhenti pada keterbatasan waktu.

Kemampuan ekonomi juga menjadi faktor penting yang menentukan apakah seseorang dapat menikmati perjalanan wisata. Ketika sebagian besar pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya liburan kerap menjadi pengeluaran yang harus dikesampingkan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rata-rata upah pekerja di Indonesia masih berada pada kisaran beberapa juta rupiah per bulan. Sementara itu, Upah Minimum Provinsi (UMP) tertinggi juga memiliki nominal yang jauh berbeda jika dibandingkan dengan tingkat pendapatan pekerja di sejumlah negara maju.

Perbedaan pendapatan tersebut semakin terasa ketika masyarakat harus menghadapi biaya perjalanan domestik yang tidak selalu murah.

Harga tiket pesawat dalam negeri, misalnya, kerap menjadi keluhan masyarakat. Untuk sejumlah rute, biaya penerbangan antarwilayah bahkan dapat terasa lebih mahal dibandingkan perjalanan menuju negara lain yang memiliki rute internasional dengan persaingan maskapai lebih tinggi.

Sejumlah pengamat sebelumnya menilai tingginya harga tiket dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari biaya operasional maskapai, harga avtur, biaya perawatan, nilai tukar, hingga berbagai komponen pajak dan pungutan.

Akibatnya, perjalanan menuju destinasi wisata unggulan di dalam negeri masih membutuhkan anggaran yang cukup besar bagi sebagian masyarakat.

Kondisi tersebut menciptakan sebuah paradoks. Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan alam dan destinasi wisata yang menarik perhatian wisatawan dunia. Wisatawan asing bahkan rela menempuh perjalanan berjam-jam untuk menikmati pantai, pegunungan, hingga kekayaan budaya Indonesia.

Namun, bagi sebagian warga yang lahir dan tinggal di Indonesia, perjalanan menuju tempat-tempat tersebut belum tentu mudah dilakukan.

Keinginan untuk berlibur pun sering kali harus berbenturan dengan kebutuhan yang lebih mendesak. Pendapatan digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, transportasi, makanan, tempat tinggal, hingga berbagai kebutuhan lainnya.

Dalam situasi tersebut, liburan menjadi pilihan yang harus direncanakan jauh-jauh hari, bahkan terkadang terus ditunda.

Persoalan akses terhadap waktu luang dan kemampuan ekonomi ini kemudian menjadi pembicaraan yang lebih luas mengenai kualitas hidup pekerja Indonesia.

Liburan bukan hanya berkaitan dengan aktivitas bersenang-senang, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk beristirahat dari rutinitas dan tekanan pekerjaan.

Bagi sebagian masyarakat, memiliki kesempatan untuk melihat daerah lain, menikmati alam, atau sekadar mengambil waktu untuk berhenti dari rutinitas sehari-hari masih menjadi sesuatu yang tidak selalu mudah diwujudkan.

Indonesia memang memiliki banyak keindahan yang mampu menarik perhatian dunia. Namun, agar masyarakat dapat ikut menikmati kekayaan tersebut, persoalan daya beli, waktu istirahat, serta biaya perjalanan menjadi hal yang juga perlu mendapat perhatian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....