Undiksha Buka Konseling Gratis dan Dampingi Penggunaan Aplikasi Bali Sari
- 22 Agt 2026 13:08 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) memberikan pendampingan kepada orang tua dan siswa dalam penggunaan aplikasi Bali Sari. Sekaligus membuka layanan konseling gratis pada hari kedua rangkaian kegiatan "Smart Parenting Resilience Camp" oleh Pusat Studi Pengasuhan dan Resiliensi Undiksha pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut merupakan lanjutan dari program hari pertama yang memperkenalkan aplikasi Bali Sari serta menghadirkan talk show mengenai kesehatan mental. Pada hari kedua, peserta tidak hanya mendapatkan pendampingan penggunaan aplikasi, tetapi juga memiliki kesempatan berkonsultasi langsung dengan psikolog dan konselor.
Sekretaris Pusat Studi Pengasuhan dan Resiliensi Undiksha, Dewa Gede Firstia Wirabrata, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengatakan pendampingan diberikan untuk memastikan peserta memahami cara menggunakan aplikasi setelah sebelumnya mendapatkan pengenalan.

Menurutnya, peserta diajak menceritakan pengalaman mereka selama menggunakan Bali Sari. Jika masih mengalami kesulitan atau belum memahami fitur yang tersedia, tim akan memberikan penjelasan dan pendampingan kembali.
“Di hari kedua itu kita tanya bagaimana pengalaman mereka menggunakan aplikasi. Jadi kita tanya penggunaannya dan kalau masih belum bisa atau belum paham kita ajari lagi. Jadi itu yang kita sebut sebagai pendampingan,” ujar Dewa.
Selain pendampingan penggunaan aplikasi, peserta juga mendapatkan kesempatan memanfaatkan layanan konseling gratis yang disiapkan Pusat Studi Pengasuhan dan Resiliensi Undiksha.
| Baca juga: Buka PMB 2026, Undiksha Siapkan Ribuan Kuota |
Ketua Pusat Studi Pengasuhan dan Resiliensi Undiksha, Nice Maylani Asril, S.Psi., M.Psi., Ph.D., mengatakan layanan konseling tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan setelah peserta memperoleh informasi mengenai kesehatan mental dan resiliensi.
Menurut Nice, remaja saat ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk penggunaan gawai secara berlebihan, permainan daring, serta persoalan akademik dan nonakademik. Karena itu, peserta diberikan ruang untuk menyampaikan keluhan dan persoalan yang mereka hadapi kepada psikolog.
“Di hari ini kita akan memberikan kesempatan mereka untuk berkeluh kesah, melakukan konseling gratis dengan tim psikolog kami. Remaja bisa melakukan konseling secara bebas mengenai keluhan atau problem ataupun isu-isu yang mereka bawa selama ini, baik itu di bidang akademik dan nonakademik,” kata Nice.

Libatkan Psikolog dan Guru BK
Dewa menjelaskan, layanan konseling melibatkan psikolog dan konselor yang berada di lingkungan Pusat Studi Pengasuhan dan Resiliensi Undiksha. Peserta, khususnya orang tua yang memiliki anak remaja, juga dapat berkonsultasi mengenai persoalan pengasuhan.
Menurutnya, keberadaan layanan tersebut penting agar orang tua tidak harus menghadapi persoalan pengasuhan seorang diri.
“Mereka pun sebenarnya boleh bebas bertanya terkait masalah-masalah pengasuhan, apalagi punya anak remaja. Jadi boleh mereka bertanya, konseling gratis istilahnya, kepada ahlinya,” ujar Dewa.
Sementara Nice menegaskan, pendampingan tidak berhenti pada satu kali sesi konseling. Jika persoalan yang dihadapi membutuhkan penanganan lebih lanjut, peserta dapat memanfaatkan latihan-latihan dalam aplikasi Bali Sari maupun mendapatkan rujukan kepada guru bimbingan dan konseling atau BK di sekolah.
“Proses konseling ini enggak cuma satu hari saja, tapi juga bisa berkali-kali. Kami bisa rujuk ke guru konseling mereka yang ada di sekolah karena kami bekerja sama dengan guru BK,” jelas Nice.
Ia mengatakan, Undiksha juga mendorong penguatan layanan bimbingan dan konseling di Sekolah Laboratorium Undiksha. Program tersebut diharapkan menjadi langkah awal yang dapat dikembangkan sebagai model pendampingan bagi sekolah lainnya.

Sekolah Laboratorium Jadi Percontohan
Dewa mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan bagi siswa Sekolah Laboratorium Undiksha. Undangan dan informasi kegiatan telah disebarkan ke sekolah-sekolah di Kota Singaraja.
Namun, Sekolah Laboratorium Undiksha mendapat porsi lebih karena merupakan sister school atau sekolah mitra Undiksha.
Untuk rangkaian kegiatan yang telah berlangsung, jumlah peserta mencapai sekitar 300 orang yang terdiri atas siswa dan orang tua.
Ke depan, Pusat Studi Pengasuhan dan Resiliensi Undiksha juga menyiapkan sejumlah kegiatan lanjutan untuk memperkenalkan Bali Sari kepada masyarakat.
Di antaranya melalui kegiatan car free day di Singaraja serta pembuatan konten edukasi melalui media sosial Pusat Studi Pengasuhan dan Resiliensi Undiksha.
Sementara kegiatan utama dengan skala lebih besar direncanakan berlangsung pada November mendatang.
Melalui rangkaian program tersebut, Undiksha tidak hanya memperkenalkan inovasi digital berupa Bali Sari, tetapi juga membangun sistem pendampingan yang berkelanjutan bagi orang tua dan remaja.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memanfaatkan teknologi secara lebih positif sekaligus memperkuat kepedulian terhadap kesehatan mental, resiliensi, dan pola pengasuhan anak.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....