Parametrika Batik Buleleng: Teknologi Menjaga Tradisi Wastra Pacung

  • 20 Agt 2026 08:27 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Menjaga tradisi tidak selalu berarti mempertahankan cara lama. Di Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, teknologi justru dimanfaatkan untuk membantu perajin menjaga pengetahuan tentang motif sekaligus mengembangkan proses produksi yang lebih presisi. Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan “Parametrika Batik Buleleng: Generator Simetri Motif dan Paket Branding untuk Penenun Lokal Desa Pacung” bersama Surya Indigo Hand Weaving and Natural Dye, kelompok perajin yang mengembangkan kain tenun dengan pewarna alami

Kegiatan yang digelar Minggu 16 Agustus 2026 ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat melalui skema Program Inovasi Seni Nusantara Tahun Pendanaan 2026 yang diketuai I Kadek Suartama dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) melibatkan akademisi lintas bidang dan mahasiswa. Program ini berangkat dari dua persoalan yang dihadapi perajin. Pertama, pengetahuan tentang motif masih banyak diwariskan melalui praktik dan cerita dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga berisiko hilang apabila tidak terdokumentasi dengan baik. Kedua, proses membuat dan mengulang motif secara manual membutuhkan ketelitian tinggi.

Hasil Karya Batik oleh Mitra Surya Indigo. (Foto: Dok Undiksha)

Pada pola geometris yang kompleks, perbedaan kecil dalam proses menggambar dapat memengaruhi keseragaman motif. Kondisi inilah yang mendorong tim mengembangkan Parametrika Batik, sebuah pendekatan yang mempertemukan pengetahuan lokal dengan teknologi desain tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya. Salah satu bagian penting program adalah pengembangan Bank Motif Komunitas.

Melalui bank motif ini, motif-motif yang dimiliki dan dikembangkan oleh kelompok didokumentasikan secara lebih terstruktur, tidak hanya dalam bentuk visual tetapi juga dilengkapi informasi mengenai nama, makna, karakter, dan cerita yang menyertainya. Bank motif tersebut diharapkan menjadi semacam “ingatan bersama” bagi komunitas. Pengetahuan yang sebelumnya lebih banyak tersimpan dalam pengalaman para penenun senior dapat dicatat, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan cara ini, teknologi digital berfungsi bukan sekadar sebagai tempat menyimpan gambar, tetapi juga sebagai sarana menjaga pengetahuan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Upaya pelestarian tersebut berjalan beriringan dengan proses regenerasi. Penenun senior dan generasi muda dipertemukan melalui kegiatan co-creation atau penciptaan bersama. Para penenun senior membawa pengalaman, pemahaman terhadap tradisi, serta pengetahuan mengenai karakter motif lokal, sementara generasi muda dilibatkan dalam eksplorasi desain dengan memanfaatkan teknologi.

Kolaborasi ini membuka ruang bagi kedua generasi untuk saling belajar. Teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti keterampilan tradisional, melainkan sebagai alat yang membantu menerjemahkan gagasan menjadi desain yang dapat dikembangkan bersama. Pendekatan tersebut sekaligus diharapkan dapat menumbuhkan ketertarikan generasi muda untuk ikut menjaga dan mengembangkan wastra Buleleng.

Pada aspek produksi, mitra diperkenalkan pada Generator Pola Parametrik dan penggunaan stensil sebagai alat bantu. Generator pola membantu perajin mengeksplorasi bentuk-bentuk geometris dan simetris secara lebih terukur, sementara stensil digunakan untuk membantu memindahkan dan mengulang pola pada media kain secara lebih konsisten. Kehadiran teknologi ini terutama ditujukan untuk membantu pekerjaan yang sebelumnya sangat bergantung pada ketelitian menggambar secara manual.

Dengan pola yang lebih mudah direplikasi, perajin memiliki peluang untuk menjaga konsistensi hasil ketika motif yang sama digunakan pada beberapa produk. Penerapan teknologi dilakukan melalui praktik langsung agar sesuai dengan kebutuhan nyata perajin. Mitra tidak hanya menerima perangkat yang sudah jadi, tetapi dilibatkan dalam proses mencoba, menilai, dan menyesuaikan penggunaannya dengan kegiatan produksi sehari-hari. Keterlibatan ini menjadi penting karena keberhasilan program tidak hanya diukur dari hadirnya sebuah teknologi, tetapi dari kemampuan masyarakat untuk menggunakannya secara mandiri.

Generasi muda juga diarahkan untuk dapat melanjutkan pengelolaan Bank Motif dan penggunaan perangkat desain setelah program pengabdian selesai. Lebih dari sekadar membantu proses produksi, Parametrika Batik Buleleng membawa gagasan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan bersama dengan inovasi dan pengembangan ekonomi kreatif. Motif tradisional tidak hanya dilihat sebagai penghias kain, tetapi sebagai bagian dari identitas dan cerita masyarakat.

Ketika pengetahuan tentang motif dapat didokumentasikan, dikembangkan secara kolaboratif, dan diterapkan pada produk dengan kualitas yang lebih konsisten, peluang untuk mempertahankan tradisi sekaligus memperkenalkan produk lokal kepada pasar yang lebih luas juga semakin terbuka. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, perajin, dan generasi muda, program ini diharapkan dapat menunjukkan bahwa teknologi dapat hadir sebagai pendamping tradisi, bukan penggantinya. Teknologi membantu pekerjaan menjadi lebih terukur, menjaga pengetahuan agar tidak hilang, dan memberi ruang bagi lahirnya kreativitas baru yang tetap berakar pada budaya lokal.

Kegiatan Parametrika Batik Buleleng dilaksanakan sebagai bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat melalui Program Inovasi Seni Nusantara Tahun Pendanaan 2026, dengan dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....