Musisi Pop Dunia Kecam Penggunaan Lagu Mereka dalam Konten Deportasi

  • 30 Jun 2026 20:43 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Donald Trump
  • ICE
  • deportasi imigran
  • Sabrina Carpenter
  • Olivia Rodrigo
  • Ariana Grande
  • SZA
  • musik
  • White House

RRI.CO.ID, Singaraja – Sejumlah musisi pop dunia menyuarakan penolakan terhadap penggunaan karya musik mereka dalam konten media sosial yang diunggah akun White House dan Immigration and Customs Enforcement (ICE) Amerika Serikat. Konten-konten tersebut menampilkan proses penangkapan hingga deportasi imigran, dengan latar musik dari para penyanyi ternama tanpa persetujuan mereka.

Dalam beberapa bulan terakhir, akun resmi pemerintah Amerika Serikat diketahui beberapa kali mengunggah video bertema penegakan kebijakan imigrasi dengan menggunakan lagu-lagu populer. Langkah tersebut menuai kritik karena dinilai memanfaatkan karya seni untuk mendukung pesan politik yang kontroversial.

Penyanyi Sabrina Carpenter menjadi salah satu artis yang secara terbuka mengecam penggunaan lagunya, "Juno", dalam salah satu video tersebut. Melalui media sosial, ia menyebut unggahan tersebut sebagai sesuatu yang "jahat dan menjijikkan" serta meminta agar musiknya tidak pernah lagi digunakan untuk mendukung agenda yang dianggapnya tidak manusiawi.

"Video ini jahat dan menjijikkan. Jangan pernah melibatkan saya atau musik saya untuk menguntungkan agenda yang tidak manusiawi," tulis Sabrina.

Pernyataan serupa juga disampaikan Olivia Rodrigo. Pelantun "drivers license" itu menegaskan bahwa lagu-lagunya tidak boleh digunakan untuk mempromosikan propaganda yang menurutnya mengandung kebencian dan rasisme.

"Jangan pernah menggunakan lagu-lagu saya untuk mempromosikan propaganda rasis dan penuh kebencian," tulis Olivia melalui akun media sosialnya.

Ariana Grande turut menyampaikan keberatan atas penggunaan musiknya. Ia menyebut kebijakan yang dikaitkan dengan video tersebut sebagai tindakan yang "barbar, tidak manusiawi, dan keji", sembari menegaskan bahwa karya musiknya tidak boleh dikaitkan dengan pesan tersebut.

Sementara itu, penyanyi SZA menilai penggunaan lagu-lagu artis oleh pemerintah sebagai bentuk strategi untuk memancing perhatian publik. Menurutnya, tindakan tersebut mengandalkan kontroversi demi mendapatkan eksposur, sekaligus mengalihkan perhatian dari isu kemanusiaan yang lebih besar.

Gelombang protes dari para musisi kembali menyoroti pentingnya penghormatan terhadap hak cipta sekaligus hak moral pencipta karya. Selain persoalan izin penggunaan musik, para artis juga menegaskan bahwa mereka berhak menolak apabila karya mereka digunakan untuk mendukung pesan politik yang bertentangan dengan nilai dan keyakinan pribadi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....