Undiksha Soroti Rendahnya APK Perguruan Tinggi di Indonesia
- 23 Jun 2026 09:10 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) menyoroti masih rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi di Indonesia yang baru mencapai 31 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi masih tergolong rendah dibandingkan negara lain.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Undiksha, Prof. Dr. Gede Rasben Dantes, mengatakan angka tersebut masih jauh tertinggal dibandingkan sejumlah negara yang telah memiliki APK perguruan tinggi hingga mencapai 60 persen.
“Kalau melihat APK perguruan tinggi, Indonesia baru 31 persen. Artinya, masyarakat yang melanjutkan ke perguruan tinggi masih sangat kecil dibandingkan negara lain,” ujarnya.
Meski demikian, Bali mencatat capaian yang lebih baik dengan APK perguruan tinggi sebesar 36 persen atau berada di atas rata-rata nasional. Namun, menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap pendidikan tinggi bukan menjadi pilihan utama untuk meningkatkan kesejahteraan.
Ia menjelaskan, sebagian masyarakat cenderung memilih pendidikan singkat yang dapat memberikan peluang kerja lebih cepat. Fenomena tersebut terlihat dari tingginya minat generasi muda untuk bekerja di kapal pesiar maupun mencari pekerjaan ke luar negeri, seperti ke Taiwan, Amerika Serikat, dan Australia.
“Banyak yang berpikir, untuk apa sekolah lama kalau enam bulan atau satu tahun sudah bisa mendapatkan pekerjaan. Itu memang menjadi kultur yang berkembang di masyarakat,” katanya.
Menurutnya, pola pikir tersebut muncul karena banyak pekerja migran yang berhasil meningkatkan taraf hidup setelah bekerja di luar negeri. Keberhasilan tersebut kemudian menjadi contoh bagi generasi muda untuk lebih memilih bekerja dibandingkan melanjutkan pendidikan tinggi.
Meski tidak dapat memaksakan pilihan masyarakat, Undiksha terus mendorong generasi muda untuk memandang pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang. Ia mengatakan pendidikan tidak hanya bertujuan memperoleh pekerjaan, tetapi juga membentuk pola pikir, karakter, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Saya selalu menyampaikan kepada anak-anak bahwa hanya pendidikan yang bisa mengubah kehidupan kita, tidak hanya untuk bekerja, tetapi juga mengubah mindset,” ucapnya.
Melalui berbagai program pendidikan dan sosialisasi, dirinya berharap semakin banyak generasi muda yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sehingga mampu meningkatkan daya saing dan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....