Naskah Kuno Archimedes yang Hampir Hilang Diduga Menyimpan Konsep Awal Kalkulus
- 23 Mei 2026 10:39 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Archimedes Palimpsest
- Archimedes
- kalkulus
- sejarah matematika
- manuskrip kuno
- Isaac Newton
- Hagia Sophia
- Konstantinopel
- sejarah sains
- Walters Art Museum
RRI.CO.ID, Singaraja - Sebuah manuskrip kuno yang dikenal sebagai Archimedes Palimpsest kembali menjadi sorotan dunia sejarah dan ilmu pengetahuan setelah para peneliti menegaskan bahwa naskah tersebut memuat gagasan matematika yang jauh melampaui zamannya.
Naskah itu awalnya merupakan kumpulan tulisan karya ilmuwan Yunani kuno, Archimedes, yang hidup pada abad ke-3 sebelum Masehi. Manuskrip tersebut merupakan salinan Bizantium berbahasa Yunani yang berisi berbagai karya Archimedes dan penulis lain, termasuk dua karya yang sebelumnya dianggap hilang, yakni Ostomachion dan The Method of Mechanical Theorems. Selain itu, manuskrip ini juga menjadi satu-satunya salinan asli berbahasa Yunani dari karya On Floating Bodies.
Para sejarawan meyakini kompilasi pertama manuskrip tersebut dibuat sekitar tahun 530 Masehi oleh Isidore of Miletus, arsitek terkenal dari Katedral Hagia Sophia di Konstantinopel. Salinan yang kemudian ditemukan dalam palimpsest diperkirakan dibuat kembali sekitar abad ke-10 pada masa Kebangkitan Makedonia, periode ketika studi matematika di Konstantinopel berkembang pesat.
Namun perjalanan manuskrip itu penuh gejolak. Setelah Konstantinopel direbut tentara Salib Barat pada tahun 1204, naskah tersebut dibawa ke sebuah biara Yunani terpencil di Palestina untuk melindunginya dari penghancuran maupun penjarahan. Pada masa itu, banyak teks Yunani dianggap bertentangan dengan gereja Latin sehingga sejumlah manuskrip kuno dibakar atau hilang.
Ironisnya, di biara tersebut manuskrip justru tidak lagi dianggap penting. Pada tahun 1229, seorang biarawan mengikis, mencuci, dan menimpa tulisan asli Archimedes agar perkamen dapat digunakan kembali sebagai buku doa. Proses penggunaan ulang perkamen ini dikenal dengan istilah palimpsest.
Padahal, menurut para ahli, teks tersebut memuat metode matematika yang dianggap sebagai cikal bakal konsep kalkulus modern, sekitar 2.000 tahun sebelum teori serupa dipopulerkan oleh Isaac Newton dan Gottfried Wilhelm Leibniz pada abad ke-17.
Manuskrip itu kembali menarik perhatian pada tahun 1899 ketika ilmuwan Yunani Papadopoulos-Kerameus mengatalogkannya di Istanbul. Beberapa tahun kemudian, filolog Denmark Johan Heiberg berhasil memotret dan mempelajari teks tersebut sebelum akhirnya menerbitkannya pada 1915.
Naskah itu kemudian sempat menghilang pada 1922 di tengah kekacauan pasca-Perang Dunia I. Selama lebih dari 70 tahun, manuskrip tersebut disembunyikan oleh seorang kolektor swasta. Bahkan sebagian halamannya sempat dilukis ulang untuk meningkatkan nilai jual.
Pada 1998, manuskrip akhirnya dilelang di New York dan dibeli oleh seorang kolektor anonim yang kemudian menyerahkannya kepada Walters Art Museum di Baltimore untuk dipulihkan dan diteliti lebih lanjut.
Dengan bantuan teknologi modern seperti sinar ultraviolet, inframerah, pencitraan multispektral, hingga pemindaian sinar-X yang dikembangkan di Stanford University, para peneliti berhasil mengungkap kembali tulisan-tulisan tersembunyi yang sebelumnya tidak terbaca.
Sejumlah sejarawan menilai, apabila karya Archimedes tidak dihapus dan terus dipelajari sejak Abad Pertengahan, perkembangan ilmu pengetahuan dunia mungkin dapat berlangsung jauh lebih cepat. Beberapa bahkan berpendapat revolusi sains modern bisa saja terjadi beberapa abad lebih awal.
Kini seluruh gambar dan transkripsi manuskrip Archimedes Palimpsest telah tersedia secara bebas melalui proyek digital Archimedes Digital Palimpsest dengan lisensi Creative Commons, memungkinkan masyarakat dunia mempelajari salah satu peninggalan ilmiah paling penting dalam sejarah manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....