Vietnam Melaju Jadi Kekuatan Baru ASEAN, Indonesia Perlu Evaluasi Iklim Investasi
- 22 Mei 2026 15:52 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- investor asing
- reformasi ekonomi
- Vietnam
- ekonomi Vietnam
- ASEAN
- investasi asing
- Indonesia
- Doi Moi
- pertumbuhan ekonomi
- manufaktur
RRI.CO.ID, Singaraja - Perjalanan Vietnam dari salah satu negara termiskin di dunia menjadi kekuatan ekonomi baru Asia Tenggara kini menjadi sorotan banyak pihak. Negara yang sempat hancur akibat perang dan mengalami hiperinflasi hingga 700 persen pada era 1980-an itu kini berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi dan menjadi magnet investasi asing global.
Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Vietnam tercatat mencapai sekitar 8,02 persen, melampaui Indonesia yang berada di kisaran 5,11 persen. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa investor asing kini lebih melirik Vietnam dibanding Indonesia?
Transformasi besar Vietnam dimulai sejak 1986 lewat reformasi ekonomi bertajuk Doi Moi atau “pembaruan”. Pemerintah Vietnam mengubah sistem ekonomi terpusat menjadi ekonomi pasar sosialis dengan membuka ruang bagi sektor swasta, memangkas birokrasi, dan memperluas akses investasi asing.
Hasilnya terlihat signifikan. Vietnam yang dulu kesulitan memenuhi kebutuhan pangan domestik kini menjadi salah satu eksportir beras terbesar dunia. Tingkat kemiskinan pun turun drastis dari lebih dari 70 persen menjadi di bawah 5 persen.
Dalam beberapa tahun terakhir, Vietnam juga diuntungkan oleh strategi global “China Plus One”, yakni relokasi pabrik dari China ke negara alternatif di Asia. Momentum tersebut berhasil dimanfaatkan lewat penguatan sektor manufaktur dan kebijakan investasi yang dianggap lebih sederhana dan konsisten.
Sejumlah perusahaan teknologi dunia seperti Apple, Samsung, Foxconn, NVIDIA, hingga Intel kini memiliki basis produksi besar di Vietnam.
Salah satu faktor yang dinilai menarik investor adalah kemudahan regulasi. Vietnam menerapkan sistem investasi satu pintu dengan birokrasi lebih ringkas dan kepastian hukum jangka panjang. Proses pendirian perusahaan dinilai lebih cepat dibanding Indonesia.
Sementara itu di Indonesia, sejumlah tahapan administratif dan kewajiban modal masih menjadi perhatian investor. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu menilai persoalan utama ada pada strategi fiskal dan banyaknya lapisan pajak yang harus ditanggung pelaku usaha.
Selain sektor investasi, stabilitas nilai tukar Vietnam juga menjadi perhatian. Saat dolar AS menguat, mata uang Dong Vietnam relatif stabil karena ditopang intervensi bank sentral, kuatnya ekspor manufaktur, dan cadangan devisa dari arus investasi asing.
| Baca juga: Karikatur AI Jadi Tren Baru di Media Sosial |
Meski demikian, para ekonom menilai Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk bersaing. Populasi yang besar, sumber daya alam melimpah, dan posisi strategis menjadi kekuatan utama Indonesia di kawasan.
Ekonom senior Indef Didik J. Rachbini menyebut pemerintah perlu lebih terbuka terhadap pembenahan kebijakan ekonomi agar kepercayaan investor tidak terus menurun.
Vietnam dinilai bukan sekadar pesaing Indonesia, melainkan cerminan bahwa reformasi ekonomi yang konsisten dalam jangka panjang dapat membawa perubahan besar bagi sebuah negara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....