Cara BJ Habibie Menjinakkan Dolar dari Rp16.000 ke Rp6.500 dalam 17 Bulan

  • 21 Mei 2026 09:22 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • BJ Habibie
  • krisis moneter 1998
  • rupiah menguat
  • dolar AS
  • Bank Mandiri
  • ekonomi Indonesia
  • suku bunga tinggi
  • bank rush
  • pemulihan ekonomi
  • nilai tukar rupiah

RRI.CO.ID, Singaraja - Krisis moneter 1998 menjadi salah satu periode paling kelam dalam sejarah ekonomi Indonesia. Nilai tukar rupiah sempat terpuruk hingga menyentuh sekitar Rp16.000 per dolar AS, perbankan kolaps, harga kebutuhan pokok melonjak, dan kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi nasional nyaris hilang.

Namun di tengah situasi tersebut, Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie, justru berhasil membawa perubahan besar dalam waktu relatif singkat. Dalam kurun sekitar 17 bulan pemerintahannya, nilai tukar rupiah perlahan menguat hingga berada di kisaran Rp6.500 per dolar AS.

Menariknya, sosok yang dianggap mampu membantu memulihkan ekonomi Indonesia saat itu bukan berasal dari latar belakang ekonomi murni, melainkan seorang ahli teknologi dan penerbangan.

Menutup Bank Bermasalah dan Menyelamatkan Kepercayaan Publik

Saat krisis berlangsung, Indonesia mengalami fenomena bank rush, yaitu penarikan dana besar-besaran oleh masyarakat karena takut bank bangkrut. Kondisi ini membuat sistem keuangan nasional berada di ambang kehancuran.

Pemerintahan Habibie mengambil langkah tegas dengan menutup sejumlah bank yang dinilai tidak sehat. Selain itu, beberapa bank milik pemerintah yang mengalami kesulitan likuiditas digabungkan menjadi satu entitas besar yang kini dikenal sebagai Bank Mandiri.

Langkah restrukturisasi tersebut dinilai berhasil mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan nasional.

Suku Bunga Tinggi untuk Menahan Dolar

Salah satu strategi paling berpengaruh saat itu adalah kebijakan menaikkan suku bunga deposito hingga mendekati 60 persen.

Kebijakan tersebut membuat masyarakat lebih tertarik menyimpan uang dalam bentuk rupiah di bank dibanding memborong dolar AS. Dengan begitu, tekanan terhadap rupiah perlahan menurun dan permintaan dolar mulai berkurang.

Strategi ini menjadi salah satu faktor penting yang membantu penguatan rupiah dalam waktu relatif cepat.

Menjaga Stabilitas Harga Kebutuhan Pokok

Di tengah tekanan ekonomi, pemerintah juga berupaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan bahan bakar minyak.

Habibie memahami bahwa stabilitas sosial sangat bergantung pada kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar. Karena itu, pengendalian harga sembako menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi nasional tetap terkendali.

Rupiah Menguat, Kepercayaan Investor Kembali

Seiring membaiknya stabilitas ekonomi dan perbankan, investor asing mulai kembali melirik Indonesia. Arus modal yang masuk membantu memperkuat cadangan devisa dan meningkatkan kepercayaan terhadap rupiah.

Pemulihan tersebut hingga kini masih sering disebut sebagai salah satu proses penguatan mata uang tercepat dalam sejarah ekonomi modern Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....