Mengubah Narasi: Dari “Jaga Pakaian” ke Edukasi Consent sejak Dini
- 24 Apr 2026 16:58 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- kekerasan seksual
- consent
- edukasi gender
- perlindungan perempuan
- pola asuh anak
- kesetaraan gender
RRI.CO.ID, Singaraja – Kalimat seperti “berpakaian sopan agar tidak mengundang” atau “jaga diri” telah lama menjadi bagian dari nasihat yang diterima banyak perempuan sejak usia dini. Namun, di balik pesan tersebut, muncul pertanyaan penting, apakah benar pilihan pakaian dapat meningkatkan risiko kekerasan seksual?
Sejumlah pemerhati sosial menilai bahwa narasi tersebut secara tidak langsung membentuk persepsi bahwa nilai dan keamanan perempuan ditentukan oleh apa yang mereka kenakan. Padahal, realitas menunjukkan bahwa kekerasan seksual terjadi dalam berbagai situasi, tanpa memandang jenis pakaian korban.
“Fokus pada pakaian justru mengalihkan perhatian dari akar permasalahan,” ujar salah satu aktivis pendidikan gender. Ia menegaskan bahwa kekerasan seksual lebih berkaitan dengan dorongan kuasa, kontrol, serta minimnya pemahaman tentang consent atau persetujuan.
Pilihan berpakaian sendiri merupakan bagian dari ekspresi diri mulai dari identitas, rasa percaya diri, hingga suasana hati. Ketika masyarakat terlalu menitikberatkan pada penampilan sebagai faktor keamanan, hal ini dapat menciptakan ilusi bahwa bahaya bisa dicegah hanya dengan cara berpakaian tertentu.
Sebaliknya, pendekatan yang kini mulai digaungkan adalah edukasi sejak dini, khususnya kepada anak laki-laki, mengenai pentingnya menghormati batasan orang lain. Edukasi ini mencakup pemahaman tentang empati, kontrol diri, dan tanggung jawab sosial.
Perubahan narasi dari “membatasi perempuan” menjadi “mendidik laki-laki” dinilai sebagai langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan setara. Upaya ini diharapkan dapat dimulai dari lingkup terkecil, yakni keluarga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....