Selat Hormuz, Jalur Strategis Dunia yang Sarat Sejarah dan Konflik

  • 13 Apr 2026 11:13 WIB
  •  Singaraja

Singaraja, RRI.CO.ID — Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran maritim paling krusial di dunia. Selat sepanjang sekitar 96 kilometer ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan menjadi jalur distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Sejak berabad-abad lalu, Selat Hormuz telah memainkan peran penting dalam perdagangan internasional. Nama “Hormuz” diyakini berasal dari kerajaan kecil yang berkuasa di wilayah tersebut pada abad ke-13 hingga ke-16, atau dari nama dewa Persia Tengah, Ahura Mazda. Kawasan ini menjadi jalur utama perdagangan rempah-rempah, sutra, hingga logam mulia yang menghubungkan Asia dan Eropa.

Pada abad ke-16, kekuatan kolonial mulai memperebutkan wilayah strategis ini. Kekaisaran Portugis menguasai Selat Hormuz pada 1515 untuk mengendalikan arus perdagangan di Teluk Persia. Namun, dominasi tersebut tidak bertahan lama setelah intervensi kekuatan Eropa lain seperti Inggris dan Belanda pada abad ke-17.

Memasuki abad ke-20, peran Selat Hormuz berubah signifikan seiring ditemukannya cadangan minyak besar di kawasan Teluk. Selat ini kemudian menjadi jalur vital distribusi energi dunia yang menentukan stabilitas pasokan global.

Dalam konteks modern, Selat Hormuz kerap menjadi titik panas konflik geopolitik. Salah satu periode paling menegangkan terjadi saat Perang Iran-Irak, khususnya dalam fase yang dikenal sebagai “Perang Tanker”, di mana kapal-kapal minyak menjadi sasaran serangan.

Saat ini, pengawasan Selat Hormuz berada di bawah dua negara, yaitu Iran dan Oman. Meski demikian, perairan ini merupakan jalur internasional yang bebas dilalui kapal-kapal dari berbagai negara.

Ketegangan masih kerap terjadi, terutama dengan adanya ancaman dari Iran untuk menutup selat tersebut dalam situasi konflik. Hal ini menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu titik risiko tertinggi bagi stabilitas pasokan energi global.

Secara geografis, lebar Selat Hormuz berkisar antara 39 hingga 96 kilometer. Namun, jalur pelayaran yang aman hanya sekitar 3,2 kilometer untuk masing-masing arah, sehingga membuatnya sangat rentan terhadap gangguan, baik dari sisi keamanan maupun geopolitik.

Dalam perkembangan terkini, ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu eskalasi militer yang berdampak langsung pada keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sejumlah insiden seperti serangan terhadap kapal tanker, peningkatan kehadiran militer, hingga ancaman penutupan selat kembali mencuat.

Situasi ini menyebabkan kekhawatiran global terhadap terganggunya pasokan energi dunia. Beberapa negara bahkan meningkatkan kewaspadaan dan mengerahkan armada untuk memastikan keamanan jalur distribusi minyak. Ketidakpastian tersebut turut memicu fluktuasi harga minyak dunia serta meningkatkan risiko krisis energi dan tekanan ekonomi global.

Dengan posisi strategis dan sejarah panjangnya, Selat Hormuz tetap menjadi perhatian dunia sebagai jalur vital yang memengaruhi ekonomi dan stabilitas global, terutama di tengah dinamika konflik Timur Tengah yang terus berkembang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....