Latar Belakang Hari untuk Korban Perbudakan dan Perdagangan Budak Transatlantik

  • 25 Mar 2026 12:12 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Tanggal 25 Maret setiap tahunnya menandai momen penghormatan akan perjuangan kemanusiaan. Hal itu ditandai dengan Hari Peringatan Internasional untuk Korban Perbudakan dan Perdagangan Budak Transatlantik.

Berdasarkan National Today, peringatan ini diciptakan untuk mengenang jutaan orang Afrika. Tentunya mereka yang menjadi korban praktik perdagangan manusia selama berabad-abad.

Perdagangan budak transatlantik adalah salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah kehidupan manusia. Tragedi ini melibatkan pemindahan paksa jutaan orang dari Afrika ke berbagai wilayah di dunia Barat.

Banyak dari mereka tidak selamat dalam perjalanan dan yang bertahan harus menjalani kehidupan penuh penderitaan. Diketahui, konsep perbudakan memang telah ada sejak dahulu kala dan telah menjadi praktik di hampir semua kebudayaan di dunia.

Perdagangan budak transatlantik bermula saat para pemimpin Afrika Barat menjual rakyatnya pedagang budak Barat dan Eropa. Impor resmi budak dimulai pada tahun 1525 dan berlangsung sampai tahun 1866.

Dalam rentang waktu itu, lebih dari 12,5 juta orang Afrika dikirim ke negara-negara Barat dan yang hanya 10,7 juta di antaranya yang selamat. Hari Peringatan Internasional Korban Perbudakan dan Perdagangan Budak Transatlantik diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2007.

PBB menganggap tragedi perdagangan budak Trans Atlantik sebagai salah satu babak paling kelam dalam sejarah umat manusia. Melalui peringatan ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengajak masyarakat dunia agar tidak melupakan sejarah kelam itu. Selain sebagai bentuk penghormatan, peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa diskriminasi rasial masih terjadi sampai saat ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....