Presiden Donald Trump Dikecam Keras usai Serang Iran
- 03 Mar 2026 08:43 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, United Stated - Presiden Donald Trump menghadapi kritik dari sebagian basis pendukung MAGA setelah meluncurkan “Operation Epic Fury,” kampanye militer gabungan AS-Israel yang menargetkan kepemimpinan dan fasilitas nuklir Iran. Operasi ini terjadi saat Trump memasuki tahun pemilu paruh waktu dan berisiko mengguncang koalisi politiknya.
Trump membangun gerakannya dengan pesan “America First” yang mengkritik keterlibatan AS dalam perang di Timur Tengah. Langkah militernya yang baru membuat sebagian pendukung menuduhnya mengkhianati janji anti-intervensi. Jajak pendapat menunjukkan banyak pemilih Partai Republik merasa tidak nyaman dengan keterlibatan militer yang lebih dalam di Iran.
Tokoh-tokoh konservatif terkemuka turut bersuara. Tucker Carlson menyebut operasi tersebut “benar-benar menjijikkan dan jahat” dalam wawancara dengan ABC News. Erik Prince mempertanyakan apakah tindakan itu sejalan dengan prinsip MAGA dalam podcast yang dipandu oleh Steve Bannon.
Mantan anggota DPR dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene, menuduh Trump melanggar janji “tanpa perang.” Ia juga mengkritik tewasnya tiga tentara AS dan mengatakan pemerintahan ini berkampanye untuk mengakhiri perang luar negeri dan perubahan rezim.
Kontroversi semakin besar setelah Trump mengumumkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, telah tewas dan mendorong rakyat Iran untuk mengganti pemerintahannya. Para kritikus mengingat pidato Trump pada Republican National Convention tahun 2016, ketika ia menolak kebijakan pembangunan bangsa dan perubahan rezim.
Namun, sejumlah tokoh Republik membela presiden. Penasihatnya, Jason Miller, mengatakan prioritas MAGA tetap sejalan dengan Trump. Di Fox News, pembawa acara Laura Ingraham dan komentator Dan Bongino meminta para pengkritik memberi Trump waktu. Senator Lindsey Graham mengatakan di Meet the Press bahwa “America First” bukan berarti isolasionisme dan menegaskan tidak akan ada pasukan darat di Iran.
Trump pernah menghadapi kritik serupa tahun lalu setelah membom situs nuklir Iran, tetapi tindakan itu terbatas dan tidak menimbulkan korban dari pihak AS. Kali ini, konflik tampak lebih luas dan sudah menyebabkan korban jiwa dari pihak Amerika, sehingga memicu kekhawatiran lebih besar di dalam partai.
Jajak pendapat menunjukkan dukungan yang terbelah. Survei University of Maryland sebelum serangan menunjukkan hanya 21% warga AS — dan 40% dari Partai Republik — yang mendukung serangan ke Iran. Jajak pendapat Reuters/Ipsos setelah operasi dimulai menunjukkan 27% persetujuan secara keseluruhan, termasuk 55% dari Partai Republik. Sekutu Trump seperti Mercedes Schlapp memperingatkan bahwa perluasan konflik dapat merugikan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu, terutama jika perhatian publik bergeser dari isu ekonomi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....