7 Trik Biar Tidak Terjebak FOMO saat Melihat Tren di Media Sosial

  • 07 Okt 2026 14:47 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Media sosial menjadi platform penyebar tren yang berubah-ubah dengan cepat, mencakup tempat makan, produk fashion, gaya hidup, dan aktivitas sehari-hari.
  • FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain di media sosial.
  • Fenomena FOMO mendorong masyarakat untuk ikut-ikutan tren agar tidak merasa tertinggal, yang menciptakan siklus konsumsi dan perilaku sosial yang terus berubah.

RRI.CO.ID, Singaraja - Media sosial membuat berbagai tren datang silih berganti. Hari ini sebuah tempat makan bisa ramai dibicarakan, besok giliran produk tertentu yang muncul di hampir setiap beranda. Belum lagi tren fashion, gaya hidup, hingga aktivitas yang membuat kita merasa harus ikut agar tidak ketinggalan.

Kondisi tersebut dikenal dengan istilah FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain.

FOMO sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, jika tidak dikendalikan, perasaan ini bisa membuat seseorang mengambil keputusan secara terburu-buru, mulai dari membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan hingga memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain.

Lalu, bagaimana cara agar tetap bisa menikmati media sosial tanpa terjebak FOMO? Berikut beberapa triknya.

1. Beri Jeda Sebelum Ikut Tren

Ketika melihat sesuatu yang sedang viral, jangan langsung merasa harus ikut. Berikan waktu untuk berpikir sebelum membeli, mencoba, atau melakukan sesuatu hanya karena sedang ramai.

Coba tanyakan kepada diri sendiri: “Kalau tren ini tidak sedang viral, apakah saya tetap menginginkannya?”

Jika jawabannya tidak, bisa jadi keinginan tersebut muncul karena pengaruh tren, bukan kebutuhan pribadi.

2. Bedakan Keinginan dan Kebutuhan

FOMO sering muncul ketika seseorang melihat orang lain memiliki atau melakukan sesuatu yang terlihat menarik.

Sebelum mengikuti tren, buat pertimbangan sederhana. Apakah barang atau aktivitas tersebut memang dibutuhkan, atau hanya terlihat menarik karena terus muncul di media sosial?

Membedakan kebutuhan dan keinginan dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih rasional.

3. Jangan Membandingkan Kehidupan Nyata dengan Media Sosial

Apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Foto liburan, restoran mahal, barang baru, atau pencapaian seseorang tidak selalu menggambarkan keseluruhan kehidupannya.

Karena itu, hindari menjadikan unggahan orang lain sebagai standar kehidupan pribadi.

Apa yang terlihat sempurna di layar belum tentu sama dengan kenyataan di baliknya.

4. Kurangi Akun yang Memicu FOMO

Algoritma media sosial akan terus menampilkan konten berdasarkan apa yang sering kita lihat dan interaksikan.

Jika ada akun atau jenis konten tertentu yang membuat kita terus merasa tertinggal, tidak ada salahnya mengurangi paparan terhadap konten tersebut.

Gunakan fitur mute, unfollow, atau not interested jika memang diperlukan. Mengatur isi beranda bukan berarti membenci orang lain, tetapi menjaga agar penggunaan media sosial tetap sehat.

5. Buat Batas Waktu Bermedia Sosial

Semakin lama melihat media sosial, semakin banyak pula tren yang muncul.

Cobalah menentukan batas waktu penggunaan media sosial setiap hari. Misalnya, membuka media sosial hanya pada waktu tertentu dan menghindari scrolling tanpa tujuan.

Dengan begitu, waktu tidak habis hanya untuk mengikuti kehidupan orang lain.

6. Ingat bahwa Tren Akan Selalu Berganti

Salah satu cara paling sederhana untuk menghadapi FOMO adalah menyadari bahwa tidak semua tren harus diikuti.

Barang yang hari ini viral bisa saja dilupakan beberapa minggu kemudian. Tempat yang sedang ramai dikunjungi juga akan berganti dengan destinasi lain.

Tidak mengikuti satu tren bukan berarti kita tertinggal. Justru, kita memiliki kebebasan untuk memilih mana yang memang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan nilai pribadi.

7. Fokus pada Hal yang Memang Membuat Kita Bahagia

Daripada terus bertanya, “Apa yang sedang dilakukan orang lain?”, coba ubah pertanyaannya menjadi, “Apa yang sebenarnya ingin saya lakukan?”

Memiliki hobi sendiri, menghabiskan waktu bersama keluarga, bertemu teman, belajar sesuatu yang baru, atau sekadar menikmati waktu tanpa membuka media sosial juga merupakan bentuk pengalaman yang berharga.

Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi ruang untuk mendapatkan informasi dan hiburan, bukan tempat untuk menentukan apakah hidup kita cukup menarik dibandingkan orang lain.

Mengikuti tren sesekali tentu tidak masalah. Namun, pastikan keputusan tersebut muncul karena memang kita menginginkannya, bukan karena takut merasa tertinggal.

Tidak semua yang viral harus dimiliki, tidak semua yang ramai harus diikuti.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....