KLa Project Bikin Singaraja Bernyanyi, Bulfest 2026 Jadi Panggung Nostalgia

  • 19 Agt 2026 07:58 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Malam pertama Buleleng Festival atau Bulfest 2026, Selasa 18 Agustus 2026, menjadi panggung nostalgia sekaligus momen istimewa bagi KLa Project. Setelah 37 tahun perjalanan bermusik, grup yang dikenal dengan karya-karya popnya itu akhirnya tampil di Singaraja, Bali.

Kehadiran KLa Project dalam rangkaian pembukaan Bulfest 2026 disambut antusias masyarakat. Penonton memadati kawasan pertunjukan untuk menyaksikan langsung penampilan Katon Bagaskara, Lilo, dan Adi Adrian, tiga nama yang melekat dalam perjalanan panjang KLa Project di industri musik Indonesia.

Katon Bagaskara menyebut penampilan di Singaraja menjadi pengalaman yang belum pernah mereka rasakan sepanjang 37 tahun perjalanan KLa Project.

“Untuk pertama kalinya, 37 tahun belum pernah ke sini,” ujar Katon di sela penampilannya.

Katon juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Buleleng yang telah mengundang KLa Project untuk tampil dalam Bulfest 2026.

Kehadiran perdana tersebut menjadi semakin istimewa karena disambut penonton dari berbagai generasi. Mereka larut dalam lagu-lagu KLa Project yang telah menemani perjalanan musik Indonesia sejak era akhir 1980-an.

Dalam penampilannya, KLa Project membawakan sembilan lagu, mulai dari Gerimis, Menjemput Impian, Belahan Jiwa, Semoga, Terpuruk Ku di Sini, Lagu Baru, Tak Bisa ke Lain Hati, Yogyakarta, hingga Tentang Kita.

Lagu-lagu tersebut menjadi jembatan antara kenangan masa lalu dan suasana festival masa kini. Generasi yang tumbuh bersama musik KLa Project bernostalgia, sementara penonton dari generasi yang lebih muda turut menikmati karya yang telah bertahan lintas zaman.

Namun, malam itu tidak hanya diwarnai nostalgia dan kemeriahan.

Ada satu momen ketika suasana konser berubah menjadi lebih khidmat. Usai membawakan lagu Semoga, Lilo mengajak seluruh penonton mengheningkan cipta sejenak sebagai bentuk simpati dan empati kepada masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tengah menghadapi bencana gempa bumi.

“KLa Project ingin menghaturkan simpati dan empati kita terutama untuk saudara-saudara kita yang di NTT sedang terjadi bencana. Kita hening sejenak 10 detik, bisa?” ucap Lilo dari atas panggung.

Ajakan tersebut disambut ribuan penonton dengan keheningan. Suasana yang sebelumnya dipenuhi sorak dan alunan musik seketika berubah menjadi ruang refleksi untuk memberikan dukungan moral kepada masyarakat NTT yang sedang tertimpa musibah.

Momen tersebut kemudian dilanjutkan dengan kumandang lagu Bagimu Negeri, diiringi permainan saksofon oleh Arie Kurniawan.

Suasana pun semakin khidmat. Panggung musik malam itu tidak hanya menjadi tempat bernostalgia, tetapi juga menjadi ruang untuk menunjukkan solidaritas dan kepedulian.

Kemeriahan penampilan KLa Project sekaligus memperkuat konsep Bulfest 2026 yang membawa masyarakat kembali merasakan atmosfer Buleleng tempo dulu. Tidak hanya melalui musik, festival tahun ini juga menghadirkan seni, budaya, kuliner, dan berbagai aktivitas yang merepresentasikan kehidupan Buleleng pada masa lalu.

Bagi penonton, kehadiran KLa Project bukan sekadar hiburan. Lagu-lagu yang dibawakan menjadi pengingat terhadap masa ketika karya mereka menemani berbagai perjalanan kehidupan, sekaligus menghadirkan kesempatan untuk menikmati musik tersebut secara langsung di tengah suasana festival.

Penampilan KLa Project setelah 37 tahun perjalanan grup di Singaraja pun menjadi cerita tersendiri bagi Bulfest 2026. Kehadiran mereka mempertemukan lintas generasi dalam satu panggung dan menunjukkan bahwa karya musik yang lahir dari sebuah era tetap mampu hidup serta menemukan pendengarnya hingga kini.

Panggung KLa Project akhirnya bukan hanya menjadi hiburan pembuka Bulfest 2026. Penampilan tersebut menjadi bagian dari semangat “Uriping Rasa”—menghidupkan kembali rasa, cerita, dan identitas Buleleng melalui pengalaman yang dapat dirasakan bersama.

Dari nostalgia musik hingga keheningan untuk NTT, malam pembuka Bulfest 2026 menghadirkan lebih dari sekadar pertunjukan. Ia menjadi ruang untuk mengenang, merasakan, dan menunjukkan kepedulian bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....