Empat Detik Sebelum Tidur, ketika Singaraja Menjadi Bunyi
- 18 Agt 2026 10:35 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Nama Empat Detik Sebelum Tidur (EDST) menjadi salah satu warna dalam perjalanan musik independen di Buleleng. Band asal Singaraja ini dikenal melalui karakter musik yang memadukan unsur alternative ethnic folk dengan berbagai pengaruh musik etnik dan lingkungan sekitar.
EDST terbentuk pada 19 Maret 2016. Band ini beranggotakan Aris Jack, Yogi, Sonata, dan Konot. Sejak awal, mereka memilih jalur bermusik dengan mengembangkan karya sendiri, baik dari sisi penulisan lagu maupun aransemen.
Karakter tersebut membuat EDST tidak hanya tampil sebagai kelompok musik, tetapi juga membawa identitas Singaraja dalam sejumlah karyanya. Lingkungan, kehidupan masyarakat, alam, hingga kenangan terhadap ruang-ruang di Bali Utara menjadi sumber inspirasi yang kemudian diolah ke dalam musik.
Media lokal tatkala.co sebelumnya mengulas perjalanan EDST sebagai salah satu kelompok kreatif yang tumbuh dari Buleleng. Dalam ulasan tersebut, EDST disebut memiliki pendekatan bermusik yang khas dengan menggabungkan berbagai instrumen dan pengaruh etnik tanpa meninggalkan karakter mereka sebagai band dari Singaraja.
Salah satu karya yang cukup merepresentasikan kedekatan EDST dengan Singaraja adalah “Nona Manis”. Lagu tersebut menghadirkan suasana dan ingatan tentang kota kelahiran mereka, sehingga musik yang dimainkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi medium untuk merekam pengalaman terhadap sebuah tempat.
Kedekatan dengan isu lingkungan juga muncul dalam karya-karya mereka. EDST tidak hanya mengangkat persoalan personal, tetapi juga menjadikan alam dan perubahan lingkungan sebagai bagian dari gagasan bermusik.
Perjalanan EDST dimulai melalui album Penganut Sederhana yang dirilis pada 2016. Karya tersebut menjadi pijakan awal bagi kelompok ini dalam memperkenalkan karakter musik mereka kepada publik.
Dalam penampilannya, EDST juga memiliki pola yang cukup berbeda. Peran vokal dapat bergantian di antara personel, menyesuaikan karakter lagu. Pola tersebut memperkuat kesan bahwa EDST dibangun sebagai kelompok yang mengandalkan kerja musikal bersama.
Melalui karya-karyanya, EDST menunjukkan bahwa musik dari daerah tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang konvensional. Mereka mengambil inspirasi dari lingkungan sendiri, kemudian mengolahnya menjadi musik yang lebih kontemporer.
Bagi Singaraja, kehadiran EDST menjadi bagian dari perkembangan ekosistem musik lokal. Mereka membawa cerita tentang Bali Utara melalui perspektif generasi yang tumbuh di tengah perubahan zaman.
Seperti diulas tatkala.co dalam tulisan lain mengenai EDST dan Singaraja, hubungan band ini dengan kota kelahirannya menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan kreatif mereka.
Dengan karakter musik yang berangkat dari lingkungan dan pengalaman lokal, Empat Detik Sebelum Tidur tidak sekadar menjadi band asal Singaraja. Mereka menjadikan Singaraja sebagai bagian dari bunyi, cerita, dan identitas musik yang mereka tawarkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....