KLa Project, Legenda Pop Indonesia yang Tak Lekang Waktu
- 18 Agt 2026 10:14 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - KLa Project merupakan salah satu grup musik yang memiliki tempat penting dalam perjalanan musik pop Indonesia. Berawal pada 1988 di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, KLa Project digawangi Katon Bagaskara, Lilo (Romulo Radjadin), Adi Adrian, dan Ari Burhani. Nama KLa sendiri diambil dari inisial Katon, Lilo, dan Adi, sementara penggunaan huruf “a” berkaitan dengan sejarah Ari yang pernah menjadi bagian dari grup tersebut.
Sejak awal kemunculannya, KLa Project menawarkan warna yang berbeda. Musik mereka tidak hanya mengandalkan melodi yang mudah diingat, tetapi juga kekuatan lirik yang puitis. Perpaduan tersebut kemudian menjadi salah satu identitas utama KLa Project dan membuat karya-karyanya memiliki karakter kuat dalam perkembangan musik pop Indonesia.
Album pertama bertajuk KLa Project dirilis pada 1989 dan melahirkan lagu seperti “Tentang Kita”. Setahun kemudian, album KLa Kedua hadir dengan salah satu karya paling ikonik mereka, “Yogyakarta”. Album ini meraih tiga penghargaan BASF Award pada 1991, termasuk untuk lagu dan aransemen terbaik serta kategori Pop Techno.
Perjalanan KLa Project berlanjut melalui sejumlah album seperti Pasir Putih, Ungu, Kelima, KLakustik, Sintesa, hingga KLaSIK. Dari perjalanan tersebut lahir sejumlah lagu yang terus dikenang, antara lain “Tak Bisa ke Lain Hati”, “Terpuruk Ku Di Sini”, “Gerimis”, “Belahan Jiwa”, dan “Menjemput Impian”.
Salah satu kekuatan KLa Project adalah kemampuannya menjadikan kata-kata sebagai bagian penting dari musik. Tema cinta, lingkungan, persahabatan, hingga kecintaan terhadap tanah air hadir dalam karya-karya mereka. Karena itu, lagu KLa Project tidak hanya menawarkan bunyi dan melodi, tetapi juga menghadirkan suasana dan cerita yang mudah melekat dalam ingatan pendengarnya.
“Yogyakarta” menjadi contoh kuat bagaimana KLa Project mampu mengubah pengalaman terhadap sebuah tempat menjadi karya musik. Lagu tersebut tidak sekadar menggunakan nama sebuah kota sebagai judul, tetapi membangun suasana romantis dan kenangan tentang Yogyakarta melalui musik dan liriknya. Karya itu bahkan mendapat penghargaan dari Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Sementara “Tak Bisa ke Lain Hati” memperlihatkan sisi KLa Project yang lebih emosional. Lagu dari album Pasir Putih tersebut menjadi salah satu karya yang paling dikenal dari grup ini dan memperoleh penghargaan sebagai lagu paling populer untuk kategori Pop Kontemporer.
Kini, KLa Project tetap memiliki basis pendengar yang kuat. Sebutan KLanis bagi para penggemarnya menjadi bagian dari perjalanan panjang grup ini. Lebih dari tiga dekade setelah kemunculannya, KLa Project menunjukkan bahwa musik yang dibangun dengan melodi kuat dan kata-kata yang bernilai dapat bertahan melampaui pergantian zaman.
KLa Project pada akhirnya bukan sekadar nama dalam sejarah musik pop Indonesia. Ia adalah bagian dari memori musikal sejumlah generasi—musik yang ketika kembali terdengar, sering kali bukan hanya mengingatkan pada sebuah lagu, tetapi juga pada masa, tempat, dan cerita yang pernah menyertainya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....