Perang Digital Knetz vs SEAblings Memanas
- 18 Feb 2026 13:50 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Dalam beberapa minggu terakhir, media sosial diramaikan oleh konflik digital antara Knetz dan SEAblings. Perseteruan ini melibatkan netizen Korea Selatan dan netizen Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Konflik ini menjadi viral karena menyangkut isu sensitif seperti rasisme, solidaritas regional, dan identitas digital lintas negara.
Knetz adalah istilah yang digunakan untuk menyebut netizen Korea Selatan yang aktif di internet, terutama dalam diskusi budaya pop dan hiburan. Sementara itu, SEAblings adalah istilah yang muncul untuk menggambarkan solidaritas netizen Asia Tenggara (South East Asia Siblings) yang saling mendukung satu sama lain di dunia digital.
Istilah SEAblings menjadi simbol persatuan regional, terutama ketika netizen Asia Tenggara merasa salah satu negara mereka diserang atau dihina secara online. Solidaritas ini sering terlihat dalam bentuk dukungan massal, komentar pembelaan, dan kampanye media sosial.
Konflik ini bermula dari sebuah konser band Korea Selatan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Januari 2026. Dalam konser tersebut, beberapa penggemar asal Korea Selatan diduga melanggar aturan dengan membawa kamera profesional yang sebenarnya dilarang oleh pihak penyelenggara.
Penonton lokal kemudian mengkritik tindakan tersebut, tetapi situasi semakin memanas ketika perdebatan berlanjut di media sosial. Beberapa netizen Korea dilaporkan memberikan komentar bernada merendahkan terhadap masyarakat Asia Tenggara, termasuk hinaan terhadap fisik, warna kulit, dan kondisi ekonomi.
Komentar tersebut memicu kemarahan netizen Asia Tenggara, yang kemudian bersatu dan membentuk solidaritas SEAblings untuk melawan komentar yang dianggap rasis dan merendahkan.
Konflik ini berkembang menjadi “perang digital” di platform seperti X (Twitter), di mana kedua pihak saling menyerang melalui komentar, meme, dan postingan. Beberapa figur publik bahkan ikut terseret dalam konflik ini tanpa keterlibatan langsung, menunjukkan betapa cepatnya konflik digital bisa meluas.
Selain itu, beberapa komentar dari netizen Korea dianggap menghina penggemar Asia Tenggara dan mempertanyakan mengapa mereka mendukung artis Korea. Hal ini semakin memperburuk situasi dan memicu reaksi keras dari komunitas SEAblings.
Meskipun konflik ini penuh ketegangan, fenomena SEAblings juga menunjukkan kekuatan solidaritas digital. Netizen Asia Tenggara dari berbagai negara bersatu untuk saling membela dan melawan diskriminasi
Di sisi lain, beberapa influencer Korea Selatan juga meminta maaf secara terbuka dan menegaskan bahwa tindakan rasis tidak mewakili seluruh masyarakat Korea Selatan. Mereka mengajak semua pihak untuk menghentikan konflik dan saling menghormati.
Konflik Knetz vs SEAblings menjadi contoh nyata bagaimana media sosial dapat memperbesar konflik kecil menjadi perseteruan global. Peristiwa ini juga mencerminkan masalah yang lebih dalam, seperti stereotip, kesenjangan budaya, dan dampak cyberbullying.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....