Kalcer: Gaul atau Cuma Ikut-Ikutan?

  • 27 Sep 2025 16:46 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Kata kalcer berasal dari plesetan pengucapan kata culture yang berarti kebudayaan dalam bahasa Inggris. Culture sendiri merujuk pada nilai, norma, tradisi, serta cara hidup yang diwariskan masyarakat.

Dalam bahasa gaul anak muda, kalcer mengalami pergeseran makna yang cukup signifikan di kehidupan sehari-hari. Istilah ini lebih merujuk pada tren, gaya hidup, serta budaya populer yang sedang viral.

Seseorang yang disebut kalcer biasanya dianggap paham tren terkini dan selalu uptodate mengikuti perkembangan. Mereka tidak hanya mengetahui musik, fashion, atau budaya pop, tetapi juga mengikutinya secara konsisten.

Ada beberapa ciri yang membuat seseorang disebut kalcer, salah satunya mengikuti tren kekinian. Namun, mereka tetap menjaga kenyamanan diri sendiri dan mempertahankan keaslian identitas pribadi yang dimiliki.

Fashion menjadi tanda paling nyata karena kalcer identik dengan outfit Instagrammable, streetwear, atau pakaian thrift unik. Selain itu, mereka responsif terhadap budaya populer seperti musik indie, film, meme, dan challenge viral.

Menariknya, kalcer tidak hanya terikat pada komunitas tunggal, melainkan hadir dalam berbagai skena budaya. Ia dapat muncul pada dunia musik, otomotif, maupun komunitas skuter yang memadukan unsur pop culture.

Dalam konteks sosial, kalcer menjadi identitas sekaligus jembatan antara budaya global dengan budaya lokal masyarakat. Generasi muda bisa lebih dekat dengan tren dunia sekaligus mengekspresikan kreativitasnya secara bebas.

Fenomena ini juga memiliki sisi negatif, terutama ketika orang hanya mengikuti tren demi terlihat kalcer. Tekanan sosial agar selalu relevan menjadikan kalcer lebih terasa beban dibanding ekspresi diri yang jujur.

Selain itu, sifat tren yang cepat usang membuat sesuatu yang populer bisa segera kehilangan nilainya. Apa yang dianggap kalcer hari ini mungkin esok sudah terlupakan dan dianggap tidak relevan.

Kalcer mencerminkan dinamika budaya anak muda yang cair, cepat berubah, serta penuh kreativitas kontemporer. Namun, menjadi kalcer seharusnya tidak sekadar ikut arus, melainkan memahami makna dan menjaga keotentikan diri. (RRI/Aisyah)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....