Asuh Kayuan, Harmoni Konservasi Sumber Mata Air di Pedawa
- 28 Des 2023 12:03 WIB
- Singaraja
Sebuah program revolusioner yang bertujuan melestarikan sumber mata air di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, telah diluncurkan oleh Kelompok Kayoman Pedawa. Program yang diberi nama "Asuh Kayuan" ini merupakan langkah konkret untuk melibatkan masyarakat dalam upaya konservasi sumber air dengan kolaborasi antara kelompok masyarakat adat dan perusahaan skincare Be Essential.
KBRN, Singaraja: Asuh Kayuan adalah tentang menjadi orang tua asuh sumber mata air. Kayuan adalah sumber mata air dalam Bahasa Pedawa. Program ini lahir pada November 2023 dari diskusi yang dilakukan oleh Ade Irma Amalia, pendiri Be Essential, serta Kelompok Kayoman Pedawa.
Saat itu diskusi tersebut membahas seputar air dan pelestarian air Desa Pedawa. Kendala utama yang dihadapi oleh Kayoman dalam usahanya untuk melestarikan sumber air adalah sumber-sumber air itu terletak di tanah-tanah hak milik yang dipunyai oleh warga.
Desa Pedawa diketahui tidak memiliki hutan meskipun mereka memiliki wilayah seluas 16.680 hektare. Lahan desa adat hanya seluas 20 are. Mayoritas lahan di Desa Pedawa adalah kebun dengan luas mencakup 11.090 hektare.
Tanpa hutan yang dimiliki oleh desa adat, Kayoman harus mendapatkan ijin terlebih dahulu ketika ingin melakukan penghijauan di sumber-sumber air. Pergerakan tersebut membuat mereka tak bisa leluasa, karena tak semua pemilik lahan yang terdapat sumber air itu mau ditanami pepohonan atau tanaman yang mampu menjadi penjaga air jangka panjang.
Asuh Kayuan kemudian menjawab kendala pelestarian sumber air yang dilakukan oleh Kayoman di Desa Pedawa. Terhitung mulai bulan Desember ini, Asuh Kayuan telah mengadopsi lima titik mata air di Desa Pedawa.
Kelima titik mata air tersebut adalah Kayuan Muncus yang berada di lahan milik Ketut Parta, Kayuan Sabih yang berada di lahan milik Wayan Dolat, Kayuan Penyungan yang berada di lahan milik Wayan Pasol, Kayuan Selundingan yang berada di lahan milik Ketut Ribut, dan Kayuan Mumbul yang berada di lahan milik Wayan Peraya.
Setelah mendapatkan orang tua asuh, kelima kayuan tersebut nantinya akan dijaga sedemikian rupa demi kelestarian budaya masyarakat adat Pedawa. Kayoman Pedawa dan Be Essential saling sepakat untuk tidak mengeksploitasi sumber-sumber mata air tersebut untuk tujuan komersial.

Ketua Kelompok Kayoman Pedawa, Putu Yuli Supriyandana, mengatakan Be Essential sebagai orang tua asuh tak hanya sekadar mengadopsi kayuan yang ditunjuk, tetapi juga melakukan pendampingan dan memberikan dukungan dalam hal pendataan serta monitoring untuk bahan evaluasi.
“Asuh Kayuan ini bertujuan menyelamatkan sumber-sumber mata air yang ada di Desa Pedawa. Sistem yang kami gunakan adalah 3P, yakni perawatan, pemeliharaan, dan penghijauan di sekitar sumber-sumber air,” katanya, Rabu (27/12/2023).
Ade Irma yang sejak tahun 2011 telah menaruh kepedulian terhadap isu krisis air di Bali menyampaikan skema Asuh Kayuan membuat pemilik lahan di mana sumber air tersebut berada akan mendapatkan pengakuan dan penghargaan. Pemilik lahan akan mendapatkan insentif dengan nominal beragam dengan kontrak selama lima tahun.
Insentif ditentukan secara internal oleh Kayoman dan pemilik lahan. Be Essential selaku pihak ketiga lantas menyatakan kesanggupan komitmennya untuk memberikan insentif setahun sekali selama masa kesepakatan berlangsung.
“Setelah masa komitmen berakhir, nota kesepakatan dapat diperpanjang, bahkan jika kepemilikan lahan sudah berganti. Sepanjang pemilik lahan tetap berkomitmen untuk menjaga sumber mata air dan infrastruktur ekologis sekitarnya, mereka akan tetap menerima insentif yang disalurkan oleh Kelompok Kayoman,” terang Ade Irma.
Adopsi tak menghalangi kepentingan ekonomi
Meskipun telah diadopsi, Be Essential tak menghalangi fungsi ekonomi lahan-lahan yang berada di lima titik mata air tersebut. Ade Irma dan Kelompok Kayoman sepakat membebaskan pemilik lahan untuk memanfaatkan tumbuhan atau pohon yang ada di sana. Sepanjang itu masih sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui.
“Umpamanya kalau di tanahnya yang berdekatan dengan sumber mata air ada pohon aren dan pohon bambu, kemudian pemilik lahan itu ingin mempergunakan arennya untuk diolah menjadi gula aren itu tidak masalah. Bambu juga bisa dipakai akan tetapi tidak boleh menebang dan tidak boleh sampai menghabiskan semuanya. Tujuan kita melaksanakan ini adalah untuk melestarikan dan mempertahankan kayu-kayu yang berkaitan dengan konservasi di sumber-sumber air,” jelas Yuli.
Resmi diluncurkan pada 27 Desember 2023, Asuh Kayuan mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat Pedawa. Program ini juga menarik perhatian dari kalangan pegiat lingkungan mengingat adopsi mata air adalah sesuatu yang tak lazim dilakukan dalam upaya konservasi sumber air di suatu tempat.

Harapan terbesar Ade Irma melalui program Asuh Kayuan adalah adanya kesetaraan pengetahuan dan pemahaman akan pentingnya upaya pelestarian sumber mata air. Asuh Kayuan akan memberikan pengetahuan kepada masyarakat betapa pentingnya menjaga hulu dengan tetap memelihara kayu atau tumbuhan yang mampu menyerap dan menyimpan debit air untuk kelangsungan sumber air tersebut.
Ke depannya Ade Irma juga berharap insentif tidak lagi dibutuhkan karena telah tercipta kesadaran kolektif terhadap hal-hal signifikan, terutama tentang sumber air.
Tidak menutup kemungkinan nantinya program Asuh Kayuan akan membuka kesempatan untuk individu atau pihak ketiga lainnya yang peduli pada kelestarian air untuk ikut serta dalam upaya pelestarian sumber air bersama Kelompok Kayoman Pedawa.
Karena semangat program Asuh Kayuan bukan hanya sekadar semangat untuk menjaga sumber mata air, tetapi juga menciptakan model pembangunan yang dapat diadopsi oleh masyarakat lain. Dengan pendekatan yang seimbang antara pelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber daya, Kelompok Kayoman Pedawa berupaya menjadikan Desa Pedawa sebagai contoh bagi daerah lain dalam mencapai keselarasan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian alam.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....