Sepuluh Tahun Rumah Plastik Mandiri dan Eka Darmawan yang Tak Lagi di Jalan Sunyi
- 15 Sep 2026 13:47 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Putu Eka Darmawan meninggalkan pekerjaannya sebagai bartender di kapal pesiar untuk mendirikan Rumah Plastik Mandiri di Kabupaten Buleleng, Bali.
- Perusahaan ini mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai, termasuk furnitur seperti kursi bermotif hitam loreng yang digunakan di kantor mereka.
- Eka mengakui bahwa keputusannya mengakibatkan pengorbanan signifikan terhadap waktu bersama keluarga dan anak-anaknya, dan pernah mengalami keraguan di awal-awal perjalanan bisnis.
RRI.CO.ID, Singaraja – “Saya kehilangan banyak waktu bersama keluarga. Kehilangan banyak waktu bersama anak saya,” kata Putu Eka Darmawan (36) di suatu siang yang kering di Desa Petandakan, Buleleng, Bali, Kamis, 10 September 2026. Di lantai dua kantor Rumah Plastik Mandiri, ia duduk di atas kursi bermotif hitam loreng—yang dibuat dari olahan sampah plastik. Matanya menerawang jauh. Sepuluh tahun lalu, ia memutuskan berhenti sebagai bartender di kapal pesiar dan mendirikan Rumah Plastik Mandiri.
Sepuluh tahun lalu, tak sedikit yang meragukan keputusannya. Eka bahkan pernah merasa menyesal, terutama saat Rumah Plastik Mandiri masih berumur jagung. “Di masa itu, keinginan untuk balik kerja ke luar (negeri—ke kapal pesiar) datang berkali-kali,” kenangnya.
Keputusannya itu berarti meninggalkan sesuatu yang sudah ia bangun bertahun-tahun. Eka memulai pekerjaannya di kapal pesiar sebagai pencuci piring sebelum kemudian nasib membawanya menjadi bartender. Los Angeles, Miami, dan pelabuhan-pelabuhan besar di Pantai Timur Amerika Serikat menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun, ia jenuh. Menjadi bartender tak berarti membuat Buleleng dan Bali—akarnya, hilang dari dalam kepalanya.
Keinginan untuk pulang menggebu begitu kuat. Ia ingin berwirausaha. Tetapi, saat itu ia belum tahu usaha apa yang akan ia geluti setelah turun dari kapal.
Pilihan kemudian ia jatuhkan pada pengolahan sampah plastik. Kegelisahannya pada sampah plastik sebenarnya sudah muncul sejak 2015, setahun sebelum ia pulang dari Amerika Serikat. Selama bekerja di kapal pesiar, Eka mendapat pengalaman tentang pemilahan sampah. Modal pengetahuan itu ia bawa pulang dan menjadi fondasi Rumah Plastik Mandiri.
“Saya masih orang Bali yang harus menyama braya, harus odalan. Rumah plastik membuat saya tidak harus jauh dengan keluarga. Selain itu, Rumah Plastik adalah cara saya mewujudkan idealisme saya untuk berbuat sesuatu bagi rumah saya sendiri, yaitu Buleleng dan Bali,” kata Eka.

Mungkin Iwan Fals benar ketika menyanyikan “keinginan adalah sumber penderitaan.” Itu juga yang harus dialami oleh Eka di masa-masa awal Rumah Plastik.
Waktu, biaya, dan banyak sumber daya ia habiskan untuk mengembangkan peralatan dan menemukan metode pengolahan yang sesuai. Uji coba yang ia lakukan tak selalu berhasil, sebagian gagal.
Sekarang, Eka bisa menengok ke belakang, menengok perjalanan sepuluh tahunnya bersama Rumah Plastik dengan senyum terkembang. “Saat ini saya buktikan bahwa keputusan saya saat itu (meninggalkan kapal pesiar) tidak salah. Istri saya dari awal memberikan dukungan penuh tanpa henti ketika saya memutuskan untuk kembali dan mendirikan Rumah Plastik,” ucapnya.
Tak lagi di jalan sunyi
Saat saya berkunjung ke sana, tampak dua mahasiswa asal Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang, tengah menjalani magang di Rumah Plastik Mandiri. Keduanya belajar proses pengolahan sampah plastik dari hulu ke hilir sebelum pulang ke Kupang saat proses magang selesai. Mereka diharapkan bisa membantu membangun fondasi pengolahan sampah plastik di daerahnya sendiri.
Sebelumnya, rombongan peneliti dari University of Wroclaw dari Polandia datang untuk melakukan riset. Kedatangan mereka disusul oleh Stanford University dan Harvard University. “Ketiga universitas itu tertarik dengan pengelolaan sampah plastik yang kami lakukan,” tutur Eka.

Eka mengatakan banyak perubahan terjadi terutama ketika Rumah Plastik Mandiri mulai mendapatkan lampu sorot dan perhatian dari banyak pihak. Ia mengaku yang paling banyak berubah adalah tanggung jawab.
“Karena saat ini kan kami banyak bekerja sama dengan pemerintah daerah, juga brand owner dari swasta. Kami mengubah banyak SOP, merekrut lebih banyak tenaga kerja, dan yang paling terasa adalah disiplin dalam administrasi,” kata Eka di tengah suara mesin pencacah yang sedang bekerja. Angka di jam digital saya menunjukkan pukul 16.00 Wita, para pekerja mulai mengeluarkan sisa-sisa tenaga terbaiknya karena tepat pukul 17.00 Wita, Rumah Plastik Mandiri menghentikan kegiatan operasionalnya hari itu.
Selain tanggung jawab, adaptasi lain yang Eka harus jalani adalah caranya mengambil keputusan. Ia mengatakan harus lebih tahu diri dan tahu kapan waktunya mengembangkan bisnis serta kapan waktunya untuk menjalankan riset tentang proses pengolahan sampah plastik.

Saat ini ia pun juga menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu. Jika pada masa awal tantangannya adalah membuktikan bahwa sampah plastik bisa menjadi bisnis yang tak hanya menguntungkan, tetapi juga bisa bertahan lama, sekarang tantangannya adalah mereplikasi konsep Rumah Plastik Mandiri di daerah lain.
“Banyak permintaan (untuk mereplikasi Rumah Plastik). Nah, yang jadi soal adalah Rumah Plastik ini bentuk dan konsepnya saya bangun sendiri; Rumah Plastik adalah Eka Darmawan. Mungkin bisa saja konsep Rumah Plastik dibawa ke daerah lain, tapi apakah mereka bisa mereplikasi Eka Darmawan?” terang Eka.
Itulah alasan mengapa Eka ngebet mengembangkan pusat edukasi pengelolaan sampah plastik di Petandakan. Ia ingin mereka yang berminat untuk mereplikasi Rumah Plastik bisa datang dan belajar di sana.
Rumah Plastik Mandiri kini tak lagi berjalan di jalan sunyi. Tempat ini semakin besar dan satu per satu mimpi Eka telah terwujud. Satu mimpi yang sama dengan yang ia utarakan dua tahun lalu ketika kita bertemu di workshop Rumah Plastik di Banyuning, Buleleng, Bali, masih berkelindan di kepalanya. “Masih sama. Saya masih ingin membuat rumah yang seratus persen dari plastik. Itu saya rasa akan menjadi solusi atas krisis lahan dan hunian yang dialami oleh manusia modern sekarang,” kata Eka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....