Sekolah Rakyat, Saat Kemiskinan Tak Lagi Mematahkan Mimpi

  • 26 Jun 2026 22:52 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Gurau sekelompok anak pecah di antara hamparan sawah Desa Banjar Anyar, Kabupaten Tabanan, Bali. Tawa mereka berlarian mengikuti embusan angin pagi, melintasi pematang yang masih basah oleh embun. Kaki-kaki mungil itu berlari tanpa alas, sesekali berhenti memungut cangkul kecil, peleah pisang kering, atau alat bertani lain yang berubah menjadi properti permainan.

Bagi anak-anak buruh tani, yang kehidupannya mengikuti irama musim tanam dan musim panen, sawah adalah dunia pertama yang mereka kenal. Hamparan padi menjadi kanvas masa kecil, tumpukan jerami berubah menjadi istana khayalan, dan sungai kecil di samping rumah menjadi saksi tawa yang tak mengenal lelah hingga senja datang menjemput. Di sanalah kenangan tumbuh, sederhana, namun begitu kaya makna.

Namun, ketika musim panen tak datang sesuai harapan, tertunda karena cuaca yang tak menentu atau berbagai faktor lain,kehidupan para buruh tani ikut terguncang. Penghasilan yang tak pasti membuat banyak keluarga hanya mampu berjuang memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Keluarga Ketut Darwa misalnya, Sehari-hari, pria itu bekerja sebagai petani tradisional, menggantungkan seluruh harapan hidup pada hasil panen yang tak pernah benar-benar bisa dipastikan.

Saat padi mulai menguning di sawah milik warga desa. (Foto: RRI/Riska Desaindra).

“ya beginilah, saya Bertani menggarap lahan orang, jadi hanya bergantung pada pendapatan panen saja, kalau panen gagal, atau tidak sesuai rencana, makan yang ada saja,” Kata Darwa.

Setiap hari, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang sama, bagaimana memastikan ada makanan di meja untuk esok pagi. Kegelisahan itu nyaris tak pernah pergi. Namun, di balik segala keterbatasan, Darwa menyimpan mimpi yang sederhana, tetapi begitu besar. Jika dirinya harus terus bergelut dengan kerasnya hidup di sawah, ia berharap anak-anaknya tidak.

“saya bermimpi menyekolahkan anak tinggi tidak berani, tapi melihat anak saya memiliki mimpi yang tinggi, saya tidak tega mengugurkannya, sembari berdoa kepada Tuhan agar memerikan jalan,” lanjut Darwa.

Harapan itu sempat terasa begitu jauh, hingga suatu hari beberapa petugas dari desa datang mengetuk pintu rumahnya. Awalnya, Darwa mengira kedatangan mereka hanya untuk pendataan seperti biasanya. Namun, percakapan siang itu membawa kabar yang tak pernah ia duga. Petugas desa memberitahunya bahwa keluarganya telah terdata dalam Data Tunggal Kesejahteraan Sosial (DTKS) sebagai keluarga yang berhak menerima program bantuan pemerintah.

“Serasa doa saya terjawab, petugas dari dinas sosial saat itu datang dan mendata, kemudian saya dikabari mendapatkan bantuan, dan astungkara saat itu anak saya arlan akan masuk SMP, terpilih untuk masuk Sekolah Rakyat, dan mendaptkan asrama,” kata Darwa sembari memutar ingatakan pada kenangan 1 tahun lalu.

Ia menuturkan Arlan, anaknya sudah menunjukan ketertarikan pada Bahasa asing sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).

“ya cita citanya masih berubah ubah, tapi karena suka belajar ia memiliki cita – cita tinggi, saya selalu support, paling tidak selama di sekolah menengah Arlan sudah terjamin di asrama, mendapatkan Pendidikan juga,” ujarnya.

Sebagai kepala keluarga dengan penghasilan yang bahkan kerap tak mencapai Rp500 ribu per bulan, Darwa pernah merasa mimpinya terlalu mahal. Ia membayangkan anak-anaknya hanya akan mampu menamatkan sekolah dasar, atau paling jauh hingga SMP. Selebihnya, mereka mungkin akan kembali ke sawah, memanggul cangkul, dan menjalani kehidupan yang sama seperti dirinya.

“Akhirnya saya merasa pantas bermimpi, anak saya pun tak harus mengubur mimpinya,” katanya

Ketut Darwa merupakan salah satu warga yang terdaftar dalam Data Tunggal Kesejahteraan Sosial (DTKS), basis data pemerintah bagi masyarakat miskin dan rentan. Hingga pertengahan 2026, berdasarkan data Dinas Sosial Provinsi Bali, persentase penduduk miskin di Bali turun menjadi 3,42 persen dari 4 persen pada tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadikan Bali sebagai provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah di Indonesia.

Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha, I Nengah Suarmanayasa, mengatakan kemiskinan ekstrem masih menjadi realitas di sejumlah wilayah pedesaan di Bali. Menurutnya, masih banyak keluarga yang harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar, sehingga pendidikan sering kali menjadi pilihan yang sulit karena terbentur biaya.

Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha, I Nengah Suarmanayasa. (Foto: RRI/Suarmanayasa).

"Di desa masih ada keluarga yang benar-benar hidup dalam kemiskinan yang tidak terlihat. Bagi mereka, menyekolahkan anak tanpa harus memikirkan biaya adalah sebuah kemewahan yang belum tentu bisa dirasakan,” ujar Suarmanayasa.

Menurut Suarmanayasa, membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul mustahil tercapai apabila akses terhadap pendidikan belum merata. Selama masih ada anak dari keluarga miskin yang tidak dapat mengenyam pendidikan karena keterbatasan ekonomi, cita-cita menciptakan SDM berkualitas akan sulit diwujudkan.

"Kalau kita ingin memiliki SDM yang unggul, maka tidak ada pilihan selain memastikan setiap anak bisa mengenyam pendidikan. Selama masih ada anak yang putus sekolah atau tidak bisa melanjutkan pendidikan karena kemiskinan, cita-cita membangun sumber daya manusia yang berkualitas akan selalu menyisakan ketimpangan," ucapnya.

Sementara itu, pemerintah melalui program prioritas Presiden yang dijalankan Kementerian Sosial menghadirkan Sekolah Rakyat sebagai bentuk afirmasi negara bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan. Program ini ditujukan untuk menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini kerap luput dari layanan pendidikan atau invisible people, sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Respons masyarakat terhadap program tersebut pun melampaui target pemerintah. Hingga awal Juni 2026, lebih dari 42 ribu anak telah terdata dalam proses penjangkauan sebagai calon siswa Sekolah Rakyat, sementara kapasitas yang disiapkan hanya sekitar 32.640 siswa di seluruh Indonesia.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan tingginya jumlah calon siswa menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap akses pendidikan bagi keluarga miskin.

"calon siswa yang sudah dijangkau mencapai 42 ribu anak, sementara alokasi yang tersedia sebanyak 32.640 siswa di seluruh Indonesia. Artinya, proses penjangkauan sudah melebihi target yang ditetapkan," ujarnya pada Kamis, 3 Juni 2026.

Saat Baret Merah Menjadi Penjaga Asa

Setelah seluruh proses pendaftaran rampung, Darwa dan sang istri akhirnya mengantar putra mereka, I Ketut Arlan Adrianata, menapakkan kaki untuk pertama kalinya di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan. Langkah kecil itu menjadi awal perjalanan baru yang selama ini hanya berani mereka impikan.

Arlan tampak mengenakan baret merah dan cardigan dengan warna senada. Seragam itu bukan sekadar kelengkapan atribut sekolah, melainkan simbol dimulainya babak baru dalam hidupnya. Di balik baret merah yang dikenakannya, tersimpan harapan kedua orang tuanya agar langkah pertama di Sekolah Rakyat menjadi pijakan menuju masa depan yang lebih baik, masa depan yang dahulu terasa begitu jauh untuk diraih.

Memasuki tahun pertamanya di jenjang sekolah menengah, Arlan menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Ia mulai menaruh minat besar pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan mampu menunjukkan prestasi yang baik di sejumlah mata pelajaran lainnya.

Kepala Sekolah Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, I Putu Jaya Negara, membenarkan bahwa Arlan merupakan salah satu siswa dengan kemampuan akademik yang menonjol. Menurutnya, Arlan memiliki semangat belajar yang tinggi, cepat memahami materi, serta aktif mengikuti proses pembelajaran di kelas.

"Arlan itu anak yang cepat menangkap pelajaran. Kalau dijelaskan sekali, biasanya dia sudah paham. Dia juga tidak malu bertanya kalau ada yang belum dimengerti. Yang paling menonjol, dia memang senang sekali dengan Bahasa Inggris. Kami melihat dia punya potensi besar, tinggal terus didampingi dan diberi kesempatan untuk berkembang," ujar I Putu Jaya Negara.

Saat ditemui usai mengikuti kegiatan belajar, Arlan tampak malu-malu. Sesekali ia tersenyum sambil merapikan baret merah yang dikenakannya. Namun, ketika ditanya tentang pelajaran favoritnya, matanya langsung berbinar.

"Aku paling suka Bahasa Inggris. Seru, soalnya bisa belajar kata-kata baru dan nanti kalau sudah besar aku ingin bisa ngobrol sama banyak orang. Aku juga senang sekolah di sini, gurunya baik-baik dan aku jadi punya banyak teman," ucap Arlan polos.

Arlan hanyalah salah satu dari 74 siswa yang kini menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan. Mereka datang dari berbagai kabupaten dan kota di Bali, membawa cerita hidup yang berbeda, tetapi dengan harapan yang sama, memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan dan mengubah masa depan.

Ketika Mimpi Membawanya Bertemu Presiden

"Thank you, President Prabowo Subianto. Thank you for giving us school, food, shelter, teachers, and hope. Thank you, because Indonesia's future belongs to every child," ujar Arlan.

Kalimat itu meluncur fasih dari bibir Arlan saat menyambut kunjungan Presiden Prabowo Subianto di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan, Minggu, 7 Juni 2026. Di hadapan Presiden, pejabat negara, guru, dan ratusan pasang mata yang menyaksikan, Arlan menyampaikan rasa terima kasih dalam bahasa Inggris dengan penuh percaya diri.

Penampilan I Ketut Arlan Adrianata di hadapan Presiden Prabowo Subianto di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan. (Foto: RRI/Riska Desiandra).

Siapa sangka, kemampuan berbahasa Inggris yang ia tekuni sejak bergabung di Sekolah Rakyat justru mengantarkannya pada kesempatan yang tak pernah terlintas dalam benaknya. Putra seorang buruh tani itu dipercaya menjadi wakil siswa untuk menyambut Presiden. Bagi Arlan, momen tersebut bukan sekadar berdiri di hadapan orang nomor satu di Indonesia, melainkan menjadi bukti bahwa kesempatan yang diberikan negara mampu mengubah arah perjalanan hidup seorang anak.

Pada kesempatan tersebut, Presiden Prabowo Subianto juga menanyakan cita-cita Arlan setelah menempuh Pendidikan. Dengan lantang, Arlan menjawab bahwa ia ingin menjadi Menteri Pendidikan.

“Cita-cita saya mau jadi Menteri Pendidikan karena saya itu peduli dengan generasi-generasi muda. Jadi, saya itu ingin mendidik dan bisa memberikan hal-hal baik kepada generasi mendatang,” kata Arlan.

Bukan tanpa alasan. Bagi Arlan, pendidikan telah mengubah jalan hidupnya. Karena itu, ia ingin kelak memastikan lebih banyak anak Indonesia, terutama mereka yang lahir dari keluarga kurang mampu, memperoleh kesempatan yang sama seperti yang kini ia rasakan.

Pertemuan dengan Presiden juga meninggalkan pesan yang terus diingatnya. Arlan mengaku mendapat dorongan untuk tidak pernah menyerah dalam mengejar impian, seberat apa pun rintangan yang dihadapi.

Kunjungan Presiden di SRMP 17 Tabanan, Bali. (Foto: RRI/Dok).

Dalam kunjungannya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan Sekolah Rakyat merupakan wujud kehadiran negara untuk memberikan akses pendidikan kepada anak-anak dari keluarga yang paling membutuhkan. Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu kunci utama dalam memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Tujuan pembangunan bangsa ini adalah agar seluruh rakyat Indonesia bisa hidup layak dan sejahtera. Karena itu, kita harus bekerja keras di semua bidang, dan salah satu yang paling penting adalah pendidikan," ujar Prabowo.

Perjalanan Arlan masih panjang. Namun, langkah pertamanya telah membuktikan bahwa kemiskinan tidak harus menjadi akhir dari sebuah mimpi.

Bagi Arlan dan puluhan anak lainnya, Sekolah Rakyat membuka pintu yang selama ini terasa tertutup. Dari ruang kelas itu, mereka belajar, membangun kepercayaan diri, dan berani bermimpi lebih tinggi.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang sekolah. Ia adalah kesempatan. Kesempatan yang membuat seorang anak petani berani berdiri di hadapan Presiden dan percaya bahwa masa depannya ditentukan oleh mimpi, bukan oleh keadaan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....