Ketika Sampah Berubah Wajah, Pesan yang Menyebrang Lewat Karya
- 15 Jun 2026 22:38 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Kaisan sampah di bawah terik matahari yang tepat menggantung di atas kepala terdengar saling sahut-menyahut. Dari pintu masuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bengkala, Buleleng ,Bali tak tampak seorang pun bekerja. Yang terdengar hanya bunyi gesekan plastik, kardus, dan kaleng yang berpindah dari satu tumpukan ke tumpukan lainnya.
Di balik gunungan sampah setinggi rumah yang telah bertahun-tahun menampung sisa kehidupan manusia itu, perlahan muncul sepasang tangan yang bergerak cekatan. Tangan itu milik Nyoman Sudiarta seorang pria bertubuh semampai yang setiap hari mengais harapan di antara limbah.
Wajahnya mengilap oleh keringat di bawah terik matahari siang. Sebuah topi berwarna biru muda menutupi kepalanya, sementara tas anyaman jerami tergantung di pundaknya, setia menampung barang-barang bekas yang berhasil ia kumpulkan.
Bau menyengat yang membuat sebagian orang refleks menutup hidung justru menjadi udara yang akrab baginya. Kedua lengannya tumbuh tak sepenuhnya serupa, sebuah kondisi yang telah menyertainya sejak lahir. Namun, di balik perbedaan itu, tersimpan ketangguhan yang membuatnya terus bergerak dan bekerja tanpa mengenal keluh.
Berbeda dari pemulung kebanyakan, pria yang dulu berjualan bubur kacang hijau ini tak hanya mengumpulkan sampah, tetapi juga mengubah kardus dan plastik bekas menjadi topeng.
“Saya ini sebenarnya pedagang bubur kacang hijau yang setiap pagi berjualan di depan kantor camat. Semua berubah ketika pertama kali Pak Camat meminta saya membuat patung dari sampah,” kata Sudiarta, mengenang perjalanan hidupnya lima tahun silam.
Permintaan sederhana itu ternyata menjadi titik balik yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari tangan yang sehari-hari mengaduk bubur, lahir sebuah karya yang berhasil mengantarkannya meraih juara pertama dalam sebuah lomba. Namun seiring berjalannya waktu, kesibukan mencari nafkah membuat aktivitas berkaryanya perlahan terhenti dan vakum.
Hingga beberapa tahun kemudian, kegelisahannya kembali terusik. Melihat tumpukan sampah di Bali yang semakin hari semakin mengkhawatirkan, semangat yang sempat padam itu kembali menyala. Ia pun mulai mengumpulkan kardus dan plastik bekas, bukan untuk dibuang, melainkan untuk dihidupkan kembali menjadi karya yang memiliki nilai dan pesan bagi lingkungan.
“Saya tetap berjualan seperti biasa. Tapi sebagai orang kecil, saya makin khawatir melihat sampah yang semakin banyak dan seperti tidak ada habisnya. Apalagi saya punya anak. Kadang saya berpikir, seperti apa lingkungan yang akan mereka warisi kalau masalah sampah ini terus dibiarkan,” ujarnya lirih.
Dari Sampah untuk Seni
Keresahan terhadap persoalan sampah bukan hanya dirasakan Sudiarta. Kekhawatiran yang sama juga menghantui banyak warga Bali yang setiap hari menyaksikan tumpukan sampah terus bertambah. Bukan tanpa alasan, Berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah di Provinsi Bali mencapai sekitar 1,2 juta hingga 1,5 juta ton per tahun, atau setara 3.400 hingga 4.200 ton setiap hari.
Di tengah keterbatasannya, ia memilih melakukan sesuatu yang sederhana namun bermakna. Melalui karya-karya yang lahir dari kardus dan plastik bekas, ia berupaya mengingatkan bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai limbah.
Sekitar pertengahan 2023, Sudiarta mengajak istrinya kembali menggeluti seni mengolah sampah yang sempat lama ditinggalkan. Dari kardus dan plastik bekas yang ia kumpulkan, lahirlah berbagai karya. Namun, perhatiannya kemudian tertuju pada satu warisan budaya yang mulai jarang disentuh generasi muda: Wayang Wong Tejakula.
Wayang Wong Tejakula, atau Wayang Manusia, merupakan drama tari topeng sakral khas Buleleng yang mengangkat kisah Ramayana dan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Meski memiliki nilai budaya tinggi, kesenian ini tidak dapat dipentaskan sembarangan. Topeng yang digunakan bersifat sakral dan harus melalui upacara adat sebelum dipakai.

Tak hanya itu, penarinya juga berasal dari garis keturunan laki-laki tertentu. Keterbatasan tersebut membuat ruang regenerasi menjadi semakin sempit dan minat generasi muda untuk mengenalnya pun terus menurun.
Melihat kondisi itu, Sudiarta tergerak membuat replika topeng Wayang Wong dari kardus dan plastik bekas. Baginya, replika tersebut menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan Wayang Wong kepada masyarakat tanpa harus menggunakan topeng sakral.

“di desa saya tidak sedikit yang bisa mememntaskan wayang wong, dari situ lah saya berpikir untuk membuat replika topeng tokoh penarinya, agar dapat dipelajari oleh generasi muda. Apalagi Wayang wong in ikan sangat terkenal di Bali bahkan luar negeri,” Ucapnya.
Dari sinilah ia mulai membuat satu per satu tokoh Wayang Wong, termasuk karakter-karakter kera atau wanara yang dikenal dalam kisah Ramayana.
“Topeng yang pertama saya buat adalah Wanara, karena paling terkenal dan identik dengan pementasan wayang wong,” Katanya.
Langkah awalnya tidak mudah. Sudiarta harus mengetuk pintu demi pintu, mengajak satu per satu anak muda di lingkungannya untuk mengenal kembali Wayang Wong. Dengan topeng replika yang dibuat dari kardus dan plastik bekas, ia berusaha menumbuhkan ketertarikan mereka pada seni yang perlahan mulai ditinggalkan.
“Saya harus mengajak satu per satu. Kadang mereka mengira ini hanya main-main, tapi saya bilang ini bagian dari budaya kita yang harus dijaga. Saya gunakan topeng dari kardus dan plastik bekas supaya mereka bisa belajar tanpa takut atau terbebani. Yang penting mereka mengenal dulu, lalu mencintainya,” kata Sudiarta.
Ketertarikan anak-anak mulai tumbuh ketika mengetahui topeng yang mereka gunakan terbuat dari kardus dan plastik bekas. Tidak ada rasa takut merusak atau salah menggunakannya seperti pada topeng sakral. Mereka bisa memegang, mencoba, bahkan memakainya dengan leluasa.
Seiring waktu, karya-karya Sudiarta mulai dikenal lebih luas. Topeng Wayang Wong yang dibuatnya dari kardus dan plastik bekas menarik perhatian masyarakat karena dinilai unik dan memiliki pesan lingkungan yang kuat.
Dari mulut ke mulut, namanya semakin dikenal sebagai pembuat topeng berbahan sampah. Banyak orang datang untuk melihat proses pembuatannya, sementara sebagian lainnya mulai memesan topeng untuk kegiatan seni, edukasi, hingga pameran.

“Saya kaget juga. Awalnya hanya membuat untuk belajar dan latihan anak-anak di sini. Ternyata banyak yang tertarik karena bahannya dari sampah. Dari situ pesanan mulai datang, ada yang untuk pameran, kegiatan seni, sampai untuk koleksi pribadi,” ujarnya.
Satu per satu pesanan pun mulai berdatangan. Kardus dan plastik bekas yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini berubah menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi. Dari kegelisahan terhadap sampah, Sudiarta perlahan menemukan cara untuk menjaga lingkungan sekaligus melestarikan seni budaya melalui topeng-topeng buatannya.
Menjelma sebagai Pencipta Recycle Mask
Dari kegelisahan terhadap sampah, nama Sudiarta perlahan melambung sebagai perajin topeng daur ulang dari Bali Utara. Pesanan pun berdatangan, mulai dari satuan, puluhan, hingga ratusan topeng.
Kepercayaan itu mencapai puncaknya saat Sudiarta dipercaya menjadi salah satu mitra dalam perhelatan Buleleng Festival 2025. Pada ajang tersebut, ia mendapat pesanan untuk membuat 1.000 topeng yang dipamerkan dan dijadikan instalasi seni dalam rangkaian festival.
“Saat dipercaya membuat 1.000 topeng untuk Buleleng Festival 2025, saya merasa sangat bersyukur. Bagi saya, ini bukan hanya tentang jumlah pesanan, tetapi tentang bagaimana karya dari barang yang dianggap tidak berguna ternyata bisa dihargai dan dinikmati banyak orang,” katanya.
Bagi Sudiarta, kesempatan itu bukan sekadar pesanan dalam jumlah besar, melainkan pengakuan bahwa karya yang lahir dari barang-barang terbuang mampu mendapat tempat di ruang publik dan diapresiasi oleh masyarakat luas.
Niat mulia Sudiarta mengubah sampah menjadi karya sekaligus media pelestarian budaya terus menuai apresiasi. Berbagai penghargaan dan pengakuan datang silih berganti, seiring semakin luasnya manfaat yang dihasilkan dari karya-karyanya.
Puncaknya April 2026, kreativitas yang lahir dari tangan Sudiarta kembali mendapat pengakuan resmi. Karya bertajuk "Recycle Mask" berhasil memperoleh Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI), sebuah pengakuan atas inovasi yang memadukan kepedulian lingkungan dengan pelestarian seni budaya.
Sertifikat tersebut diterima oleh Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, dan diserahkan oleh Supratman Andi Agtas dalam seremoni yang berlangsung di Balai Budaya Ida Dewa Agung Istri Kanya. Acara itu juga dihadiri oleh Megawati Soekarnoputri serta Wayan Koster bersama sejumlah pejabat lainnya.
Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi karya kreatif yang memiliki nilai seni sekaligus manfaat ekonomi. Menurutnya, pengakuan melalui Hak Kekayaan Intelektual (HKI) juga menjadi langkah penting untuk melindungi karya masyarakat agar tidak disalahgunakan oleh pihak lain.
“Dengan adanya perlindungan hukum, para pelaku ekonomi kreatif diharapkan semakin percaya diri untuk terus berinovasi dan mengembangkan karyanya,” ujar Sutjidra.
Bertahun-tahun bergelut dengan sampah, kreativitas dan ketekunannya akhirnya menemukan jalan. Perjuangan itu mengantarkan Sudiarta menjadi sosok di balik Recycle Mask, topeng daur ulang yang kini dikenal luas sebagai simbol kepedulian lingkungan dan pelestarian seni.
“Saya sebenarnya masih tidak percaya. Di benak saya, sampai sekarang, saya ini hanya tukang bubur. Saya hanya mengisi waktu luang dengan melakukan sesuatu yang menurut saya bisa menjawab keresahan tentang lingkungan. Tidak pernah terpikir akan sampai seperti ini,” ujar Sudiarta sambil tersenyum.
Saat Karya Membuka Jalan Rezeki
Tak hanya menjaga lingkungan dan melestarikan budaya, topeng-topeng buatan Sudiarta perlahan juga membuka jalan rezeki. Kardus dan plastik bekas yang dulu ia kumpulkan dari tumpukan sampah kini berubah menjadi karya yang memiliki nilai jual.
Harga yang ditawarkan pun beragam. Untuk topeng sederhana, Sudiarta menjualnya mulai Rp35.000. Sementara untuk karya dengan ukuran besar dan detail yang lebih rumit, harganya bisa mencapai jutaan rupiah.
“Harga topengnya berbeda-beda, tergantung ukuran dan tingkat kesulitannya. Yang sederhana biasanya mulai Rp35 ribu, tapi kalau pesanan khusus dengan detail yang lebih rumit bisa sampai jutaan rupiah,” ujar Sudiarta.
Jangkauan karya Sudiarta pun terus meluas. Permintaan topeng dan patung berbahan daur ulang kini datang dari berbagai daerah, mulai dari Denpasar, Gianyar, hingga sejumlah wilayah lain di Bali. Bahkan, pesanan juga mengalir dari luar pulau, termasuk Kalimantan.
Tak hanya itu, karya-karyanya juga mulai menarik perhatian wisatawan mancanegara. Melalui tamu-tamu villa yang berkunjung ke Bali, topeng buatan Sudiarta menembus pasar internasional. Beberapa karyanya telah dibawa hingga Australia dan Belanda, menjangkau tempat-tempat yang dulu tak pernah ia bayangkan.
“Sekarang pesanan sudah datang dari berbagai daerah. Ada dari Denpasar, Gianyar, bahkan sampai Kalimantan. Yang membuat saya senang, beberapa tamu villa yang melihat karya saya juga membawanya ke luar negeri, seperti Australia dan Belanda. Saya tidak pernah menyangka topeng dari kardus dan plastik bekas bisa sampai sejauh itu,” ujar Sudiarta.
Di tengah keterbatasan yang dimilikinya, karya-karya Sudiarta justru mampu menjangkau berbagai daerah, bahkan hingga tempat-tempat yang belum pernah ia datangi. Untuk memenuhi permintaan tersebut, Sudiarta mengandalkan jasa pengiriman PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE).

“Pengirimannya saya gunakan JNE. Karena keterbatasan waktu kalau harus saya antar sendiri, lebih cepat menggunakan jasa pengiriman yang sudah dipercaya,” kata Sudiarta.
Baginya, kehadiran layanan logistik yang andal menjadi jembatan penting agar topeng dan patung berbahan daur ulang hasil karyanya dapat sampai ke tangan pelanggan di berbagai penjuru Indonesia.
Memilih JNE juga turut membantu kelancaran distribusi karya seni Sudiarta. Proses pengiriman menjadi lebih cepat, sehingga karya-karyanya dapat diterima oleh pelanggan di berbagai daerah tanpa kendala berarti. Berbagai kemudahan seperti layanan antar jemput hingga program diskon ongkos kirim juga menjadi faktor yang mendukung kelancaran proses distribusi tersebut.
“Kalau pilih jasa pengiriman yang tepat itu sangat membantu. Ada layanan antar jemput, jadi saya tidak perlu selalu antar sendiri. Ditambah lagi ada kemudahan seperti diskon ongkos kirim, jadi karya saya bisa lebih cepat sampai ke pembeli di berbagai daerah,” ujar Sudiarta.
Selama 35 tahun berkiprah, JNE terus mengukuhkan perannya sebagai salah satu perusahaan logistik terdepan di Indonesia. Melalui semangat Connecting Happiness, JNE tak hanya mengantarkan paket ke tujuan, tetapi juga menjadi penghubung harapan, kerja keras, dan mimpi jutaan pelanggan di berbagai daerah.
Kepala Cabang Utama (Branch Manager) JNE Denpasar, Nyoman Alit Septiniwati, mengatakan setiap kiriman memiliki cerita dan nilai yang berbeda bagi pengirim maupun penerimanya. Karena itu, JNE berkomitmen menghadirkan layanan distribusi yang aman, tepat waktu, dan dapat diandalkan.
“Melalui semangat Connecting Happiness, kami ingin memastikan setiap kiriman dapat sampai dengan aman dan tepat waktu. Bagi kami, yang dikirim bukan hanya barang, tetapi juga harapan, kerja keras, dan impian para pelanggan. Karena itu, kami terus berkomitmen menghadirkan pelayanan terbaik agar masyarakat di berbagai daerah dapat tetap terhubung dan berkembang bersama,” ujar Alit.
Komitmen tersebut mengantarkan JNE meraih penghargaan Golden Brand of The Year 2026. Penghargaan ini diberikan karena JNE dinilai sebagai perusahaan yang adaptif, inovatif, serta mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Salah satu dampak itu juga dirasakan oleh Sudiarta. Melalui layanan pengiriman yang mudah dan terjangkau, ia mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan menemukan peluang ekonomi dari karya seni daur ulang yang ia buat.
“Bisa menjual topeng dari kardus itu saja masih seperti mimpi buat saya. Apalagi sekarang karya ini bisa dipasarkan ke banyak tempat. Saya juga merasa tidak sendiri, karena setiap kali ada yang membeli, itu seperti bentuk kolaborasi. Saya berkarya, mereka mendukung, dan sama-sama ikut menjaga lingkungan ini,” ujar Sudiarta.
Dari sudut kecil Bali Utara, cerita Sudiarta membawa semangat yang terus menjalar. Semangat itulah yang menghubungkan perjalanan Sudiarta dengan para pelanggannya. Topeng-topeng berbahan kardus dan plastik bekas hasil kreasinya kini menjangkau berbagai daerah, bahkan menembus batas negara.
Di balik setiap paket yang dikirim, tersimpan cerita tentang kepedulian terhadap lingkungan, upaya melestarikan budaya, serta harapan sederhana yang tumbuh dan bergerak bersama, dari tumpukan sampah hingga menjelma menjadi karya yang bernilai.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....