Delima Network Hadirkan Akses Internet Terjangkau Bagi Masyarakat
- 07 Okt 2026 10:15 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- I Gede Surespayuki Widiarsa Gelgel mendirikan Delima Network sejak 2019 untuk menjawab keterbatasan jangkauan internet provider nasional di wilayah perdesaan Buleleng, Bali, yang masih menjadi zona gelap digital.
- Inisiatif ini berawal dari pengalaman pribadi Surespayuki ketika kembali ke desa dan menyadari tingginya beban biaya internet untuk penggunaan beberapa perangkat secara bersamaan.
RRI.CO.ID, Singaraja - Keterbatasan jaringan internet di wilayah perdesaan mendorong Pendiri Delima Network, I Gede Surespayuki Widiarsa Gelgel, merintis layanan internet berbasis kebutuhan masyarakat sejak 2019. Saat itu, jaringan dari provider nasional hanya menjangkau kawasan jalan raya, sementara sejumlah permukiman masih menjadi wilayah black spot.
Surespayuki mengatakan gagasan tersebut juga berangkat dari tingginya kebutuhan internet pribadi saat hendak kembali ke desa. Penggunaan beberapa perangkat membuat biaya paket data mencapai lebih dari Rp400 ribu per bulan, sehingga ia mencari alternatif internet yang lebih terjangkau dengan sistem penggunaan tanpa batas kuota.
“Kebutuhan internet saya lumayan tinggi. Ada empat device yang harus saya pakai, masing-masing waktu itu sekitar 60 ribu dan itu pun dua minggu. Jadi bisa dikalkulasi kurang lebih sekitar Rp400 ribu sekian,” ujarnya.
Layanan tersebut mulai diluncurkan pada 2021 dan awalnya dibangun dengan sistem gotong royong. Masyarakat yang ingin berlangganan dihimpun terlebih dahulu agar pembangunan jaringan dapat dilakukan bersama, dengan minimal sekitar lima pelanggan di satu wilayah.
Berbeda dengan paket data seluler yang dibatasi jumlah kuota, layanan ini menggunakan batas bandwidth. Artinya, pelanggan tidak dibatasi jumlah data yang digunakan, tetapi kapasitas kecepatan disesuaikan dengan paket yang dipilih.
“Di sini pakai sepuasnya, tetapi batasannya di bandwidth," kata Surespayuki.
Saat ini jaringan Delima Network telah tersedia di Desa Bukti dan Bulian yang berada di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali. Setiap calon pelanggan terlebih dahulu disurvei untuk memastikan jangkauan jaringan, sementara biaya pemasangan tersedia dalam skema promo dan reguler dengan sistem pembayaran prabayar.
Di tengah semakin banyaknya provider yang masuk ke wilayah perdesaan, Gede mengatakan pihaknya berupaya mempertahankan layanan dengan menyesuaikan harga dengan kebutuhan masyarakat. Fleksibilitas serta komunikasi dengan pelanggan juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan layanan internet di desa.
Kata Kunci / Tags
Audio
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....