Saab Mute Nagasepaha, Menolak Padam di Simpang Zaman
- 30 Sep 2026 16:00 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Kerajinan saab mute dari Desa Nagasepaha, Buleleng, Bali, tetap bertahan meskipun menghadapi perubahan zaman dan pergeseran pilihan pekerjaan generasi muda.
- Kerajinan ini dibuat dari bahan-bahan tradisional seperti daun lontar (ental), kain beludru, dan manik-manik (mute).
- Selain digunakan untuk keperluan adat dan keagamaan Hindu, kerajinan saab mute juga berfungsi sebagai sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat lokal.
RRI.CO.ID, Singaraja – Di tengah perubahan zaman dan pergeseran pilihan pekerjaan generasi muda, kerajinan saab mute di Desa Nagasepaha, Buleleng, Bali, masih terus bertahan.
Terbuat dari daun lontar (ental), kain beludru, dan manik-manik (mute), kerajinan ini tidak hanya digunakan untuk keperluan adat dan keagamaan Hindu, tetapi juga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi sebagian masyarakat.
Perbekel Desa Nagasepaha, I Wayan Sumeken, mengatakan saab mute merupakan salah satu potensi budaya yang menjadi bagian dari identitas desa. Pemerintah desa pun berupaya mendorong pengembangannya agar kerajinan tersebut dapat menjadi salah satu ikon Desa Nagasepaha.
“Ini ikon kita. Kami ingin saab mute bisa menjadi salah satu ikon Desa Nagasepaha dan terus dikembangkan sebagai warisan budaya takbenda,” ujar Sumeken, Rabu, 30 september 2026.
Menurut Sumeken, keterampilan membuat saab mute telah diwariskan secara turun-temurun. Pada era 1990-an, hampir setiap perempuan di Desa Nagasepaha memiliki kemampuan membuat kerajinan tersebut.
Kala itu, membuat saab menjadi aktivitas yang banyak dilakukan ibu rumah tangga setelah menyelesaikan pekerjaan rumah dan mengasuh anak. Selain mengisi waktu luang, hasil penjualan kerajinan juga membantu menambah pendapatan keluarga.

Namun, jumlah pengrajin mulai berkurang memasuki tahun 2000-an. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah semakin banyak generasi muda yang melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Jika sebelumnya sebagian besar masyarakat hanya menempuh pendidikan hingga tingkat SMP, kini semakin banyak anak-anak Desa Nagasepaha melanjutkan pendidikan hingga SMA dan perguruan tinggi. Perubahan tersebut turut membuka lebih banyak pilihan pekerjaan bagi generasi muda.
Meski demikian, sejumlah warga masih mempertahankan keterampilan membuat saab mute. Bagi mereka, kerajinan tersebut dapat dikerjakan dari rumah sekaligus menjadi sumber penghasilan tambahan.
“Yang masih bertahan biasanya mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mereka membuat saab mute untuk menambah pendapatan keluarga,” kata Sumeken.
Untuk menjaga keberadaan kerajinan tersebut, Pemerintah Desa Nagasepaha juga menggandeng organisasi perangkat daerah, perguruan tinggi, dan berbagai pihak lainnya. Dukungan diberikan melalui kajian, pelatihan, praktik pembuatan, bantuan bahan, hingga pendampingan dalam pengelolaan usaha.
Sejumlah perguruan tinggi bahkan telah melakukan penelitian terhadap saab mute. Kerajinan ini dinilai memiliki keunikan sekaligus potensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk yang mengikuti kebutuhan masyarakat dan pasar.
Pemanfaatannya pun kini tidak terbatas pada kebutuhan adat dan keagamaan Hindu. Saab mute dapat dikembangkan menjadi hiasan rumah, dekorasi dinding, hingga perlengkapan seperti tedung saji.
Untuk mengikuti perkembangan pasar, para pengrajin mulai melakukan inovasi pada motif dan desain. Meski demikian, ciri khas saab mute Nagasepaha tetap dipertahankan.
“Motifnya ada yang dikombinasikan oleh pengrajin untuk menyesuaikan kebutuhan pasar. Harganya juga relatif terjangkau, mulai Rp25 ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung motif dan permintaan,” jelas Sumeken.
Salah satu pengrajin, Kadek Puniantari, mulai membuat saab mute sejak 2008. Sebagai ibu rumah tangga, ia mempelajari keterampilan tersebut sambil mengasuh anak.
“Saya mulai membuat saab mute sekitar 2008. Waktu itu sebagai ibu rumah tangga, saya belajar membuat saab mute sambil menjaga anak,” ujarnya.

Puniantari menggunakan daun lontar sebagai bahan utama yang kemudian dipadukan dengan kain beludru dan mute. Dalam sehari, ia dapat menyelesaikan sekitar dua hingga tiga saab, tergantung tingkat kerumitan motif dan jumlah pesanan.
Semakin rumit motif yang dibuat, semakin lama pula waktu pengerjaannya. Selain proses produksi, pengrajin juga menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku dan persaingan dengan produk sejenis dari daerah lain.
“Kendalanya bahan baku karena harganya terus naik, sementara harga kerajinan masih tetap. Ada persaingan dengan produk dari tempat lain sehingga harga harus menyesuaikan,” ungkap Puniantari.

Puniantari berharap semakin banyak masyarakat mengenal saab mute Nagasepaha sehingga pasar kerajinan tersebut dapat semakin luas. Dengan pasar yang lebih terbuka, para pengrajin memiliki peluang untuk terus mempertahankan keterampilan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi Desa Nagasepaha, saab mute bukan sekadar kerajinan untuk menambah pendapatan. Di balik setiap helai daun lontar, kain beludru, dan rangkaian mute, tersimpan pengetahuan serta keterampilan masyarakat yang terus dijaga agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....