Igart: Merajut Warisan Batik Khas Singaraja Bali

  • 01 Mar 2025 09:25 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Di balik lembaran kain yang indah dan sarat akan makna, terdapat kisah perjuangan seorang guru yang bertransformasi menjadi pengusaha batik. I Gusti Ayu Mahardiyani, pemilik Igart, memulai perjalanannya dari dunia pendidikan hingga akhirnya menapaki jalan usaha batik khas Bali yang unik.

Awalnya, ia adalah seorang guru DPK Tekstil di SMK 1 Sukasada. Pada tahun 2023, ia mengikuti program upskilling dan reskilling vokasi guru yang membawanya ke Yogyakarta dan Pekalongan. Di sana, ia mendapat pelatihan dari pemilik batik pesisir di Pekalongan, yang menantangnya untuk membuka usaha sendiri sebelum pensiun.

“Masa dalam enam tahun sebelum pensiun tidak bisa membuka usaha batik sendiri? Apalagi di Bali, dengar-dengar belum ada batik khas,” kenang Mahardiyani tentang tantangan yang diberikan oleh sang mentor. Dorongan itulah yang membuatnya memberanikan diri untuk memulai usaha batik khas Bali.

Dengan sisa uang yang ia miliki, Mahardiyani membeli bahan-bahan dan mulai merancang desain batik pertamanya. Berbekal latar belakang seni rupa, ia mengembangkan motif yang terinspirasi dari kearifan lokal. Salah satu karyanya adalah motif Singa Ambara Raja, lambang Singaraja yang melambangkan keberanian dan inovasi.

“Setiap desain yang saya buat selalu memiliki filosofi. Saya ingin mengangkat tradisi Bali, seperti ornamen khas dan ikon daerah, sehingga setiap motif memiliki cerita yang mendalam,” ujarnya.

Proses produksi batiknya melalui berbagai teknik, dari batik cap, batik tulis, hingga eksplorasi pada kain tenun. Ia juga mengadopsi teknik pewarnaan seperti colet dan jumputan, bahkan mengombinasikan beberapa teknik dalam satu kain. Mahardiyani mengutamakan kualitas dengan menggunakan kain primisima dan pewarna seperti natol, remasol, serta indigosol.

Namun, perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah pemasaran.

“Saya ini seniman, bukan pemasar. Sulit bagi saya untuk memasarkan produk, saya perlu tim marketing,” ucapnya. Saat ini, pemasaran batiknya masih mengandalkan dari mulut ke mulut dan media sosial seperti Instagram.

Meskipun baru merintis, Igart telah menarik minat dari pembeli, terutama dari Jakarta. Mahardiyani bercita-cita agar batiknya semakin dikenal luas dan terus berkembang. Ia juga ingin menginspirasi generasi muda untuk berani berwirausaha.

“Saya ingin usaha ini bisa bertahan dan semakin dikenal. Saya juga ingin anak-anak muda belajar membuka usaha sendiri untuk masa depan yang lebih baik,” katanya.

Dengan semangat dan kreativitasnya, Mahardiyani terus berinovasi, bahkan berencana berkolaborasi dengan rumah plastik untuk menciptakan produk baru yang menggabungkan batik dan daur ulang. Perjalanan Igart baru dimulai, tetapi dedikasi dan kecintaan Mahardiyani terhadap seni batik khas Bali telah menorehkan jejak yang kuat dalam industri batik Tanah Air.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....