Cashless Bikin Boros? Ini Penjelasan di Balik Kebiasaan Belanja tanpa Uang

  • 21 Jul 2026 13:17 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Pembayaran cashless melalui QR code dan aplikasi mobile kini menjadi metode transaksi utama untuk berbagai aktivitas sehari-hari mulai dari membeli kopi, membayar parkir, hingga berbelanja kebutuhan bulanan.
  • Kemudahan akses pembayaran digital menciptakan pertanyaan serius tentang dampaknya terhadap perilaku pengeluaran konsumen apakah justru mendorong pola belanja yang lebih boros.
  • Fenomena pembayaran tanpa tunai ini mencerminkan perubahan signifikan dalam cara masyarakat mengelola keuangan pribadi di era transformasi digital.

RRI.CO.ID, Singaraja - Di era serba digital seperti sekarang, membayar apa pun terasa semakin mudah. Mulai dari membeli kopi, membayar parkir, hingga berbelanja kebutuhan bulanan, semuanya bisa dilakukan hanya dengan memindai kode QR atau menekan beberapa tombol di ponsel.

Kemudahan ini memang membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih praktis. Namun, di balik kenyamanan tersebut, banyak orang mulai bertanya-tanya, apakah sistem pembayaran cashless justru membuat kita lebih boros?

Jawabannya tidak selalu iya, tetapi ada alasan ilmiah mengapa sebagian orang cenderung mengeluarkan lebih banyak uang saat menggunakan metode pembayaran digital dibandingkan uang tunai.

Otak Tidak Merasakan "Sakit" Saat Membayar

Dalam psikologi konsumen terdapat istilah pain of paying, yaitu rasa tidak nyaman ketika seseorang mengeluarkan uang. Saat membayar menggunakan uang tunai, kita benar-benar melihat lembar demi lembar uang berpindah tangan. Proses ini membuat otak lebih sadar bahwa pengeluaran sedang terjadi.

Sebaliknya, ketika menggunakan dompet digital, kartu debit, atau QRIS, transaksi berlangsung dalam hitungan detik tanpa melihat uang secara fisik. Akibatnya, rasa kehilangan tersebut menjadi jauh lebih kecil sehingga kita lebih mudah mengambil keputusan untuk membeli sesuatu.

Transaksi Terasa Sangat Mudah

Kemudahan adalah salah satu keunggulan pembayaran digital. Namun, kemudahan juga dapat menjadi pemicu pembelian impulsif. Bayangkan ketika sedang membuka aplikasi belanja online. Hanya dengan beberapa kali klik, pembayaran langsung berhasil dilakukan. Tidak ada waktu untuk menghitung uang, mencari kembalian, atau berpikir ulang. Semakin sedikit hambatan dalam proses pembayaran, semakin besar kemungkinan seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Promo dan Cashback Sangat Menggoda

Siapa yang tidak tertarik dengan diskon atau cashback? Berbagai aplikasi pembayaran digital sering menawarkan promo menarik agar pengguna semakin aktif bertransaksi. Tanpa disadari, promo tersebut kadang membuat kita membeli sesuatu hanya karena sedang ada potongan harga.

Padahal, pengeluaran tetaplah pengeluaran. Membeli barang yang tidak direncanakan meskipun mendapat cashback tetap berarti mengeluarkan uang.

Sulit Menyadari Jumlah Pengeluaran

Saat membawa uang tunai, kita bisa langsung melihat sisa uang di dompet. Sebaliknya, ketika menggunakan pembayaran digital, saldo memang bisa dicek kapan saja, tetapi banyak orang jarang melakukannya. Akibatnya, transaksi kecil seperti membeli minuman, camilan, atau ongkos parkir terasa sepele. Padahal jika dijumlahkan dalam sebulan, nominalnya bisa cukup besar.

Fenomena ini sering disebut sebagai "kebocoran keuangan kecil", yaitu pengeluaran dengan nominal kecil yang terus berulang hingga akhirnya menghabiskan anggaran.

Bukan Cashless yang Salah

Penting untuk dipahami bahwa pembayaran cashless bukan penyebab utama seseorang menjadi boros. Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan adalah bagaimana seseorang mengelola kebiasaan finansialnya. Bagi orang yang memiliki anggaran bulanan, rutin mencatat pengeluaran, dan mampu menahan keinginan belanja impulsif, pembayaran digital justru sangat membantu karena seluruh riwayat transaksi tersimpan secara otomatis.

Sebaliknya, tanpa pengendalian diri, kemudahan transaksi bisa membuat pengeluaran menjadi tidak terasa.

Cara Tetap Hemat Meski Menggunakan Cashless

Agar pembayaran digital tetap menjadi alat yang memudahkan, bukan membuat boros, ada beberapa kebiasaan yang bisa diterapkan:

  • Tetapkan anggaran belanja setiap bulan.
  • Cek riwayat transaksi secara rutin.
  • Jangan mudah tergoda promo jika barangnya memang tidak dibutuhkan.
  • Gunakan fitur pengingat atau batas pengeluaran pada aplikasi keuangan.
  • Beri jeda beberapa menit sebelum membeli barang secara impulsif agar keputusan lebih rasional.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....