Rupiah Anjlok ke Rp17.500 per Dolar AS, Biaya Impor dan Harga Barang Berpotensi Naik

  • 13 Mei 2026 18:24 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Rupiah Melemah
  • Dolar Amerika
  • Ekonomi Indonesia
  • Harga Barang Naik
  • Impor
  • Inflasi
  • Bank Indonesia
  • MSCI
  • Harga Minyak
  • Investasi Asing

RRI.CO.ID, Singaraja - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa, 12 Mei 2026 diperkirakan akan memberikan dampak luas terhadap perekonomian nasional, mulai dari kenaikan biaya impor hingga potensi meningkatnya harga sejumlah barang di dalam negeri.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.45 WIB, rupiah berada di posisi Rp17.503 per dolar AS setelah melemah 89 poin atau sekitar 0,52 persen. Posisi ini menjadi level terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya tekanan global akibat menguatnya dolar AS. Sentimen pasar memburuk setelah harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran mulai memudar, sehingga memicu kenaikan harga minyak dunia.

Kenaikan harga minyak diperkirakan akan berdampak langsung terhadap biaya energi dan logistik. Di sisi lain, pelemahan rupiah membuat biaya impor bahan baku dan barang dari luar negeri menjadi lebih mahal.

Kondisi tersebut dinilai dapat memicu kenaikan harga sejumlah produk di pasar domestik, terutama barang elektronik, pangan impor, otomotif, hingga kebutuhan industri yang masih bergantung pada bahan baku luar negeri.

Selain itu, sentimen negatif dari pengumuman terbaru MSCI juga dinilai dapat mempengaruhi aliran investasi asing ke Indonesia. Jika tekanan di pasar keuangan terus berlanjut, maka volatilitas di pasar saham dan pasar mata uang diperkirakan masih akan tinggi.

Bagi masyarakat, pelemahan rupiah dapat berdampak pada meningkatnya biaya perjalanan luar negeri, biaya pendidikan internasional, serta cicilan atau kewajiban dalam mata uang dolar AS. Sementara bagi dunia usaha, terutama perusahaan yang memiliki utang dolar atau bergantung pada impor, tekanan biaya diperkirakan akan semakin besar.

Meski demikian, sejumlah pengamat menilai pemerintah dan Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui intervensi pasar, penguatan cadangan devisa, serta menjaga daya beli masyarakat.

Pelaku pasar kini menunggu respons lanjutan otoritas moneter dan kebijakan ekonomi pemerintah guna meredam gejolak nilai tukar serta menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....