Tak Cemas Menua, Asuransi Selalu Siaga Menjaga
- 20 Jul 2025 20:42 WIB
- Singaraja
KBRN, Singaraja: Ayunan cangkul itu membelah tanah basah dengan ritme yang pelan namun penuh keteguhan. Di tengah bentangan sawah yang mulai menghijau di wilayah utara Bali, seorang lelaki tua tampak sibuk menyiangi gulma. Di balik tubuhnya yang mulai bungkuk dan rambut yang memutih, semangat hidupnya justru semakin menyala. Ia adalah Gede Dana, seorang pensiunan pegawai negeri sipil yang memilih untuk menghabiskan masa pensiunnya dengan menjadi petani.
Gede Dana bersama istri saat berada di kampung halamanya, Desa Les, Buleleng, Bali. (Foto: RRI/Riska Desiandra).
Gede Dana bukan tokoh terkenal. Ia tak pernah tampil di layar televisi atau berbicara dalam forum-forum mewah. Namun, hidupnya mengandung pesan yang dalam tentang makna ketenangan, produktivitas, dan perencanaan hidup yang matang di masa tua. Di usianya yang menginjak 68 tahun, ketika banyak orang seusianya memilih diam di rumah atau sekadar duduk di beranda menanti hari berganti.
“Tanah ini tempat saya dibesarkan. Setelah pensiun, saya kembali ke sini, bukan karena terpaksa, tapi karena merasa damai,” Katanya.
Baginya, bertani bukan hanya aktivitas fisik. Lebih dari itu, bertani adalah bentuk meditasi, cara untuk terus merasa hidup dan berguna. Ia merasa bersyukur bisa tetap sehat, kuat, dan memiliki kesempatan untuk menyatu kembali dengan alam setelah puluhan tahun bekerja dalam sistem birokrasi yang penuh rutinitas.
Namun ada satu hal yang membuat masa tua Gede Dana tidak sekadar damai, tetapi juga aman: asuransi. Sejak masih aktif sebagai PNS, ia telah disiplin menyisihkan penghasilannya untuk membayar premi asuransi jiwa dan kesehatan. Kini, ia menuai manfaat dari kebijakan hidupnya sendiri. Selain menerima pensiun bulanan, ia juga memiliki perlindungan tambahan yang membuatnya merasa lebih tenang.
“ Saat Itu saya menyisihkan tidak banyak hanya 900 ribu perbulannya untuk membayar asriansi, Saya memang tidak lagi mengejar kekayaan, tapi saya ingin hidup tenang. Kalau terjadi apa-apa, setidaknya saya tidak merepotkan anak-anak,” katanya sambil membersihkan lumpur di ujung cangkul.” ujar Dana.
Kesadaran seperti ini belum menjadi kebiasaan banyak orang Indonesia, terutama mereka yang bekerja di sektor informal atau mereka yang menganggap asuransi sebagai beban tambahan, bukan investasi jangka panjang. Padahal, perlindungan finansial di masa tua adalah hak sekaligus tanggung jawab yang semestinya direncanakan sejak dini.
Pakar keuangan dari Financial Expert Indonesia, Ayyi Achmad Hidayah menyebutkan bahwa asuransi merupakan instrumen penting dalam sistem perlindungan diri terhadap risiko finansial yang tak terduga.
“Asuransi itu seperti sabuk pengaman. Kita tidak berharap kecelakaan, tapi kita tetap memakainya demi perlindungan. Sama halnya dengan asuransi, kita tidak tahu kapan sakit atau musibah datang, tapi kita bisa mengantisipasinya dengan perlindungan finansial,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan, bahwa memiliki asuransi adalah bentuk kasih sayang kepada diri sendiri dan keluarga. Dengan perlindungan yang tepat, seseorang tidak hanya menjaga dirinya sendiri, tetapi juga mencegah orang-orang terdekat dari tekanan ekonomi jika hal buruk terjadi.
Sementara itu, Fenomena meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asuransi tercermin dalam data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Per Mei 2025, OJK mencatat total aset industri asuransi di Indonesia mencapai Rp1.163,62 triliun, tumbuh 3,84 persen dibandingkan Mei 2024. Angka ini menunjukkan bahwa asuransi semakin dipercaya sebagai alat mitigasi risiko di tengah ketidakpastian ekonomi.
Segmen asuransi komersial bahkan menunjukkan pertumbuhan yang lebih signifikan, yakni 4,3 persen, dengan total aset mencapai Rp939,75 triliun. Selain itu, total pendapatan premi periode Januari hingga Mei 2025 mencapai Rp338,61 triliun—sebuah sinyal positif bahwa masyarakat mulai aktif berpartisipasi dalam sistem perlindungan finansial.

Data Otoritas Jasa Keuangan terkait Kinerja Insdustri Asuransi.
Namun, tidak semua segmen berjalan tanpa tantangan. Direktur PertaLife Insurance, Sigit Panilih, menyoroti bahwa segmen asuransi jiwa masih menghadapi tekanan, terutama dari gejolak ekonomi yang berdampak pada daya beli masyarakat.

Direktur PertaLife Insurance, Sigit Panilih.
“Asuransi jiwa menghadapi tantangan karena banyak orang masih menunda perlindungan. Daya beli yang melemah membuat orang cenderung fokus pada kebutuhan hari ini, bukan perlindungan masa depan,” Katanya.
Meski demikian, Sigit tetap optimistis. Menurutnya, industri asuransi terus berinovasi menghadirkan produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, termasuk dalam menyiapkan hari tua yang tenang. Salah satunya melalui program PPIP dari Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) PertaLife, yang memungkinkan masyarakat menyisihkan dana secara rutin untuk masa pensiun yang lebih aman.
Selain PPIP, PertaLife juga menawarkan Dana Kompensasi Pascakerja (DKP), yakni program pensiun yang disusun sesuai skema kompensasi karyawan. Program ini didesain untuk memberikan jaminan bahwa setelah pensiun, seorang pekerja tetap memiliki dana yang cukup untuk hidup layak, sesuai standar perusahaan tempat mereka bekerja.
Tak hanya itu, PertaLife juga menyediakan paket investasi edukatif yang bertujuan membantu masyarakat memahami pilihan-pilihan investasi yang aman, serta menyediakan perlindungan maksimal bagi aset-aset berharga perusahaan dan individu. Seluruh informasi mengenai perlindungan jiwa, program pensiun seperti PPIP, Dana Kompensasi Pascakerja (DKP), hingga berbagai pilihan investasi kini tersedia secara lengkap di aplikasi PLIFE. Aplikasi ini menjadi solusi digital dari PertaLife Insurance yang dirancang untuk memudahkan pengguna dalam merencanakan masa depan finansial secara lebih terarah dan transparan.
Gede Dana adalah representasi dari mimpi banyak orang. Hidup tenang di masa pensiun, tetap produktif, memiliki penghasilan tetap, serta terlindungi secara finansial. Ia tidak takut tua, karena ia sudah mempersiapkan diri. Ia tidak takut miskin, karena ia tahu bagaimana mengatur keuangan. Ia tidak merasa lemah, karena ia memilih untuk tetap bergerak.
Di sawah yang tenang, di antara suara burung dan desir angin pagi, ia tetap menggenggam kendali atas hidupnya. Ia tidak kaya raya, tapi ia tidak takut miskin. Ia tidak muda lagi, tapi ia tetap merasa kuat. Karena di balik caping dan cangkulnya, ada bekal perencanaan yang matang dan keputusan bijak yang ia ambil sejak dulu: melindungi diri dengan asuransi, agar saat senja datang, ia bisa menyambutnya dengan senyum.
Masa tua, katanya, bukan masa istirahat. Tapi masa panen atas semua keputusan yang kita ambil sejak muda.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....