Dari Palungan Tua, Desa Les Menapaki Wisata Berkelanjutan

  • 18 Nov 2025 22:19 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Terik matahari bagi sebagian orang adalah alasan untuk mencari teduh, namun tidak begitu bagi para petani garam di Pesisir Utara Bali. Mereka akrab dengan asin angin laut justru menjadikan panas sebagai sekutu. Di bawah langit tanpa awan, mereka membiarkan keringat mengalir bebas, sambil menebar air laut di atas hamparan tanah yang perlahan berubah menjadi cermin tipis penuh kristal.

Dari kejauhan, pemandangan itu seakan bergerak pelan seperti adegan film bisu, tubuh-tubuh membungkuk, gerakan ritme cangkul kayu, suara gesekan garukan yang memotong sunyi. Hingga tiba-tiba, pekikan seorang pria dari atas motor tuanya memecah suasana siang. Suaranya keras, lantang, membuat saya refleks menoleh dengan jantung sedikit terkejut. Sekilas terlintas di benak, apakah ada yang berselisih?

“Mare teke!” teriaknya kepada seorang petani yang sedang sibuk menggaruk tanah, seakan memberi aba-aba atau sekadar panggilan keseharian.

Logatnya terdengar berbeda kasar, pendek, dan tegas, jauh dari kelembutan dialek Bali halus yang sering saya dengar. Namun dari wajah para petani, tak satu pun tampak tersinggung, justru mereka menanggapinya dengan anggukan kecil, seolah itu bahasa yang akrab dan hangat. Itulah ciri khas tutur dari Desa Tua, Bali Mula di Desa Les, Buleleng.

Desa Les merupakan penghasil garam organik yang namanya telah melampaui batas pulau bahkan negara. Di tengah gempuran teknologi dan produksi massal, masyarakat di sini tetap setia pada cara-cara lama yang diwariskan turun-temurun. Mereka menyebutnya “ uyah palungan” proses pengolahan garam tradisional yang mengandalkan ketelitian, ketabahan, dan kesabaran yang seirama dengan ritme alam.

Uyah berarti garam, dan palungan adalah palung tempat menampung air laut yang telah disaring oleh pasir hitam khas pesisir Les. Di sanalah setiap tetes air asin dijemur hingga matahari menyulapnya menjadi kristal putih yang halus dan bercita rasa khas. Tidak ada mesin yang menderu, tidak ada pabrik yang mengepul. Yang ada hanya keterampilan tangan, panas yang menyengat kulit, dan dedikasi yang ditenun oleh generasi demi generasi.

Pandangan saya mengarah pada seorang petani garam di ujung ladang, yang asyik menggaruk tanah dengan topi berwana biru pudar yang menutupi sebagian wajahnya. Wayan Selamat, seorang pria berkulit legam, tubuhnya kurus namun kokoh, seperti batang-batang kelapa yang tumbuh di pesisir.

Wayan Selamat saat sedang menggemburkan tanah yang telah disiram air laut berkali kali. (Foto: RRI/Riska Desiandra).

Ia bercerita bahwa lebih dari 30 tahun hidupnya dihabiskan di bentangan ladang garam ini. Tradisi itu melekat sejak ia masih bocah.

“Saya sudah ikut ke ladang sejak umur lima tahun,” ujarnya sambil tersenyum, seolah mengenang masa kecilnya yang penuh rasa penasaran.

Ia tumbuh dengan pemandangan palungan, pasir hitam, dan cahaya matahari yang tak pernah absen dari profesi ini. Wayan Selamat memahami setiap tahapan membuat garam tradisional sebagaimana seseorang memahami denyut nadinya sendiri. Ia menjelaskan proses dimulai dari mengambil air laut, atau yang mereka sebut ngewayahang. Air itu kemudian disaring melalui tabung bambu sebelum dituangkan ke palungan batang kelapa yang telah dikeruk dalam dan dijajarkan rapi seperti rel-rel kecil di tepi pantai.

“Kalau matahari sedang bagus, cepat sekali mengkristalnya, Garamnya lebih putih dan lebih bersih,” katanya.

Garam yang dihasilkan dengan cara tradisonal ini memiliki cita rasa yang berbeda, maka dari itu tidak heran garam desa les bukan saja terkenal di lokal namun sudah dikirim ke jepang dan beberapa negara lainnya. Setiap musim kemarau, masyarakat Les dapat menghasilkan dua hingga tiga ton garam per panen bukti bahwa tradisi bisa tetap produktif di era modern.

Selain potensi garamnya, Desa Les juga menyimpan kekayaan alam yang tak kalah memikat. Terletak di Kecamatan Tejakula, Buleleng, desa ini berada di titik pertemuan pegunungan dan laut sebuah lanskap yang oleh warga setempat diyakini sebagai wujud nyata konsep nyegara gunung dalam filosofi Bali. Harmoni dua elemen alam itu terasa begitu kuat, seolah menjadi nadi yang menghidupkan aktivitas masyarakat sehari-hari.

Nyoman Nadiana, Ketua Pokdarwis Les, mengatakan keunikan geografis ini menjadi daya tarik utama desa.

“Desa Les berada di antara gunung dan laut. Itu yang membuat karakter wisatanya sangat kaya,” ujarnya.

Menurutnya, perpaduan dua bentang alam itu menciptakan pengalaman yang tidak ditemukan di banyak tempat lain di Bali.

Hingga pada tahun 2018, Desa Les mendapatkan dorongan ketika Astra hadir melalui Program Kampung Berseri Astra (KBA). Dukungan itu tidak hanya berfokus pada pengembangan potensi alam, tetapi juga memastikan keberlanjutan berjalan seiring dengan pelestarian budaya yang telah lama mengakar. Menurut Nyoman Nadiana, Ketua Pokdarwis Les, kolaborasi dengan Astra membuka banyak jalur baru bagi masyarakat.

Nyoman Nadiana Ketua Pokdarwis Desa Les saat sedang memaparkan materi dalam Roodshow Anugrah Pewarta Astra, di Balai serbaguna. (Foto: RRI/Riska).

“Melalui kerja sama ini, peluang ekonomi semakin terbuka lebar,” ujarnya.

Sementara itu, Lebih dari 10 pelatihan kewirausahaan telah digelar, mulai dari branding produk lokal, teknik pengemasan garam, pemasaran digital, hingga pengelolaan homestay. Astra juga menyediakan peralatan produksi garam yang lebih efisien, sekaligus membantu promosi melalui jaringan BUMDes agar produk garam Les menjangkau pasar yang lebih luas.

Tak berhenti di situ, Astra turut berperan dalam memperkuat infrastruktur wisata. Akses menuju Air Terjun Les diperbaiki, jalur trekking dirapikan, dan kapasitas pengelola homestay ditingkatkan agar warga mampu menyambut wisatawan dengan standar layanan yang baik tanpa mengorbankan ketenangan, keaslian, dan kebersihan desa.

Pengakuan atas kerja panjang Desa Les akhirnya tiba pada 2024. Setelah bertahun-tahun merawat keseimbangan antara budaya leluhur dan alam yang menjadi denyut kehidupannya, desa ini mencapai tonggak penting, Kampung Berseri Astra Les dinobatkan sebagai Juara Umum Desa Wisata Terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024.

Akademisi Fakultas Ekonomi (FE) Undiksha Singaraja I Putu Gede Parma, S.St. Par., M.Par. menyebut nyawa pariwisata Bali yang sesungguhnya terletak pada kearifan lokal, budaya leluhur, dan alam yang dijaga dengan sepenuh hati.

Akademisi Fakultas Ekonomi (FE) Undiksha Singaraja I Putu Gede Parma, S.St. Par., M.Par.

“Wisatawan ma uke Bali ya Karena Kearifan local, budaya dan alam, maka nafas keberlanjutan seperti contohnya di Desa Les itu harus diduplikasi di semua desa di Bali,” ujarnya.

Menurutnya, spirit keberlanjutan yang diterapkan Desa Les adalah contoh nyata model pembangunan pariwisata yang mesti ditiru oleh desa-desa lain di Bali.

Parma meyakini keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan, tetapi dari seberapa baik manusia menjaga hubungan yang harmonis dengan alam dan Tuhannya, sebuah prinsip yang selaras dengan konsep Tri Hita Karana, pondasi filosofi masyarakat Bali. Di Desa Les, harmoni itu tampak dari cara warga merawat laut, menjaga tebing dan hutan, hingga mempertahankan tradisi yang menjadi identitas.

Semangat itu sejalan dengan konsep Kampung Berseri Astra (KBA) Les, yang mengusung kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat untuk membangun ekonomi berbasis alam dan budaya tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan. Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Djony Bunarto Tjondro, menegaskan sinergi seperti ini adalah bentuk komitmen perusahaan terhadap pembangunan yang berimbang, kolaborasi yang menghormati tradisi, memberdayakan masyarakat, dan menjaga lingkungan bagi generasi mendatang

“Kemajuan ekonomi seharusnya tidak bertentangan dengan pelestarian budaya dan lingkungan. Di Kampung Berseri Astra Les, kami berupaya menciptakan keseimbangan antara produktivitas dan kelestarian, agar manfaatnya dapat dirasakan lintas generasi,” ujar Djony.

Kini, lewat kolaborasi yang terjaga dan kesetiaan warga pada akar tradisi, Desa Les bukan lagi desa tua yang terlupakan, melainkan panggung kehidupan yang kembali berdenyut, tempat garam tak lagi mengering bersama kecemasan petaninya, dan potensi wisata tak lagi takut terkikis modernisasi.

Di sini, masa depan justru tumbuh dari jejak masa lalu, menjadikan Desa Les bukti ketika alam, budaya, dan manusia berjalan seirama, sebuah desa bisa lebih berseri dari sebelumnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....