Sejarah Singkat Mengenai Pura Tirta Sudhamala Buleleng

  • 07 Apr 2025 11:36 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Pura Sudhamala merupakan salah satu pura yang cukup terkenal di Kabupaten Buleleng. Pura ini dikenal sebagai pura penglukatan.

Air atau tirta yang didapat disana berasal dari pancoran Sudhamala. Tirta tersebut dipercaya memiliki banyak khasiat sebagai tirta pengobatan.

Namun tahukah anda ada sejarah singkat mengenai Pura Tirta Sudhamala? Berikut informasi yang di rangkum dari berbagai sumber.

Diawali sekitar abad ke 18, terjadi ledakan air dahsyat di tebing subak Banyumala. Ledakan air tersebut menghasilkan kucuran air yang kemudian oleh warga Banyumala dipendak atau di sebarkan kepada seluruh warga dengan tujuan pembersihan dan pengelukatan.

Air tersebut juga digunakan untuk pembersihan tukad Banyumala. Zaman pemerintahan Ki Barak Panji Sakti di Buleleng, tukad Banyumala berkedudukan sebagai benteng Buleleng Barat dan tukad Buleleng di Banyuning sebagai benteng Buleleng Timur.

Pada bulan Mei 2007 dibuatkan pancoran kucuran, yang diberi nama Pancoran Sudhamala. Pada tanggal 21 September 2007, pembangunan pancoran itu selesai dan dilanjutkan dengan membangun Pura Sudhamala.

Pembangunan Pura ini mengembangkan konsep Tri Mandala yaitu Mandala Utama, Mandala Madya, dan Mandala Nista. Bagian Mandala Utama yaitu tempat tukad Banyumala dan pancoran Sudhamala serta terdapat pelinggih suci bernama Dewa Ayu Manik Sudhamala.

Bagian Mandala Madya yaitu tempat persembahyangan dan ngaturang banten oleh para pemedek, bale pesandekan, serta terdapat pelinggih suci yang bernama Dewa Taksu Manik Giri. Bagian Mandala Nista yaitu tempat parkir para pengunjung atau pemedek, yang ditempatkan di areal luar pura.

Berdasarkan arti dari kamus, Sudhamala berarti pengobatan, sehingga Pura Tirta Sudhamala berarti pura air pengobatan. Dalam konteks agama, Sudhamala berarti pemarisudha, penglukatan dan peleburan.

Fungsi dari Tirta Sudhamala tersebut digunakan yaitu untuk mengobati orang yang terkena penyakit karena ilmu hitam, orang kurang waras, serta wanita atau ibu yang sedang hamil. Prosesi pembersihannya dinamakan melukat dimana yang dilukat adalah buana alit atau diri kita sendiri dan buana agung adalah lingkungan di sekitar kita dan tempat kita tinggal.

Tujuan melukat adalah untuk menghilangkan aura-aura negatif yang ada pada tubuh dan sekeliling diri manusia. Salah satu terapi penglukatan di Pura Sudamala adalah semedi kumkum, yaitu dengan berendam selama satu hari satu malam di tukad banyumala.

Terapi ini biasanya dilakukan oleh orang-orang tua atau dewasa yang bertujuan untuk membersihkan aura-aura negatif dari dalam tubuh. Semadi kum-kum ini sudah berada pada tingkat atau level atas, karena tidak sembarang orang bisa melakukan semadi ini.

Hanya orang-orang yang bersungguh-sungguh serta memiliki daya tahan tubuh kuat yang dapat melaksanakan semadi ini. Tirta Sudhamala selain dipakai untuk melukat juga dapat dipakai untuk minum dan sudah di uji kesuciannya oleh lintas agama.

Berbagai corak agama sudah pernah mengunjungi Pura Tirta Sudhamala dan membuktikan kekhasiatan Tirta Sudhamala. Adapun waktu piodalan Pura Tirta Sudhamala yaitu bertepatan pada Anggar Kasih Wuku Prangbakat.

Hari-hari yang sering di kunjungi oleh para pemedek yaitu pada saat Banyu Pinaruh, Purnama, Kajeng Kliwon, dan Siwaratri. Khusus saat Kajeng Kliwon banyak pemedek yang tangkil dan melaksanakan pemelukatan.

Hal itu disebabkan karena pada Kajeng Kliwon merupakan hari baik untuk memusnakan pengaruh-pengaruh ilmu hitam. Para pemedek yang tangkil ke Pura Tirta Sudhamala bukan saja dari daerah kabupaten Buleleng melainkan juga dari luar daerah kabupaten Buleleng seperti Kabupaten Klungkung, kabupaten Badung, kabupaten Jembrana dan bahkan dari Lampung.

Pamong Pura Tirta Sudhamala yaitu para pengempon desa adat yang terdiri atas Kelian Desa Adat Pakraman Banyuasri dan para pemangku yang bertugas di pura tersebut. Pura Tirta Sudhamala memiliki 5 pemangku yang bertugas untuk ngantebang banten serta melayani proses penglukatan para pemedek.

Selain itu adapula 2 pemangku Jro Gde yang bertugas sebagai pembersih pura. Kelima pemangku tersebut dipimpin oleh Jero Mangku Sudhamala yang bernama Jero Mangku Gede Fery Hariawan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....