Tak Hanya Mistis, Ini Alasan Daun Beringin Jadi Sarana Wajib Upacara Besar di Bali
- 21 Sep 2026 14:33 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Pohon beringin (Nyagrodha) menempati posisi sentral dalam struktur spiritual, pengobatan tradisional (usada), hingga pelaksanaan upacara sakral berskala besar di Bali. Secara teologis, seluruh anatomi pohon beringin dipandang sebagai perwujudan dari tiga kekuatan utama alam semesta atau Trimurti. Berdasarkan sumber-sumber sastra agama Hindu, bagian kulit kayu beringin diyakini sebagai simbol Dewa Wisnu (pemelihara), akar kokohnya melambangkan Dewa Brahma (pencipta), sedangkan cabang dan rantingnya representasi dari Dewa Siwa (pelebur).
Melalui kajian spiritual yang disiarkan di platform digital Yudha Triguna Channel, Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S., mengupas tuntas mengenai "Esensi Daun Beringin Dalam Ritual Hindu". Pemanfaatan beringin mencakup upacara berskala kecil hingga puncak ritus penyucian roh.
"Pemanfaatan daun beringin sangat penting dalam berbagai ritual, mulai dari upacara caru, membangun Sanggah Surya, hingga upacara memukur atau maligia. Upacara besar seperti Maligia tidak mungkin tidak menggunakan daun beringin," demikian diuraikan dalam dokumentasi Yudha Triguna Channel.
Selain untuk kepentingan sarana banten dan perlengkapan ritus, pohon beringin memegang peranan krusial dalam tradisi medis herbal atau konsep usada Bali. Kedekatan masyarakat Hindu dengan beringin juga berakar dari aspek kesehatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.
Merujuk pada Lontar Taru Pramana, beringin merupakan pohon bertuah unik yang menyimpan unsur panas dan dingin sekaligus. Bagian daunnya yang hijau tua bersifat panas dan berkhasiat mengobati penyakit karena pemalinan. Dalam pengobatan tradisional, daun ini diracik bersama adas lalu disemburkan ke bagian tubuh yang sakit.
Sebaliknya, bagian akar beringin bersifat sejuk atau dingin dan digunakan untuk menyembuhkan infeksi saluran kencing. Akar tersebut diolah menjadi ramuan obat dengan campuran bawang dan mesui. Selain itu, bagian akar gantung (bangsing) serta kulit kayunya juga terbukti secara empiris dapat diolah sebagai bahan herbal penyembuhan.
Di Bali, pohon beringin yang tumbuh di dekat pura atau tempat keramat sering kali dibungkus kain poleng (kotak-kotak hitam-putih) sebagai simbol penghormatan karena dianggap memiliki kekuatan spiritual yang menjaga keharmonisan alam. Melalui pemahaman ini, para leluhur Hindu melestarikan pohon beringin bukan atas dasar takhayul spiritual semata, melainkan karena kesadaran penuh akan fungsi ekologisnya sebagai penyimpan cadangan air bumi, perlindungan alamiah, serta apotek hidup bagi umat manusia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....