Lomba Berbasis Tradisi, Disbudpar Buleleng Bidik Regenerasi Seniman Muda

  • 17 Sep 2026 07:26 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng menggelar lomba tradisi budaya Bali yang fokus pada pembuatan wayang dan prasi pada Rabu, 16 September 2026.
  • Kegiatan melibatkan pemuda-pemudi perwakilan dari sembilan kecamatan di Buleleng dan dilaksanakan di Wantilan Sasana Budaya serta Museum Gedong Kirtya.

RRI.CO.ID, Singaraja - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Buleleng kembali menggelar lomba berbasis tradisi dan budaya masyarakat Bali dengan fokus pada dua kategori, yakni pembuatan wayang dan prasi. Kegiatan yang berlangsung di Wantilan Sasana Budaya dan lingkungan Museum Gedong Kirtya, Rabu, 16 September 2026, diikuti pemuda-pemudi perwakilan dari sembilan kecamatan di Buleleng.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng I Nyoman Wisandika mengatakan, pelaksanaan tahun ini dikemas lebih sederhana dibandingkan tahun sebelumnya. Dari empat hingga lima kategori lomba, tahun ini pihaknya memfokuskan kegiatan pada pembuatan wayang dan prasi sebagai upaya menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus mendorong minat generasi muda.

"Lebih sederhana ya, kalau kemarin tahun lalu kita mungkin ada empat lomba, lima lomba. Nah, sekarang ada dua lomba yaitu membuat wayang dan prasi," ujar Wisandika.

Untuk lomba pembuatan wayang, peserta mengangkat lakon Sahadewa. Menurut Wisandika, tokoh tersebut menjadi bagian terakhir dari rangkaian kisah pewayangan yang sebelumnya telah diangkat secara bertahap melalui perlombaan pembuatan wayang tokoh Yudhistira, Bima, Arjuna dan Nakula.

"Karena kemarin kan Yudhistira sudah, Bima sudah, Arjuna sudah, Nakula sudah, sekarang Sahadewanya. Jadi ini episode terakhir dari membuat wayang," ucapnya.

Sementara itu, kategori prasi mengangkat tema Sutasoma. Peserta lomba wayang maupun prasi diberikan waktu pengerjaan selama lima jam. Kompetisi tersebut menyasar kelompok usia 15 hingga 25 tahun dan melibatkan peserta dari berbagai latar belakang, termasuk pelajar sekolah menengah.

Wisandika mengakui regenerasi seniman pembuat wayang dan prasi masih menghadapi tantangan karena minat generasi muda terhadap kedua seni tradisi tersebut relatif terbatas. Karena itu, kompetisi menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan sekaligus menumbuhkan ketertarikan generasi muda terhadap warisan budaya Bali.

"Terutama prasi itu kan cerita bergambar, cerita di atas lontar, itu memang agak susah," katanya.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buleleng berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan pembinaan di masing-masing kecamatan. Dengan demikian, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman melalui kompetisi, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan menjadi bagian dari regenerasi seniman tradisi di Buleleng.

"Harapan kita seperti itu. Karena kita tahu sedikit sekali generasi muda yang berminat untuk membuat wayang dan prasi," ujar Wisandika.

Hasil lomba pembuatan wayang menempatkan Kecamatan Buleleng sebagai juara pertama, disusul Kecamatan Gerokgak sebagai juara kedua dan Kecamatan Seririt sebagai juara ketiga. Sementara lomba prasi dimenangkan Kecamatan Kubutambahan, juara kedua Kecamatan Buleleng, dan juara ketiga Kecamatan Banjar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....