Keunikan Pola dan Struktur Pementasan Topeng Dalem Sidhakarya di Buleleng

  • 16 Sep 2026 15:08 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Pementasan Topeng Dalem Sidhakarya di Kabupaten Buleleng memiliki pola dan struktur unik yang membedakannya dengan daerah lain di Bali. Kesenian sakral ini menjadi unsur penting yang wajib ada sebagai penutup ritual Dewa Yajna di wilayah tersebut. Keunikan ini dikupas dalam sebuah artikel ilmiah hasil kolaborasi akademisi dari perguruan tinggi keagamaan Hindu di Bali.

Studi mendalam ini dipublikasikan oleh tim peneliti yang terdiri dari Nyoman Suardika dari IAHN Mpu Kuturan Singaraja, bersama I Gusti Ngurah Sudiana dan I Nengah Lestawi dari Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa. Hasil riset mereka dirilis dalam Edukasi: Jurnal Pendidikan Dasar (Vol. 5 No. 2, Tahun 2024). Melalui pendekatan kualitatif etnografis, para peneliti berhasil memetakan variasi tradisi pementasan yang hidup di tengah masyarakat Buleleng.

Para peneliti mengungkapkan bahwa keunikan paling mencolok terletak pada waktu pementasan. Di Buleleng, tari sakral ini dipentaskan pada tahap penyineban (penutup upacara) setelah seluruh umat selesai melaksanakan persembahyangan bersama. Hal ini berbeda dengan daerah lain di Bali yang umumnya mementaskannya bersamaan dengan inti ritual keagamaan saat sulinggih sedang memuja.

Nyoman Suardika dan tim menjelaskan makna filosofis di balik nama tarian ini berdasarkan literatur tradisi. "Kata 'Sidhakarya' terbentuk dari dua buah kata, yaitu 'Sida' yang berarti berhasil atau sukses, dan 'Karya' yang berarti pekerjaan," tulis para peneliti dalam jurnal Edukasi. Pementasan ini dipercaya secara psikologis memberikan perlindungan dan menyempurnakan upacara yajna agar berjalan sukses tanpa hambatan.

Dari segi struktur karakter, Buleleng memiliki pakem yang khas pada babak pendahuluan pertunjukan. Pementasan di wilayah ini tidak menampilkan karakter Topeng Dalem, Utusan, dan Brahmana. Penonton hanya akan disuguhkan penampilan dari karakter Topeng Tua, Topeng Keras, dan Topeng Bujuh sebagai pembuka ritual.

Setelah babak pendahuluan, pementasan berlanjut ke babak Penasar yang memadukan karakter Punta dan Kartala dengan tokoh Bondres. Kehadiran tokoh-tokoh pendamping ini sangat dinanti oleh masyarakat luas. Mereka berfungsi memberikan hiburan segar sekaligus menyampaikan edukasi social religius dan nilai-nilai ajaran agama Hindu secara humoris.

Menjadi seorang pragina atau penari Topeng Sidhakarya bukanlah perkara mudah dan membutuhkan kesiapan matang. Penari wajib melewati penyucian spiritual melalui prosesi Pawintenan Dasa Guna untuk membentengi diri. "Kesiapan mental dan rohani mutlak diperlukan sebab pementasan tari topeng Sidhakarya ini berhubungan dengan kekuatan yang gaib, mistis, dan spiritual," ungkap peneliti dalam laporannya.

Keunikan terakhir terletak pada kesederhanaan sarana upakara yang digunakan di tempat pementasan. Pementasan di Buleleng secara esensial hanya mewajibkan banten Pejati, Sayut Sidhakarya, Segehan, dan Sekarura. Ritual kemudian ditutup dengan penaburan Sekarura ke lima arah mata angin serta pemercikan tirta kepada umat sebagai simbol sah dan suksesnya upacara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....