Penyuluh Hindu Ingatkan Saring Informasi AI

  • 12 Sep 2026 18:24 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Kemudahan mendapatkan informasi melalui kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa tantangan baru bagi masyarakat. Tidak semua informasi yang dihasilkan teknologi tersebut dapat langsung dipercaya, sehingga kemampuan berpikir kritis dan wiweka menjadi semakin penting.

Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Wahyanti, S.Sos., mengingatkan masyarakat untuk melakukan verifikasi sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi yang diperoleh melalui AI.

Menurutnya, hal tersebut sangat penting ketika masyarakat mencari informasi yang berkaitan dengan ajaran agama. AI bekerja berdasarkan data dan algoritma, sehingga informasi yang ditampilkan belum tentu sesuai dengan sumber ajaran yang sebenarnya.

“Tipsnya itu adalah saring sebelum sharing,” ujar Wahyanti.

Ia mencontohkan, informasi keagamaan yang dihasilkan AI terkadang dapat mencantumkan kutipan sloka, nomor sloka, maupun sumber sastra yang tidak sesuai. Karena itu, informasi tersebut perlu diperiksa kembali melalui sumber yang terpercaya.

Wahyanti menyarankan masyarakat melakukan cek dan recheck terhadap informasi yang diterima. Jika diperlukan, informasi dapat dibandingkan dengan sumber tertulis atau dikonsultasikan kepada tokoh agama sebelum dibagikan kepada orang lain.

Menurutnya, penggunaan AI perlu dilandasi dharma, etika, tanggung jawab, dan kesadaran pengguna. Teknologi semestinya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan, membantu sesama, memperluas pengetahuan, serta mendukung kebaikan.

“AI ini sebaiknya digunakan untuk meningkatkan kualitas kehidupan, membantu sesama dan memperluas pengetahuan dan mendukung kebaikan, bukan untuk merugikan atau menyesatkan orang lain,” ungkap Luh Reni.

Dalam dialog tersebut juga ditekankan pentingnya penerapan konsep Tri Kaya Parisudha, yakni berpikir, berkata, dan berbuat yang baik. Nilai tersebut dinilai tetap relevan diterapkan dalam penggunaan AI maupun aktivitas di ruang digital.

Wahyanti menegaskan, kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir. Sebaliknya, kecerdasan manusia harus terus diasah agar mampu menjadi pengendali teknologi.

Melalui penguatan wiweka, masyarakat diharapkan mampu menggunakan AI secara lebih bijaksana, kritis, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, kemajuan teknologi dapat menjadi sarana yang memberikan manfaat tanpa mengabaikan nilai dharma dan etika dalam kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....