Program Menggambar Luka Bantu Pulihkan Kesejahteraan Emosional Dewasa Muda
- 01 Sep 2026 09:28 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Program Menggambar Luka menggunakan Terapi Seni Rerajahan Usada Buduh sebagai solusi kesehatan mental berbasis budaya lokal Bali yang berhasil meningkatkan kesejahteraan emosional pemuda.
- Sebanyak 13 dari 32 anggota Sekaa Teruna-Teruni (40,6%) mengalami kesejahteraan emosional rendah akibat konflik sosial berulang yang menciptakan kecemasan dan isolasi sosial.
- Program pengabdian mahasiswa Undiksha ini tidak hanya berdampak pada peserta langsung tetapi juga mengubah persepsi keluarga terhadap pentingnya ruang aman bagi ekspresi emosional pemuda di komunitas adat.
RRI.CO.ID, Singaraja - Desa Adat Bugbug, Karangasem — Program “Menggambar Luka” merupakan bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang dilaksanakan oleh tim mahasiswa Undiksha bersama mitra STT Banjar Adat Puseh, Desa Adat Bugbug. Program ini menjadi bentuk pengabdian mahasiswa dalam menghadirkan solusi berbasis budaya terhadap persoalan kesejahteraan emosional pemuda. Program “Menggambar Luka” melalui Terapi Seni Rerajahan Usada Buduh berhasil meningkatkan kesejahteraan emosional 13 anggota Sekaa Teruna-Teruni (STT) Banjar Adat Puseh, Desa Adat Bugbug, Karangasem, setelah sebelumnya teridentifikasi mengalami kesejahteraan emosional rendah. Program yang dilaksanakan pada Juni hingga Agustus 2026 tersebut hadir sebagai respons terhadap persoalan konflik sosial yang berulang di lingkungan mitra. Konflik tersebut sebelumnya memicu kecemasan saat mengikuti kegiatan adat, anggota yang merantau enggan untuk pulang karena takut terjadi konflik, menurunnya partisipasi dalam kegiatan organisasi, serta belum tersedianya akses layanan kesehatan mental. Hasil skrining awal menunjukkan 13 dari 32 anggota atau 40,6% mengalami kesejahteraan emosional rendah.
Kondisi tersebut juga dirasakan oleh keluarga para anggota STT. Salah seorang warga inisial N.S menceritakan perubahan perilaku anak-anak di tengah situasi konflik yang terjadi. “Anak-anak kami berubah drastis. Mereka menjadi lebih pendiam, sering menyendiri, dan takut keluar rumah setiap kali ada kegiatan adat,” ujar N.S. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi keberanian anak-anak untuk beraktivitas di lingkungan sosial, tetapi juga membuat keluarga merasa khawatir terhadap keadaan emosional mereka. Cerita dari para orang tua tersebut semakin memperkuat kebutuhan akan adanya ruang aman bagi pemuda untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman yang mereka alami.
Program “Menggambar Luka” mengintegrasikan terapi seni modern dengan kearifan lokal Bali melalui Usada Buduh dan seni Rerajahan. Rangkaian kegiatan dilakukan melalui lima tahapan, yaitu Menyapa Luka, Meracik Rasa, Menelisik Makna, Menguatkan Jiwa, dan Menemukan Hati yang Pulih. Setiap tahap dirancang untuk membantu peserta mengenali emosi, menuangkan pengalaman melalui gambar, menemukan makna, hingga mencapai penerimaan diri. Pelaksanaan program diawali dengan sosialisasi dan pengukuran kondisi awal pada 13 Juni 2026. Selanjutnya, pelatihan berlangsung dari 15 Juni hingga 9 Agustus 2026. Peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan rata-rata kehadiran mencapai 100%. Program kemudian dilanjutkan dengan pendampingan bagi tiga kader kesehatan jiwa sebaya pada 15 dan 22 Agustus 2026.
Hasil evaluasi menunjukkan perubahan positif. Sebanyak 11 peserta atau 84,6% berada pada kategori afek positif tinggi, sementara dua peserta atau 15,4% berada pada kategori sedang. Hasil pengukuran WHO-5 juga menunjukkan seluruh peserta berada dalam kategori kesejahteraan tinggi, dengan tujuh peserta memperoleh skor 25 dan enam peserta memperoleh skor 24. Kondisi fisiologis peserta turut membaik dengan tekanan darah dan detak jantung berada dalam rentang normal. Selain perubahan emosional dan fisiologis, program ini turut mendorong peserta menjadi lebih tenang, percaya diri, dan berani kembali berpartisipasi dalam kegiatan adat. Program juga menghasilkan tiga kader kesehatan jiwa sebaya yang telah mendapatkan pelatihan mengenai keterampilan mendengarkan aktif, validasi emosi, pendampingan sebaya, serta penggunaan buku pedoman mitra.
Keberlanjutan program telah diperkuat melalui komitmen STT Banjar Adat Puseh untuk mengintegrasikan “Menggambar Luka” ke dalam program kerja tahunan. Buku Pedoman Mitra juga telah diserahkan sebagai panduan pelaksanaan, sementara monitoring berkala dirancang untuk memastikan program dapat terus berjalan secara mandiri. Melalui perpaduan Terapi Seni, Usada Buduh, dan Rerajahan, “Menggambar Luka” tidak hanya menjadi ruang bagi pemuda untuk mengekspresikan emosi, tetapi juga menjadi upaya menjaga kearifan lokal sekaligus membangun ketahanan mental generasi muda. Program ini berpotensi dikembangkan sebagai model intervensi kesehatan mental berbasis budaya yang dapat diterapkan di wilayah lain yang menghadapi persoalan serupa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....