Bukan Sekadar Mitos, Ini Rahasia Pagar Spiritual Kayu Tulak dan Kayu Sisih

  • 26 Agt 2026 15:25 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Kayu Tulak dan Kayu Sisih tidak hanya berfungsi sebagai tanaman hias, kedua jenis vegetasi ini memegang peranan penting dalam konsep arsitektur tradisional dan sistem pengobatan Bali kuno.

Masyarakat adat di Bali secara turun-temurun mengintegrasikan Kayu Tulak (Schefflera elliptica) dan Kayu Sisih (Phyllanthus buxifolius) ke dalam tata ruang pekarangan rumah. Penempatannya diatur sedemikian rupa di sekitar pintu masuk utama atau angkul-angkul rumah tinggal. Berdasarkan konsep penataan ruang, keduanya bertindak sebagai tameng spiritual bagi para penghuni rumah.

Peran penting kedua tanaman ini tersurat dalam Lontar Taru Pramana. Dalam lontar tersebut, tumbuh-tumbuhan dikisahkan dapat berbicara dan menyampaikan khasiat medisnya sendiri. Kayu Tulak yang berkarakteristik hangat dan tawar berfungsi untuk menolak (nundung) penyakit serta kesialan. Daunnya bisa ditumbuk menjadi boreh (balur) untuk mengobati demam, masuk angin, hingga menangkal gangguan non-fisik (sengkala/desti).

Sebaliknya, Kayu Sisih yang bersifat sejuk berfungsi sebagai pemisah (nyisihang) unsur penyakit. Dengan memanfaatkan lumatan daun atau kulit batangnya, berfungsi untuk menyembuhkan luka luar, memar, dan bisul, sekaligus membersihkan aura buruk tubuh dari rasa gelisah. Selain itu, kedua tanaman ini sering dijumpai sebagai sarana upakara atau sesajen pembersihan diri seperti Byakala dan Pangulapan.

Menariknya, khasiat yang tertulis dalam lontar kuno tersebut kini mulai terbukti secara ilmiah melalui berbagai penelitian laboratorium. Ranah medis modern menemukan bahwa kandungan kimia dari kedua tanaman ini memiliki senyawa aktif yang tinggi. Berbagai riset farmasi mulai mengisolasi ekstrak daunnya untuk kepentingan klinis.

Berdasarkan jurnal ilmiah Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Tulak, Schefflera elliptica terbukti memiliki kandungan saponin, tanin, fenol dan alkaloid. Senyawa-senyawa aktif tersebut menunjukkan aktivitas antibakteri yang kuat melawan patogen merugikan seperti Staphylococcus aureus.

Di sisi lain, Kayu Sisih atau pohon seligi juga menunjukkan aktivitas antiinflamasi yang signifikan. Masyarakat Bali sejak lama menumbuk daun seligi untuk meredakan bengkak, memar, hingga keseleo pada otot. Kemampuan ini memperkuat alasan mengapa leluhur Bali menempatkannya sebagai tanaman obat yang wajib ada di pekarangan.

Keberadaan Kayu Tulak dan Kayu Sisih di pekarangan rumah bukan lagi sekadar pelengkap tanaman hias atau mitos semata, melainkan apotek hidup yang bernilai tinggi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....