Bukan Sekadar Pelengkap Banten, Ini Filosofi Tebu dalam Upacara Yadnya

  • 26 Jul 2026 20:57 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Dalam sarana upacara agama Hindu di Bali, tebu tidak sekadar menjadi pelengkap. Lebih dari itu, tebu menyimpan makna filosofi tentang kehidupan dan perjuangan manusia.

Tebu yang sering digunakan yaitu: Tebu Ratu/ Tebu Merah (Tebu Ireng) yang memiliki ruas berwarna kehitaman/ungu tua. Sering dipakai untuk ritual pembersihan (pengelukatan) dan Bhuta yadnya dan Tebu Hijau/ Tebu Biasa digunakan sebagai pelengkap banten harian atau gebogan.

Tebu yang paling sering dan secara khusus digunakan sebagai bahan obat tradisional (usadha) adalah Tebu Hitam atau Tebu Merah yang dalam masyarakat Jawa dan Bali dikenal sebagai Tebu Ireng atau Tebu Tiwu.

Berdasarkan pembahasan dalam buku Makna Upacara Yajña dalam Agama Hindu karya I Ketut Wiana (terbitan Pāramita, 2001), tebu diletakkan di bawah Sampian Ura Sari bersama dengan pisang, kekiping, dan sarana lainnya. Dalam teks keagamaan Lontar Taru Premāṇa, tebu dijadikan lambang pemujaan kepada Dewa Brahma.

Secara etimologi bahasa Sansekerta, kata Brahma berasal dari kata Bṛh yang bermakna tumbuh atau tercipta. Karakteristik tebu yang tumbuh beruas-ruas melambangkan tahapan kehidupan yang harus dijalani secara bertahap, terencana, dan tidak terburu-buru demi mencapai kesejahteraan.

"Segala sesuatu harus direncanakan dengan baik, rasional, dan matang. Apa lagi masalah mengabdi pada Hyang Widhi dan Dharma, suatu perjuangan hidup yang tidak mudah dan panjang. Ia harus direncanakan dengan baik," tulis I Ketut Wiana dalam bukunya.

Melalui keberadaan tebu dalam berbagai ritual sarana Yajña, umat Hindu diajak untuk senantiasa menyadari bahwa setiap keberhasilan dalam hidup merupakan hasil dari perjuangan yang terencana, sabar, serta berlandaskan nilai-nilai kebenaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....